Kamis, 07 Agustus 2014

My Bestfriend My Everlasting

Sore itu aku, sewaktu aku di kamar mandi, ibu berteriak memanggil namaku. Selesai mandi, aku menemui tamu yang sedari tadi menungguku. Aku tak tahu siapa dia sampai akhirnya aku menemuinya di ruang tamuku. Seorang anak laki-laki, seumuran denganku, bersama kedua orang tuanya. Setelah bersalaman, aku duduk di samping ibuku yang sedang asyik berbicara dengan orang tua anak laki-laki itu.
Seiring perlahan kutatap muka anak itu. Matanya terasa familiar, tapi wajah dan postur tubuhnya sangat susah kuingat. Siapa dia. Dia tertawa kecil melihatku penasaran dengan sosoknya. Aku diam saja sampai akhirnya dia menyebutkan namanya. Demi Tuhan rasanya aku ingin menampar mukaku sendiri. Apakah aku mimpi! Dia adalah kawan lamaku yang sudah lama tak bertemu denganku, sekitar tujuh tahun lamanya. Pantas saja matanya terasa tidak asing bagiku. Demi Tuhan dia telah berubah 360 derajat. Dulu, sewaktu masih kecil dan kami sering main bersama, dia bukanlah laki-laki yang mempunyai paras tampan, atau postur tubuh yang tinggi dan ramping seperti itu. Jelas saja jika aku tak mengenalinya. Lama kami bertukar cerita setelah sekian lamanya tidak bermain bersama karena dia sudah pindah rumah mengikuti Papanya yang pindah dinas di luar kota. Yang kutahu dari ceritanya, sekarang dia sudah kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Aku masih tidak percaya bahwa sosok di hadapanku saat ini adalah dia teman kecilku dulu. Beda sekali. Dulu dia gendut sekali dan sekarang rasanya tidak ada secuil lemak pun dalam tubuhnya. Perfect body!
Selama hampir tiga jam kami mengobrol, akhirnya aku percaya bahwa hanya fisiknya yang berubah, tapi sifat dan sikapnya tidak sama sekali. Mungkin bedanya, dia sedikit dewasa sekarang. Kami pun bertukar nomor telepon. Dua hari kemudian dia mengirimiku pesan singkat. 
Him : Hey, tante!
Aku bingung, siapa yang berani-beraninya mengirimiku sms seperti itu. Aku diam saja, tak kubalas pesan singkat itu.
Him : Ini aku, prince charming
Rasanya pengen muntah aku melihat pesan itu. Dari caranya mengirimiku pesan, aku tahu kalau itu adalah dia, teman kecilku. Sejak itu, dan sampai sekarang pun kami sering smsan, dan bahkan sesekali dia menelponku. Aku senang sekali akhirnya kembali bertemu dengan kawan lama yang selama ini selalu menemaniku bermain kemanapun, kapanpun dan bermain apapun.

"Tak ada yang bisa memisahkan pertemanan, sekalipun itu waktu. Karena pertemanan tidak akan lekang oleh ruang dan waktu" - Mina Effendy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar