Jumat, 04 Desember 2015

Tentang Cinta


Dan sekarang benar-benar tak ada yang bisa kulakukan untuk kita. Aku menyerah. Detik ini juga aku menyerah. Aku tak ingin lagi menjalin kasih denganmu. Aku tak ingin lagi berjalan di atas duri. Pergilah, aku sudah merelakanmu. Hatiku sudah melepaskanmu untuk selamanya. Entahlah apa ini yang dinamakan orang-orang dengan 'cinta itu seperti cokelat, manis di mulut pahit di kerongkongan'. Mungkin iya. 

Aku tak mampu lagi hidup dengan janji-janji manismu. Aku tak sanggup lagi tidur pulas dalam mimpi indah yang kauberikan. Aku harus bangun dari mimpiku, akan kuhadapi kenyataan saat ini. Kenyataan bahwa kau bukan milikku lagi. Seperti tamparan keras untukku, segalanya terasa menyakitkan. Hubungan yang selama ini kita bangun, runtuh dengan secepat ini hanya dengan kebohonganmu. 

Selama ini aku tak percaya dengan perkataan mereka yang membuatmu buruk di mataku. Aku berusaha keras untuk tidak mempercayai mereka. Tapi sekarang, ketika semuanya indah untukku, tiba-tiba saja hilang, lenyap. Ketahuilah, tak selamanya orang yang menyayangimu akan bertahan mencintaimu. Semuanya bisa berhenti dan berubah ketika sebuah kebohongan menghancurkan hati. Jika kau ingin mereka yang mencintaimu bertahan, lakukan apa yang seharusnya kau lakukan, jangan menyakiti hatinya apalagi sampai berulang-ulang. Manusia standart sepertiku tak bisa menghilangkan batas kesabaran. Aku bisa muak kapan saja dengan hubungan kita. Ketika aku ingin bertahan dan memperjuangkanmu, kau malah menghancurkan segalanya. 

Sekarang kau telah bersamanya. Jangan memanggilku untuk kembali lagi. Kau sudah tak membutuhkanku lagi. Dia bisa selalu berada di dekatmu, sementara aku tidak. Dia membuatmu bangga, sedangkan aku hanya membuatmu risih. Cukup untuk waktu yang selama ini kau berikan kepadaku. Cukup kata cinta yang selama ini kau nyanyikan di telingaku. Cukup raut wajahmu yang membingkai di benakku.Cukup tak lagi.

Andai waktu bisa terulang kembali, aku hanya ingin memperbaiki segalanya. Aku ingin menghapus masa di mana aku mengenalmu, masa di mana aku bertemu denganmu, dan segala masa yang kau berada di dalamnya. Aku sakit, apa yang bisa kau lakukan selain meminta maaf? Ketika kau terluka oleh cintanya, kau datang kepadaku. Kau menangisi hatimu yang terluka oleh harapan pupus. Dan aku. Pernahkah kau memikirkan perasaanku? Aku merasa selama ini aku hanyalah boneka bodoh yang bisa kau permainkan kapanpun. Dan baru kusadari satu hal : kau datang ketika kau membutuhkan aku, dan kau akan pergi ketika dia membutuhkanmu. Cukup adil kah itu? Kau tak pernah ada di setiap waktu aku membutuhkanmu. Aku selalu menjadi pihak yang lebih lama menunggu dan mencari. Kau melarangku berhubungan dengan lelaki siapapun, aku setuju dan aku tak pernah berhubungan dengan siapapun selain dirimu. Tapi ketika aku butuh orang yang mendengarkanku, apa kau datang? Tidak sama sekali. Kau acuhkan aku, kau terlalu asyik dengan duniamu sendiri. Kau tak pernah membuatku terlihat ada di dalam duniamu. Kali ini cukup kau membuatku terlihat bodoh di depan mereka. Aku tak ingin mengenalmu lagi. Aku sendiri bahkan tak percaya 'cinta bisa berubah menjadi benci' sampai aku sendiri yang mengalaminya. I hate you so much! You've broke my heart. I've got deep pain in my heart. Just go and don't ever come back.

Selasa, 08 September 2015

FAQ - Hijab

"Kak, dari awal udah pengen pake hijab tapi kok kayanya aku ngga cocok ya? Keliatan jelek gitu kalo pake hijab."

- Kamu pake hijab, niatnya karena Lillahi Ta'ala apa karena pujian semata? Lakukan sesuatu karena Allah, in shaa Allah barakah. Kalau niatnya cuma mau jadi objek yang diliat dan dipuji, kenapa harus pake hijab? Kan pake hijab tujuannya memang agar kita dilindungi dari mata-mata yang ngga seharusnya melihat kita. Jelek? Sayang, yang penting kita keliatan cantik di depan Allah dan suami, keliatan jelek di yang lainnya sih ngga masalah. Yuk pake hijab :)

"Pake jilbab tapi kok kelakuannya ngga bener? Jilbabin dulu hatinya, baru kepalanya!"

- Ini memang yang menjadi salah satu 'problem' yang sering dibicarakan kaum remaja. Ketahuilah, hijab dan akhlak adalah perkara yang berbeda. Aku mengenakan hijab, bukan karena akhlakku sudah sangat sempurna. Pun aku melakukan shalat lima waktu bukan karena aku tak pernah melakukan dosa. Berhijab adalah sesuatu yang wajib untuk muslimah. Sesuatu yang 'wajib' dalam arti adalah sangat harus dilakukan. Kenapa? Karena hijab secara tidak langsung kita terhindar dari tatapan-tatapan yang tak halal. Jilbabin dulu hatinya? Ini juga sedikit kurang tepat. Dengan menghijabi aurat, sedikit demi sedikit kita akan mengubah akhlak kita. Tidak seharusnya kamu berkata begitu, kamu tidak tahu bagaimana kami berusaha keras untuk menjadi lebih baik. Kamu tidak tahu bagaimana kami berhati-hati dalam melakukan suatu hal karena takut orang akan menyalahkan hijab yang kami pakai. Sekali lagi, ingat ya, berhijab bukan berarti hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang akhlaknya sempurna :)

"Hari gini, pake hijab? Ngga modis ah!"

- Modis atau keren pun tidak harus mengumbar aurat, bukan? Kamu cantik, alangkah lebih baik jika kecantikanmu hanya untuk suamimu nanti. Kalau kita mengaku cinta Allah, kita ngga akan ragu untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bukan?

"Kamu punya rambut bagus, kenapa harus ditutup-tutupin?"

- Kita tak pernah tahu kapan kontrak kita di dunia ini habis, bukan? Kenapa kita masih menunda-nunda untuk melaksanakan perintah Allah? Sayang rambut? Terus kalau kita mati, rambut kita dibakar di neraka, apa ngga lebih sayang lagi tuh? Rambut adalah mahkota, tapi juga bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri nantinya. Karena rambut, kita bisa dilempar ke neraka yang paling dasar. Na'udzubillahi min dzalik. Masih mau pamer rambut? Tutupin yuk :)

( "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Al-Ahzab : 33 )

Postingan ini bukan dibuat untuk menyindir siapapun, sekedar self-reminder yang semoga bermanfaat untuk semuanya, In Shaa Allah :) 
Muslimah, Let's wear a scarf because of Allah ! Beauty Inside, Pretty Outside In Shaa Allah :)

For more question, ask me by Ask.fm/minaeffendi 
Danke
- @minaeffendy -

Sabtu, 05 September 2015

Dear My Future Husband

Dear My Future Husband ...
Kalau kamu mencari yang sempurna, jangan datang kepadaku karena aku tidak dilahirkan untuk menjadi sempurna.
Kalau kamu mencari yang cantik, jangan memilihku karena masih banyak yang jauh lebih cantik dan menarik dibanding aku.
Kalau kamu mencari yang pandai dalam urusan dapur, jangan meminangku karena mungkin kamu akan kecewa nantinya ketika mendapati masakanku tak seenak yang kamu bayangkan.
Tapi kalau kamu mencari yang bersedia untuk belajar menjadi lebih baik, datangi waliku. Aku bersedia menikah denganmu. 
Aku bukanlah wanita tangguh, baik, dan bahkan sholehah.  Tidak, aku bukanlah wanita seperti itu. Aku hanyalah wanita yang berusaha belajar dari waktu ke waktu untuk memperbaiki diri dan menjadikan diri ini, at least, terlihat pantas jika bersanding denganmu kelak.

Dear My Future Husband ...
Aku tidak mencari yang sempurna, karena aku menginginkan Imam yang masih membutuhkan do'a, cinta dan kasih sayang dariku.
Aku hanya membutuhkan seseorang yang membutuhkan aku, yang mencintai aku karena-Nya, yang menjadikanku prioritas utama setelah Allah dan kedua orangtuanya, yang bersedia membimbingku dengan kesabaran, yang bersedia menunggu proses belajarku untuk menjadi lebih baik.
Aku tidak memberikan jaminan bahwa kamu akan bahagia jika menikah denganku, tapi aku berjanji akan memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu.
Aku tidak berjanji akan selalu mematuhimu, tapi aku akan selalu berusaha untuk mengiyakan apa yang baik, dan menolak dengan halus jika memang itu buruk.

Dear My Future Husband ...
Bukan Istana mewah berdinding emas yang kuharapkan
Bukan mobil mahal keluaran terbaru yang kuimpikan
Bukan juga berlian yang memikau yang kudambakan
Ketahuilah,
Aku hanya ingin mendampingimu, berjalan bersamamu, menjadikanmu Imamku, memberikanmu yang terbaik dan selalu mendoakanmu.
Aku hanya ingin membangun keluarga kecil yang In Shaa Allah sakinah, mawaddah, warrohmah.
Aku hanya ingin menjadi jodohmu, dunia dan juga akhirat.

Dear My Future Husband ...
Aku menantikanmu.
Aku tak tahu kapan Allah mengirimkan kamu kepadaku.
Aku akan siap. Kapan pun itu.
Untuk sekarang, aku hanya bisa terus menerus berdoa dan memperbaiki diri.
Akan kuberikan yang terbaik untukmu kelak.

Dear My Future Husband ...
I will cook, I will dressed, I will clean for you
I will be the best wife I can be, I will be the best mom I can be
If only you promise me one thing ; get me to Jannah with you

“Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

- @minaeffendy -


Sabtu, 29 Agustus 2015

Speak Your Mind

Silent is gold, but if you can change the world by speak out, why not? Personally, aku bukan orang yang gampang speak out my mind di dalam forum, karena itu pasti membuat aku jadi pusat perhatian and I hated it. Aku bukan type orang yang bisa pe-de mengutarakan apa yang ada di otak aku secara gamblang. Aku lebih suka speak out di social media yang aku punya. Dengan begitu, I can share anything dan bahkan bisa speak out sesuka aku. Thanked God banget ada social media, jadi orang-orang seperti aku yang cuma bisa speak out in mind bisa lebih berekspresi. Honestly, aku sih pengen banget bisa seperti mereka yang It's okay to be man of the match dalam suatu lingkup manusia. Kayaknya enak banget ya bisa ngomong sesuka kita tanpa harus peduli apapun, istilahnya itu 'bodoamat'. Jangankan dalam forum yang at least orangnya lebih dari 20 members, dalam kelompok yang membersnya ngga sampe 10 orang aja kayanya susah banget buat aku speak out. 
Jadi, kalau ada orang di luar sana yang sama sepertiku, I know how it feels, dude! Actually kita punya banyak yang pengen dibicarakan, tapi don't know why itu rasanya sulit banget buat keluar dari mulut. Kaya rasanya tertelan di tenggorokan. Menyebalkan, bukan?
Kunci utama supaya kita bisa percaya diri dan bisa bebas berekspresi di dunia nyata ya memang harus 'bodoamat' sama semua orang. Dengan begitu, kita bisa lebih bebas berbicara sesuka kita. Ngomong sih gampang, ya? Ngelakuinnya itu lho yang susahnya minta ampun! Kalau kalian punya saran atau motivasi yang bisa dikasih ke aku, text me on minaeffendy@gmail.com seriously I need it! Aku sudah kuliah dan aku masih belum bisa speak out itu membuat aku merasa seperti invisible di lingkup kampus. Pathetic. 

Rabu, 05 Agustus 2015

Aku Benar-Benar Tak Tahu Malu

Assalamu'alaikum good peeps 🍃
Hijrah. Satu kata yang menyimpan makna tersendiri bagi siapapun yang memutuskan untuk melakukannya. Bukan keputusan kecil, namun perubahan setelahnya membawa hikmah yang sangat besar. Hijrah is mean 'berpindah'. Maksudnya, berpindah menjadi yang lebih baik lagi. Tak ada hidayah yang datang dengan sendirinya. Jangan hanya menunggu hidayah, bangun dan jemputlah ia. Keputusanku untuk berhijrah tidak hanya membuat mereka terkejut. Bahkan aku sendiri pun setengah tak percaya dengan keputusan yang kuambil. 
Agamaku telah sempurna, kenapa aku tidak? Kenapa aku berusaha mengabaikannya? Waktu demi waktu terbuang sia-sia selama 19 tahun aku hidup. Aku tak ingin seperti itu lagi. I have to be better. I have no time to wait for anything. I'm a moeslim, why can't I act like any other moeslims? Yes, I know. I'm so pathetic. Terlebih usiaku yang sudah banyak, kenapa aku belum bisa menata hatiku? 
Allah tak pernah meninggalkanku, lantas kenapa aku tak mendekati-Nya? Allah tak pernah melupakanku, lalu kenapa aku mengabaikan panggilan-Nya? Allah selalu mengabulkan do'a ku, memenuhi kebutuhanku, tanpa peduli berapa banyak dosa yang kulakukan. Entah aku harus terharu atau malu. Bahkan sejuta tahun aku menangis dan memohon ampun mungkin belum bisa menebus dosaku selama ini. Aku benar-benar tak tahu malu. Masih saja aku melakukan dosa tanpa takut Allah marah kepadaku. Aku benar-benar tak tahu malu. Masih saja meminta tanpa bersyukur. Aku benar-benar tak tahu malu. Masih saja mengeluh tanpa benar-benar berusaha. Aku benar-benar tak tahu malu. Mengumbar aurat di mana-mana, tanpa ingat Allah selalu melihatku. Aku benar-benar tak tahu malu.
Pernah di suatu titik aku benar-benar ingin mengakhiri hidupku, itu adalah masa-masa terberatku. Aku benar-benar menyerah dan aku merasakan jalan buntu di depanku. Siapa aku sih sampai-sampai berpikir seperti itu? Aku terlalu berani menganggap hidupku tak ada artinya. Aku terlalu sering menkufurkan nikmat Allah. Banyak di luar sana menginginkan hidup dengan berjuang mati-matian, dan aku ingin mengakhiri hidup hanya karena masalah sekecil debu? Pengecut! Ya, aku adalah pengecut. Tak berani membuka mata untuk melihat ke depan. Allah memberiku hidup tanpa bayar, dan aku mengelu? Aku benar-benar tak tahu malu. 
Aku pernah berpikir, "tak masalah tak terlalu menutup aurat yang penting tidak melakukan dosa besar seperti zina, ya kan?" Bodoh! Kenapa aku berpikir seperti itu? Di mana otakku? Aku mencintai ayahku lebih dari apapun, tapi kenapa aku masih saja mendekatkan ayahku ke api neraka? It was my biggest mistake.
"Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup auratnya, maka selangkah pula ayahnya mendekati api neraka."
Aku benar-benar tak tahu malu. Mudah saja berkata, "I love you, Dad." Tapi masih saja mengumbar aurat di sana-sini. Memalukan.
Wanita berhijab belum tentu baik, tapi wanita baik sudah pasti berhijab. Insya Allah. 
Ketahuilah, saudari-saudariku, seorang ayah tak ingin mobil mewah/rumah mewah dan mungkin harta bergelimang dari kita. Cukup jangan dekatkan beliau dengan api neraka, cukup ringankan hisabnya kelak di akhirat. Love your dad and Let's cover ourselves. Tutuplah auratmu dengan hijab, sebelum kain kafan yang menutupnya. Jangan mengulur-ulur waktu, siapa yang tahu kapan kita akan mati. Maaf, bukan sok ceramah, sekedar mengingatkan sesama muslim, sebelum terlambat. 
Semoga bermanfaat 😊

Selasa, 07 Juli 2015

HIJAB FASHION

Style is knowing who you are, what you want to say and not giving a damn - Gore Vidal


Kali ini aku bakalan sharing apapun yang berhubungan dengan FASHION STYLE karena bagaimanapun juga, itulah salah satu cara untuk mengekspresikan diri semau kita. Dari awal SMA, aku sudah interested ke Fashion dan bahkan passion aku ada di Fashion Design. Aku niatnya mau kuliah ambil jurusan Fashion Design, tapi Tuhan berkata lain. Mungkin sekarang jalan buat aku masih ketutup, tapi aku yakin next time pasti bisa.
Well, karena aku berhijab, jadi aku lebih tau tentang mix and match baju yang tertutup. contohnya foto yang di atas itu aku pake jeans, short dress yang di cover sama sweater. Aku sebenernya lebih suka pakai high heels, tapi untuk mix and match aja jadinya aku pake sneakers. Untuk hijab style nya aku lebih sering pake yang simpel dan mudah digunakan aja sih. But it depends on your pleasure. Saran aku, pakai hijab yang sewarna dengan rok atau celana nya, Itu akan mengesankan lebih matching
Kapan-kapan aku share lagi yaa. Feel free to ask me in Ask.fm/minaeffendi and don't forget to follow my Tumblr (minaeffendy) thank you. Gudnight.

Kamis, 11 Juni 2015

Love Can Be Hurt



You will never fall in love until get hurt on jealousy. Faktanya, itu adalah kebenaran. Menyakitkan, bukan? Bisakah kita mencintai seseorang tanpa harus terluka? Laugh and Tears are completing each other. Kita tak bisa selamanya bahagia dalam cinta, ada saatnya kita merasa … tidak bahagia. Karena yang kutahu, tawa dan air mata adalah sepaket. Bukan bahagia yang mendatangkan cinta, tapi cinta lah yang mendatangkan bahagia. You’ll happy when you are with someone you love. In other side, you’ll get a pain. Kita tak pernah merencanakan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Bagaimana jika kita jatuh cinta kepada orang yang salah? Karena bagaimanapun, kita akan bertemu dengan orang yang salah sebelum akhirnya kita akan bertemu dengan orang yang tepat. Love can be hurt. Kita tak pernah tahu apakah perasaan kita akan menyakiti orang lain.

Terkadang Tuhan hanya mempertemukan, bukan menyatukan. Kita tak tahu apakah kita bertemu dengan seseorang hanya untuk singgah, atau tinggal menetap. Takdir tidak semudah membalik-kan telapak tangan. Semuanya butuh process and progress. Tak ada yang bisa mengubah takdir kecuali kita sendiri, dengan campur tangan Tuhan tentunya. Ketika kau mulai yakin kepada satu orang, cukup tataplah seseorang itu, tuntun dia berjalan menemukan takdir. Tak peduli apakah dia akan menyakitimu, atau terluka, genggamlah tangannya dan jangan pernah melepasnya. Ingatlah, tak selamanya apa yang kaumiliki akan menjadi milikmu dan selama itu masih milikmu, pertahankan. Usahakan untuk tidak menyakiti seseorang yang memilihmu menjadi pemilik hatinya.

Cinta itu bukan tentang bagaimana kita tidak pernah menyakiti, tapi tentang bagaimana kita berusaha untuk saling menguatkan ketika kita tersakiti. Cinta bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang siapa yang memilih mengalah demi mempertahankan untuk saling bersama. Cinta bukanlah tentang siapa yang paling banyak berkorban, tapi cinta adalah tentang menghargai pengorbanan sekecil apapun itu.

Seringkali kita bertengkar, mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya bukan masalah. Kita pernah menyerah, namun pada akhirnya itu hanya menyiksa diri kita masing-masing. Bagaimana-pun cinta menyakiti, ingatlah cinta juga memberimu kebahagiaan. Bertahanlah dengan apa yang kaumiliki sekarang. Ganbatte!

Sejujurnya, aku merindukanmu… 

Selasa, 02 Juni 2015

More than Romeo and Juliette



Pernahkah kau mendengar kisah romantis sekaligus tragis antara Romeo dan Juliet? Cinta terlarang, yang membuat mereka berujung pada kematian. Aku tak ingin berakhir seperti itu. Jika mereka memutuskan untuk menyerah kepada takdir, maka aku sebaliknya. Mungkin restu yang menjadi benteng besar dan kokoh yang menghalangi cinta mereka, apa bedanya dengan jarak yang membentang di antara aku dan kamu? Sama saja, bukan? Jika aku yang menjadi Romeo, aku tidak akan mengambil keputusan bodoh untuk mengakhiri cinta kita dengan kematian, aku lebih memilih berjuang lebih keras karena kutahu Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk kegagalan belaka. Aku menginginkan kisah cinta yang romantis, bukan tragis. Aku dan kamu, masih kita. Biarlah jarak memisahkan kita untuk sementara, tapi waktu akan menyatukan kita untuk selamanya. Jarak pernah memisahkan kita, tapi takdir tak tinggal diam hingga akhirnya kita dipertemukan kembali. Jarak tak pernah lelah membuat kita jenuh dan merasa ingin mengakhiri semuanya, tapi kita tak peduli. Sekuat apapun ombak menghempas, selama kita ada untuk saling menguatkan, aku percaya kita mampu melawannya. Aku lelah, untuk beberapa saat. Tapi aku tak pernah bosan untuk sekedar berkata, “aku kangen kamu!” karena yang kutahu itulah yang membuat kita bertahan. Aku ingat bagaimana Adam dan Hawa dipisahkan oleh jarak, tapi pada akhirnya waktu menyatukan cinta mereka. Jadi, yang sekarang kita sedang jalani bukanlah apa-apa jika dibanding mereka. Kita masih bisa menjaga komunikasi, via apapun. Aku bersyukur Tuhan tak pernah lelah mempersatukan kita kembali walaupun berkali-kali aku dan kamu sempat menyerah dan memutuskan untuk berpisah.

Nothing can take you from me…

Kamu tahu alasanku bertahan? Aku sempat berpikir aku mungkin akan meninggalkanmu, tapi kemudian aku berpikir kembali. Butuh berpikir dua kali, bahkan lebih, untuk meninggalkanmu. Aku ragu apakah aku bisa menjalani kehidupanku dengan normal jika itu tanpamu. Mungkin akan terasa berbeda. Aku tak berani membayangkannya. Pernah beberapa kali aku ingin menggantimu dengan mereka yang selalu ada untukku, tapi aku tahu tak selamanya yang selalu ada bisa membuatmu nyaman. Karena bersamamu, rasanya seperti pulang ke rumah. Nyaman.

I’m only happy when I’m with you. Home for me is where you are. Wrap me in your arms and take me home

Tempat ternyaman yang pernah aku singgahi. Itu kamu. Tak peduli berapa kali aku pernah menangis karenamu. Tapi hanya denganmu lah aku bisa menjadi diriku sendiri. Kamu lah yang membuatku berpikir “inilah saatnya aku berhenti untuk mencari!” Selepas dari semua yang pernah kita alami, aku percaya kamu lah yang Tuhan kirimkan untuk akhir dari pencarianku. Aku lelah berpetualang, sekarang lah saat yang tepat untuk kembali ke rumah. Aku pernah menginginkan rumah yang indah, sempurna. Tapi untuk apa itu semua jika yang sederhana saja sudah membuatku sangat bahagia. Aku tak butuh hati yang sempurna, tapi aku butuh hati yang masih membutuhkan do’a, cinta, dan dukungan dariku.

I'd do anything. Just to hold you in my arms. To try to make you laugh. Because somehow I can't put you in the past

Lupakan Romeo dan Juliet, kita bisa menciptakan kisah indah kita sendiri. Aku dan kamu. Biarkan mereka menanggung cinta penuh darah di ujung pedang. Cinta tetaplah cinta. Tak akan ada cinta jika tidak diperjuangkan, dan tidak ada yang berjuang tanpa cinta! Aku mencintaimu, lebih dari Romeo yang mencintai Juliet. 

I fall in love with you every single day …

Sabtu, 30 Mei 2015

Memelukmu Dari Jauh


Mendo'akanmu, adalah caraku memelukmu dari jauh. Suatu saat nanti, aku akan memelukmu, menguatkanmu di kala kau rapuh, dan mendengar semua keluh dan kesahmu. Suatu saat nanti. Saat Tuhan mengizinkan kita bersama. Tahukah kau, kita berada di tempat yang berbeda, bahkan jauh. Tetapi kita masih dapat melihat bulan yang sama, itulah yang membuatku berpikir bahwa sebenarnya kita sangat dekat. Tuhan itu Maha Adil. Dia menciptakan jarak di antara kita, membuat kita saling merasakan rindu dan menantikan pertemuan. Tapi kenapa jarak itu terasa sangat berat ya? Terang saja, aku tidak menyesali itu. Disini, aku mendo'akanmu. Itulah caraku memelukmu dari jauh. Aku mendo'akanmu, berharap kau menemu-kanku di dalam do'amu.
Percuma Sayang, ketika kita saling bertahan tetapi tidak saling mendo'akan. Semuanya keajaiban terletak pada do'a, deep of heart. Well, kaulah yang terbaik. Itulah alasanku untuk berpikir tiga kali jika harus meninggalkanmu. You're the best someone ever in my heart. What if I have to let you go, would you be the man I used to know? Tetaplah menjadi seseorang yang kukenal, jangan pernah mengubah apapun yang ada dalam dirimu. Karena sungguh aku menyukai apapun yang terletak dalam dirimu. Entah itu kebodohanmu sekalipun.
Well, I realized that I've never felt like this before, before I find someone like you. Yeah, only you! Damn, kau sangat menyebalkan, dan parahnya aku sangat menyukaimu! Aku sangat menyukaimu, dan parahnya kita sangat jauh! Haha tapi aku tetap bertahan, karena aku tak tahu bagaimana caranya menjalani hidup tanpa kehadiranmu di sisiku,
I’m the lucky woman to have you! Kau tahu, rasa sayangku kepadamu tak terhitung, uncountable. Aku mencintaimu hari ini, lusa, besok, besoknya lagi, besoknya lagi, dan begitu seterusnya. Karena aku tak tahu apa kata yang dapat mendeskripsikan lebih dari sekedar 'selamanya'. Cukup aku dan Tuhan yang tahu betapa besar kasihku kepadamu, karena kepadaNya lah aku berdo'a. Kepada Nya lah aku menceritakan semua tentang keindahanmu, dan tentang keburukanmu.
Aku hanya bisa tertawa mendengarkan suaramu, dan berdebat denganmu adalah caraku untuk menahanmu lebih lama denganku. Tapi sungguh, kau sangat menyebalkan! Kadang, aku selalu berpikir kenapa aku harus memilih untuk bertahan denganmu. Tapi aku tahu jawabannya, tak ada yang lebih baik darimu. Dan sial, aku memang harus mempertahankanmu. Karena aku tak bisa kehilanganmu. Kau tahu, aku mengerti bagaimana hidup tanpa udara, itu terjadi padaku ketika aku kehilanganmu. I need you beside of me, stay here, deep of my heart. Kumohon. Tetaplah disini, tetaplah mencintaiku, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Aku membutuhkanmu, seperti aku membutuhkan udara. Aku menginginkanmu, menjadi pendamping hidupku. Aku tahu, semuanya akan terkabul karena aku percaya akan keajaiban do'a.
Percayalah, satu cintaku dan itu untukmu.

Kamis, 28 Mei 2015

Different Dimension


Ketika kita berada di dimensi yang berbeda ...

Tulisan ini kupersembahkan untuk seseorang yang selalu menjadikan aku seseorang yang special, ini kisah tentangnya. Kekasihku? Bukan. Dia sahabatku. Dan aku terinspirasi olehnya. Aku tak bisa lagi melihat tawa riangnya, tak bisa lagi mendengar celotehan manisnya. Tuhan mengambilnya lebih dulu, sebelum aku bisa melihatnya tersenyum bahagia bersama wanita yang selalu hidup di dalam hatinya. Tuhan, jika kau berikan kesempatan kedua kalinya untukku bertemu dengannya, aku ingin memukulnya! Menyebalkan. Dia pergi meninggalkanku menghadapi dunia ini sendirian. Jahat sekali!

Apakabar kamu disana? Bahagiakah kamu di sana? Bagaimana rasanya, berada di dimensi yang berbeda denganku? Apa? Ya, aku tahu kamu merindukanku. Ya, aku tahu kamu mungkin
sudah melupakanku, dan mungkin telah mempunyai sahabat baru di sana. Jahat! Berapa tahun sudah kita tak bertemu? Ah lama sekali ya? Kau pikir kamu siapa, aku takkan merindukanmu, bodoh! Jangan harap. Hahaha. Menjengkelkan, jelas saja aku merindukanmu! Maaf, kemarin aku tak bisa mengunjungi rumahmu. Ya, aku tahu apa tujuanmu datang ke dalam mimpiku. Maaf, aku tak berniat melupakanmu. Hanya saja, aku tak tahu apakah keluargamu masih menerimaku? Mungkin mereka sudah melupakan keberadaanku. Hei, kenapa kau marah padaku? Apa yang salah? Aku minta maaf, sekali lagi. Senyum dong, aku rindu. Haha senang membuatmu kesal. Maaf.

Apa? Siapa yang berubah, aku hanya berkembang, kau tahu? Tidak, aku masih menjadi aku yang dulu. Aku yang kau kenal. Aku yang selalu menjadi sahabat terbaikmu. Sudahlah, jangan khawatir. Usiaku tidak akan mengubahku kok. Tenang saja.

Aku mengenalmu. Aku masih ingat kapan pertama kalinya kita bertemu, berkenalan, dan akhirnya menjalin persahabatan. Aku benci mengingat itu semua, karena aku hanya bisa
menangisimu. Aku benci menghadapi kenyataan yang telah merenggutmu dariku. Kamu tahu, sungguh, kamu mirip onta! Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu meninggalkanku? Banyak yang ingin kuceritakan kepadamu. Banyak sekali! Aku sudah besar sekarang, aku sudah tidak bisa kamu bodohi lagi, dasar! Kamu tahu, aku telah menemukan seseorang kucari selama ini. Kamu sendiri yang bilang padaku, dengan lagakmu yang sangat sok dewasa, "Suatu saat nanti, kamu akan menemukan seseorang yang benar-benar tepat bagimu. Seseorang yang akan menjagamu." Bodoh. Sekarang aku telah menemukannya, aku ingin mengenalkannya padamu. Tapi kita sudah berada di dua dimensi yang berbeda. Aku tak bisa lagi melihatmu. Tapi tak apalah, mungkin kamu sudah tenang di alam sana. Jaga diri baik-baik ya? Aku takkan merepotkanmu lagi. Kamu tetap menjadi sahabat terbaikku. Thanks ya, kamu selalu menjadi pendengar yang baik. Walaupun aku tahu, mungkin dulu kamu berpura-pura mendengarkanku. Haha.

Ya, aku ingin kamu mengenal orang yang kusayang. Nama? Mungkin tidak akan kusebutkan, ini terlalu privasi, kamu tahu? Tenang saja, dia laki-laki yang baik kok. Sangat baik, dan terbaik malah. Mungkin, kamu akan senang jika mengenalnya. Dia bodoh sepertimu. Dan dia sama menyebalkannya denganmu. Mungkin lebih 'parah'. Mungkin kalian bisa menjadi teman yang baik, kurasa. Tapi dia orangnya suka cemburu, mungkin dia akan cemburu padamu juga. Haha. Dia membuatku selalu merasa konyol. Kamu tahu, aku seperti menemukan duniaku sendiri. Dunia yang kuciptakan bersamanya. Ah sayang sekali kamu terlambat untuk mengenalnya. 

Ya, mungkin inilah yang dinamakan cinta. Aku bisa tertawa hanya dengan mendengar suaranya, dan berdebat dengannya adalah satu cara menahannya agar lebih lama denganku. Bodoh? Ya, aku memang bodoh. Kan sudah kubilang, aku tak pernah berubah. Aku tetap bodoh, tapi tetap tidak sebodoh dirimu. Kenapa? Kamu menyukainya? Tentu saja. Aku tahu. Kamu pasti menyukainya. Andai saja kamu masih ada di sini, mungkin aku akan menjadi manusia paling beruntung di dunia ini.  Aku memiliki satu sahabat terbaik, dan aku memiliki kekasih terbaik. Aku pasti bisa membuat dunia iri kepadaku. Sudah kubilang aku takkan menyebutkan namanya. Dia adalah lelaki paling percaya diri yang pernah kutemui, selain kamu! Ya, aku tak ingin ketika dia membaca tulisanku ini, dia akan ge-er. Sudahlah, kubilang aku takkan menyebutkan namanya. Tapi aku akan menunjukkannya kepadamu. Ya. Aku sangat menyayanginya. Aku tak tahu seperti apa hidupku jika harus kehilangannya. Tidak, aku serius. Jangan macam-macam, aku takkan memaafkanmu jika sampai itu terjadi. Ya, aku janji akan memberitahu namanya, tapi tidak sekarang, bodoh. Yang benar saja kamu?! Datanglah lagi ke dalam mimpiku malam ini, dan aku akan memberitahukan namanya. Hehe. Ya, aku harus menutup ceritaku. Semua inti dari tulisan ini adalah, aku merindukanmu. Aku merindukan orang paling bodoh sedunia yang pernah mengenalku! Jaga dirimu baik-baik. Love you.

Salam manis,
Sahabat Terbaikmu.


Thank You For Reading

Be Who You Are

Kenapa masih ada saja orang yang menjadi fake-nya orang lain. Kenapa masih ada saja orang yang lebih ingin menjadi orang lain ketimbang dirinya sendiri? Dan kenapa masih ada yang meragukan apakah dia akan diterima oleh sekitarnya jika dia menjadi dirinya sendiri? Come on, Tuhan menciptakan kita masing-masing dengan bentuk, rupa dan bahkan watak yang berbeda. So, kenapa kita berusaha menolaknya? Percayalah, kita memiliki keistimewaan masing-masing. However, lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri daripada dicintai karena menjadi orang lain. We should act like what we want to act, what we want to do. Bodo amat deh apa yang orang katakan tentang kita. Haters gonna hate and lovers gonna love, man ! Mungkin ini kedengarannya emang sok bijak dan sok dewasa gitu, tapi it's okay asal nggak sok nge-judge sih. hehe
Aku punya temen yang deket banget sama aku. Dia bukanlah orang yang bisa selalu welcome sama orang yang belum dia kenal karena dia adalah tipe orang yang lebih baik nggak dikenal sama sekali daripada harus menjadi sorotan mata. Physically, dia cantik tapi badannya gendut chabi gimana gitu deh. Dia nggak pede dengan bentuk badannya sendiri. Awal masuk SMA, dia naksir sama cowok yang menjadi The Most Popular Boy di sekolahnya dia, aku nggak terlalu tahu sih karena memang kami tidak sekolah di tempat yang sama. Tapi sayangnya si cowok itu malah pacaran sama cewek cantik di sekolahnya dia, otomatis temenku ini patah hati sepatah-patahnya deh. Singkat cerita, akhirnya temenku ini memutuskan untuk mengubah penampilannya. Dia mulai rajin ngegym, jogging, renang, pokoknya segala macam olahraga dia jadikan rutinitas hariannya. Dia juga diet dan selalu menjaga makanannya. Aku akui, perjuangannya dia untuk berubah dari the ugly to the beauty itu top banget sampe-sampe dia pernah harus dirawat inap karena terserang penyakit lambung. Berat badannya berangsur-angsur mulai menurun. Awal semester satu di tahun ketiga, temenku berubah 360 derajat. Dia menjadi lebih cantik dari sebelumnya, sangat cantik bahkan. Tepat saat pengumuman kelulusan SMA, mimpinya terkabulkan. Si cowok itu akhirnya menjadi miliknya. Aku bahagia melihat temanku bahagia, terlepas dari penderitaannya selama ini. Tapi selang tiga bulan kemudian mereka putus karena si cowok itu sudah menemukan pengganti temanku yang jauh lebih cantik. Sejak saat itu, temanku tersadar kalau cowok itu hanya mencari keindahan visual saja. Dia menjadikan itu sebagai pelajaran dalam hidupnya. Betapa tidak, perjuangan selama tiga tahun terakhirnya berakhir selama tiga bulan saja. What the hell!
Harus kita ingat, nggak semua laki-laki mencintai kita apa adanya. Tapi bagaimana laki-laki akan mencintai kita apa adanya kalau kita saja tidak apa adanya, kan? Bagaimanapun juga semuanya balik ke kita. Bagaimana pasangan kita akan menerima kita, itu tergantung kita. Don't be afraid to be yourself. Kalau emang orang yang kita cintai tidak balik mencintai kita, let the other people do. Be yourself, because you are more than what they see.


Thanks For Reading

Rabu, 27 Mei 2015

Rumah Tanggaku Dihancurkan Sahabatku Sendiri


Rumah Tanggaku Dihancurkan Sahabat Karibku

Malam ini adalah hari yang paling spesial untukku dan juga suamiku, mas Arman. Hari ini adalah Anniversary day pernikahan kami yang ketiga. Mas Arman mengajakku ke sebuah restoran mewah untuk melakukan candle light dinner. Namaku Indah, dan aku adalah wanita paling beruntung yang bisa bersanding dengan mas Arman. Tak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaanku saat mas Arman meminangku tiga tahun yang lalu. Suka duka kami lalui bersama. Awal menikah, mas Arman belum mempunyai apa-apa. Bahkan setiap harinya, untuk makan sehari sekali saja kami sudah merasa sangat bersyukur. Dan sekarang, Alhamdulillah, kami sudah berkecukupan. Tiga tahun menikah, kami belum juga mendapatkan buah hati. Mungkin inilah ujiannya setelah kami mendapatkan begitu banyak kenikmatan dari Allah. Aku beruntung memiliki suami yang begitu baik seperti mas Arman. Aku pernah menyuruh mas Arman untuk menikah dengan wanita lain agar segera memiliki buah hati, namun mas Arman menolak. "Rezeki, umur, dan maut adalah kehendak Allah. Allah belum memberi kita rezeki anak mungkin karena kita belum cukup mampu untuk menjaga titipan-Nya. Suatu saat, insyaAllah, kita akan memiliki anak. Yang harus kita lakukan adalah bersabar dan berdo'a. Serahkan semuanya kepada Allah." selalu itu yang dibilang mas Arman kepadaku. Hatiku teriris. Aku sangat bersyukur, kesempurnaan hidupku adalah karena mas Arman yang melengkapiku. Malam ini, kami sangat menikmati suasana romantis yang disiapkan mas Arman untukku. Aku duduk termenung, menatap wajah suamiku yang tersenyum kepadaku. Sungguh aku mencintainya, ya Allah. Selesai makan malam, kami pulang ke rumah. 
Keeseokan harinya, ketika mas Arman berangkat kerja, aku berangkat ke rumah sakit untuk membeli vitamin. Ketika masih duduk menunggu antrian, aku melihat seorang anak perempuan yang usianya sekitar empat tahun. Anak itu duduk dengan wajah yang pucat pasi dan badan terkulai lemas. Aku kasihan melihat anak itu duduk sendirian. Aku bertanya-tanya ke manakah bundanya? Tak lama setelah itu datang seorang perempuan dengan postur tubuh yang ramping. Rambut pirangnya terurai panjang dan sedikit bergelombang di bagian bawahnya. Kulitnya putih dan sehat terawat. Sebentar kulihat keadaan anaknya, jika memang itu ibunya, kenapa penampilan kedua anak dan ibu ini sangat bertolak belakang? Ibunya terlihat seperti wanita karir yang tidak ketinggalan jaman, sedangkan melihat si anak, terlihat sangat lusuh dan kumuh. Anak itu merengek ke ibunya dan seperti mengeluh kesakitan. Sekilas ibunya menolehkan wajahnya, dan aku merasa familiar dengan wajah wanita itu. Aku tak ingin salah, kudekati wanita dengan anak perempuannya itu. Dan ketika dia menolehku, kuamati dari dekat memang aku mengenalnya.
"Rena! Subhanallah," aku memeluknya. Dia adalah Rena, teman sebangkuku ketika masih SMA dulu. Dia bukan sekedar teman atau sahabat untukku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri.
"Indah!" Rena balas memelukku.
"Ini, siapa?" tanyaku sambil tersenyum kepada anak perempuan itu.
"Ini anakku, Ndah." Rena tampak sedih. "Dia sedang sakit. Kamu ada keperluan apa disini, Ndah?"
"Cantik sekali, Ren," kataku sambil mengusap lembut pipi anak Rena. "Ah, aku ingin menebus vitamin saja, Ren. Siapa namanya, Ren?"
"Vina." Rena menoleh kepada anaknya. "Nak, perkenalkan ini Tante Indah, teman Mama."
Vina meringis, entah itu karena ingin tersenyum kepadaku atau karena menahan rasa sakit. 
"Sakit apa anakmu, Ren?"
"Positif DB, Ndah," jawabnya kusut. "Dia harus dirawat inap, tapi aku tak punya uang untuk membayar biayanya. Jadi aku membelikan saja obat untuk dia dirawat di rumah saja, Ndah."
"Ya Allah," aku menekap mulutku. "Ren, biarkan Vina dirawat inap di rumah sakit ini. Seluruh biayanya, biar aku yang menanggungnya. Keselamatan Vina itu lebih penting, Ren."
Rena terlihat seperti tak percaya. "Sungguh?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk. "Ndah, terima kasih sebelumnya. Kamu memang sangat baik, sejak dulu kamu selalu membantuku saat kesusahan. Terima kasih," Rena terisak dalam pelukanku. Aku mengusap-usap punggungnya.
Akhirnya Vina mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Sambil menunggu Dokter yang memeriksanya, aku dan Rena berbincang-bincang di luar kamar. Rena menangis ketika menceritakan kehidupannya kepadaku. Dia dan suaminya telah bercerai dua tahun yang lalu, dan semenjak itu Rena harus bekerja mati-matian untuk menghidupi dia dan anaknya, yang masih membutuhkan pendidikan. Mereka hidup di sebuah kontrakan sederhana. Aku turut prihatin dengan keadaan Rena.
"Oh iya, kamu sudah menikah?" tanyanya sambil mengusap air mata yang sudah bercucuran membasahi pipinya.
"Alhamdulillah," aku mengangguk. "Aku pasti mengenalkan kalian dengan suamiku. Ini," aku menyodorkan kartu nama mas Arman kepada Rena. "jika suatu saat kalian ingin berkunjung ke rumah kami. Datang saja kapanpun kalian bisa, insyaAllah aku ada di rumah, Ren." Rena mengangguk.
Karena hari sudah mulai gelap, aku pamit pulang kepada Rena dan Vina. Sesampainya di rumah, aku melihat mobil mas Arman sudah terparkir di halaman. Aku bertanya-tanya, tak biasanya mas Arman pulang secepat ini.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam," jawab mas Arman yang sedang menonton acara televisi. Aku menghampirinya dan mencium permukaan tangannya. "Dari mana, Sayang?" tanyanya.
"Dari rumah sakit, mas. Vitaminku habis."Aku duduk di samping mas Arman. "Loh mas Arman tumben pulang cepat?"
"Iya, kangen saja sama kamu," jawabnya menggodaku. Aku tersipu.
"Mas," kataku. "waktu di rumah sakit tadi, aku bertemu Rena, teman SMA ku dulu. Dia sedang memeriksakan anaknya yang ternyata positif DB."
"Ya Allah," gumam mas Arman.
"Iya, mas. Rena tidak mempunyai cukup biaya untuk membayar biaya rumah sakit. Jadi, aku berniat membantunya. Menurut mas, gimana?"
Mas Arman mengangguk. "Iya Sayang, kasihan. Kamu bantu saja."
"Makasih, mas."
Seminggu setelah aku menyelesaikan administrasi biaya rawat inap Vina di rumah sakit, aku sama sekali tidak bertemu dengan Rena dan juga Vina. Sore ini aku harus melepas mas Arman untuk pergi ke luar kota untuk urusan bisnis dalam tiga hari mendatang. Sekarang, di rumah, hanya ada aku dan mbok Inem, orang yang membantu kami dalam melakukan pekerjaan rumah. Sore ini aku duduk di depan televisi, berusaha menikmati acara televisi yang sebetulnya aku hanya ingin menghabiskan waktu. Belum sehari mas Arman pergi, aku sudah sangat merindukannya.
"Nya, ada tamu buat Nyonya," kata mbok Inem yang menghampiriku.
"Tamu? Buat saya, mbok?" tanyaku memastikan. Tak biasanya ada tamu yang datang untuk mencariku. Karena biasanya tamu yang datang sebagian besar adalah kolega dan rekan-rekan mas Arman dalam urusan bisnis. Aku menegakkan badanku, merapikan jubah hitam panjang dan jilbab hijauku. Aku senang sekali ketika tahu tamu untukku adalah Rena dan Vina. Aku memeluk Vina yang sudah kembali ceria.
"Kenapa baru datang sih?" gumamku. "Ya Allah, Vina, kamu cantik sekali. Mirip sekali dengan Mamamu," godaku dan Vina tersipu malu. "Masuk, mari silakan masuk."
Aku membimbing Rena dan Vina untuk duduk di sofa ruang tamu depan. "Mbok," aku memanggil mbok Inem. "Tolong buatkan minuman dua, ya?"
"Iya, Nya," sahut mbok Inem dari dapur.
Rena menaruh sebuah bingkisan di atas meja. "Ini, Ndah, kami datang untuk membawa sedikit oleh-oleh untuk kamu dan suamimu."
"Masha Allah, tak usah repot-repot, Ren." Aku tersenyum. "Kalian datang kemari saja sudah sangat cukup untukku."
"Mana suami kamu, Ndah?"
"Eh iya, mas Arman pergi ke luar kota untuk urusan bisnis," jawabku. "Tapi mas Arman sudah tahu tentang kalian kok, dia juga menitipkan salam untuk kalian."
Kami berbincang-bincang mengulang masa lalu sewaktu SMA dulu, sementara Vina bermain dengan mbok Inem. Malam harinya, Rena dan Vina pamit pulang.
Tiga hari lamanya aku berpisah dengan mas Arman. Aku sangat merindukannya, walaupun setiap malam kami masih bisa mengobrol lewat telepon. Pagi ini aku dan mbok Inem berbelanja di pasar. Sepi rasanya harus sarapan dengan mbok Inem saja.
"Kalau saja saya punya anak, ya, mbok?"
"Nya tidak boleh begitu," sahut mbok Inem. "Nyonya harusnya bersyukur mempunyai suami yang sangat baik dan juga setia seperti mas Arman."
"Iya, mbok," aku mengangguk. "rasanya itu sudah sangat cukup buat saya."
Setelah tiga hari mengurus bisnis di luar kota, akhirnya mas Arman pulang. Aku senang sekali dengan kedatangan kembali mas Arman ke rumah. Sungguh, aku merasa seperti pertama kalinya bertemu dengan mas Arman setelah sekian lama tak bertemu. 
"I miss you," ucap mas Arman lembut, dia memelukku erat lalu mencium keningku.
"I miss you too," balasku sambil menciumi tangan mas Arman.
"Ditinggal tiga hari, kok istriku semakin cantik saja," gurau mas Arman yang membuatku malu.
"Malu ih, ada mbok Inem," aku mengangguk ke arah mbok Inem yang menundukkan kepalanya.
Keesokan paginya, mas Arman pamit berangkat ke kantor. Aku telah meminta izin ke mas Arman untuk sekedar jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Dan mas Arman mengizinkanku pergi, tapi harus dengan mbok Inem. Aku setuju. Akhirnya aku dan mbok Inem menuju pusat perbelanjaan dan berjalan-jalan sekedar untuk melihat-lihat. Ketika aku dan mbok Inem berhenti di suatu stan baju, sekilas aku melihat sosok Rena dengan seorang pria yang berpostur tinggi besar dengan kulit sawo matang. Siapa pria yang sedang bersama Rena itu? Tapi aku tak memedulikannya. Mungkin saja itu rekan kerja Rena atau yang lainnya. Aku mengamati mereka hingga sosok mereka menghilang dari jangkauan pandanganku.
Sesampainya di rumah, aku mandi dan berusaha melupakan pemandangan yang kulihat tadi. Mungkinkah itu kekasih Rena? Ah, aku tak boleh berprasangka.
Sabtu ini, Rena berjanji akan berkunjung kembali ke rumahku karena sangat ingin bertemu dan berkenalan dengan mas Arman. Hari sabtu, hari libur bagi semua pekerja termasuk mas Arman. Siang ini Rena datang ke rumahku bersama Vina. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa memperkenalkan mas Arman kepada Rena dan juga Vina.
Seminggu kemudian, mas Arman berkeluh kesah kepadaku karena dia baru saja kehilangan sekertarisnya yang mengundurkan diri dari perusahaan.
"Mas Arman butuh sekertaris baru?" tanyaku.
"Iya," jawab mas Arman. "Sila harus mengundurkan diri dari perusahaan karena dia baru saja menikah dan suaminya melarangnya untuk bekerja kembali."
Aku berpikir sejenak. Rena adalah wanita yang cerdas dan dia juga lulusan sarjana Ekonomi. "Mas, bagaimana kalau Rena yang jadi sekertaris baru mas Arman?" usulku.
Mas Arman mengangguk setuju. "Ah itu ide bagus. Tapi kira-kira dia bisa profesional, tidak?"
"Insya Allah mas, nanti biar aku yang bicara dengannya."
Aku datang ke rumah Rena dan alangkah kagetnya aku ketiga ada dua orang laki-laki berbadan besar datang dan berteriak-teriak di depan rumah Rena yang tertutup rapat.Apakah Rena ada di dalam? Jika Rena ada di dalam, kenapa dia tak membuka pintu untuk mereka? Atau mungkin Rena sedang pergi.
"Assalamu'alaikum," ucapku menghampiri kedua laki-laki tersebut. "Bapak-bapak ini kenapa berteriak-teriak di depan rumah Rena?"
"Siapa anda?" tanya salah seorang dari mereka dengan tajam.
"Saya ini sahabat karib Rena," jawabku tenang. "Anda berdua ini siapa?"
"Tak penting kami ini siapa, yang jelas sampaikan saja kepada Rena, besok kami akan datang kembali," akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah Rena dengan muka yang sangat kusut.
Aku mengetuk pintu rumah Rena. Tak lama kemudian Rena membukakan pintu dengan muka yang murung.
"Siapa orang-orang tadi, Ren?" tanyaku sambil masuk ke rumah Rena.
"Mereka itu rentenir di kompleks ini, Ndah," jawabnya kusut.
"Rentenir?" aku bingung. "Ada urusan apa kalian?"
"Aku punya hutang kepada mereka, Ndah, dan hari ini sudah jatuh tempo."
"Hutang?" ulangku, dan Rena mengangguk. "Berapa hutangmu?"
"Dua puluh juta, Ndah," jawabnya.
"Begini saja, Ren, biarkan aku yang menanggung hutangnya. Aku masih ada sedikit uang di atm, mungkin cukup membayar semua hutang-hutangmu. Lagipula mereka akan datang lagi besok. Jadi bayar saja pakai uangku, Ren."
Rena menganga tak percaya. "Benarkah, Ndah?" aku mengangguk.
Aku mengambil uang di atm untuk membayar hutang Rena kepada rentenir itu dan saldoku hanya tinggal lima juta. Sebelum pulang, aku menyampaikan niatku untuk menjadikan Rena sebagai sekertaris mas Arman yang baru. Dengan senang hati, Rena menerima tawaranku karena dia juga sudah lama menganggur. Sesampainya di rumah, aku meminta mas Arman untuk mentransfer uang ke rekeningku yang sudah hampir habis.
"Lima juta?!" tanya mas Arman yang kaget saldoku hanya tinggal lima juta.
"Bukankah dua minggu yang lalu mas udah kirim uang dua puluh juta ke rekening kamu?"
"Habis mas," jawabku.
"Habis?" ulang mas Arman. "Ya Allah, Sayang sejak kapan kamu boros begini? Untuk apa uang dua puluh juta itu?"
"Aku baru saja membeli tas, mas, harganya dua puluh juta," jawabku bohong. Aku tak bisa bilang kepada mas Arman jika uang itu kugunakan untuk membayar hutang Rena. Aku tak ingin mas Arman berpikir macam-macam kepada Rena.
"Astagfirullahal'adzim," mas Arman menggeleng tak percaya. "Untuk apa membeli tas yang harganya dua puluh juta." mas Arman menarik napas. "Baiklah, nanti mas kirim uangnya. Jangan boros lagi ya, Sayang," gumam mas Arman sambil mengusap ubun-ubunku.
Aku mengangguk. Maafkan aku mas, karena aku bohong. Aku ikhlas kamu marah, mas. Aku tak ingin kamu berpikir macam-macam dan membenci Rena.
Hari ini adalah hari pertama Rena bekerja di kantor mas Arman sebagai sekertaris baru mas Arman. Dan sejak saat itu, Rena sering datang ke rumah dengan membawa Vina. Aku yang sampai saat ini belum mempunyai anak, senang rasanya akhirnya bisa bermain dengan Vina. Seminggu kemudian, Rena datang ke rumah sambil menangis. Rupanya dia dan Vina diusir dari kontrakan mereka. Aku dan mas Arman yang tak tahan, akhirnya mengizinkan Rena dan juga Vina untuk tinggal di rumah bersama kami. 
Tiga bulan lamanya Rena dan Vina sudah tinggal di rumah kami, dan aku senang akhirnya bisa mendapatkan teman di rumah. Tapi aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan mas Arman kepadaku. Entahlah, tapi aku diam saja. Aku tak ingin berprasangka kepada orang lain, atau bahkan suamiku sendiri. Aku percaya sepenuhnya kepadanya.
Malam ini mas Arman datang dengan muka yang sangat murung. Aku menyambutnya, yang dibalas dengan senyuman tipis kepadaku, sambil mengecup keningku singkat. Mas Arman mandi, dan aku merapikan pakaiannya. Astaghfirullah, aku menemukan sesuatu yang membuatku seperti tersambar petir. Dibalik kemeja yang dikenakan mas Arman, aku menemukan bekas lipstick merah perempuan. Aku tak ingat aku pernah memakai lipstick berwarna merah. Mas Arman yang baru saja keluar dari kamar mandi, bertanya kenapa aku menangis. 
"Tak apa, mas," ujarku sambil mengusap air mata yang mengalir perlahan melewati pipiku. "Mas pasti laper, ya? Ayo kita makan. Rena dan Vina sudah menunggu di meja makan, Sayang."
"Eh," mas Arman seperti bimbang. "mas tidak laper, Sayang. Kalian makan saja, ya? Mas capek, mas ingin tidur saja."
Aku meninggalkan mas Arman di kamar, dan menyusul Rena yang sudah duduk di meja makan bersama Vina. Akhirnya malam ini kami makan bertiga. Rena bercerita banyak lebar tentang pengalamannya kerja sebelum sekarang. Aku samar-samar mendengar cerita Rena, sambil pikiranku melayang-layang memikirkan lipstick merah di kemeja mas Arman yang kulihat tadi. Saat aku masuk ke dalam kamar, kulihat mas Arman sudah terlelap dalam tidurnya. Aku melepas jilbabku dan aku mulai tertidur di samping mas Arman yang membelakangiku. Pukul tiga malam mas Arman membangunkanku, seperti biasanya, dia mengajakku untuk shalat malam. Selesai shalat, aku hendak menanyakan soal lipstick yang masih menjanggal di pikiranku.
"Mas," kataku sambil melepas mukenah.
"Iya Sayang?" 
"Aku boleh tanya, tapi mas Arman jangan marah," pintaku.
"Tanya apa?"
Aku berdiri dan mengambil kemeja mas Arman yang tadi kugantungkan di belakang pintu. Aku menata hatiku supaya stabil dan tidak marah atau berkata kasar kepada mas Arman, bagaimanapun juga dia adalah suamiku yang harus kuhormati.
"Ini lipstik siapa, mas?" tanyaku sambil menunjukkan bekas lipstick merah di balik kemeja mas Arman. Kulihat muka mas Arman yang pucat pasi seperti anak kecil yang ketahuan sedang mencuri permen.
"Mas tidak tahu," kata mas Arman.
"Bagaimana mungkin mas tidak tahu?"
"Sayang, percaya deh sama mas. Mas tidak ada macam-macam di belakang kamu," gumam mas Arman sambil memegangi tanganku. 
Walaupun masih mengganjal, aku berusaha untuk percaya sepenuhnya kepada mas Arman. Hari demi hari kami lewati dengan suasana yang masih canggung akibat lipstick itu. Entah apa yang membuat aku dan mas Arman semakin jauh. Dua minggu setelah itu, aku kembali menemukan sesuatu yang membuat kepercayaanku kepada mas Arman runtuh. Aku mendengar ponsel mas Arman yang berdering. Mas Arman yang saat itu masih berada di kamar mandi, menyuruhku mengangkat telepon. Kenapa mas Arman belum menyimpan nomor telepon orang yang sedang menelpon ini? Ketika kuangkat dan kugumamkan salam, tiba-tiba teleponnya mati. Aku bingung siapa sebenarnya orang yang menelpon mas Arman ini? Baru kuletakkan ponselnya di atas kasur, ada satu pesan baru masuk. Ketika kubuka, aku lemas dan rasanya hampir jatuh. Pesan singkat itu berisi, 'Thanks untuk hari ini, Sayang'. Entah siapa pengirimnya, tak ada nama, yang ada hanya nomor yang belum dikenal. Aku menangis tersedu di samping ranjang. Ya Allah, ada apa lagi ini? Kenapa dengan rumah tanggaku?
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya mas Arman lembut ketika dia baru saja selesai mandi.
"Mas, aku mohon, tolong jujur saja."
"Maksud kamu apa?"
"Siapa perempuan itu, mas?" tanyaku dengan suara yang mulai meninggi.
"Perempuan?"
Aku menunjukkan isi pesan singkat itu kepada mas Arman. Wajahnya berubah merah, entah karena marah atau karena malu ketahuan olehku. Dia mengambil ponselnya dari tanganku, lalu membantingnya di lantai hingga ponselnya terbelah menjadi tiga bagian dan berserakan di lantai. Aku semakin menangis. Mas Arman memelukku, mengusap air mataku yang terjatuh.
"Perempuan itu sengaja mengganggu kita," gumam mas Arman pelan. "tolong percaya kepada mas, mas sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu. Mas sayang sama kamu. Demi Allah mas tidak ikhlas perempuan itu masuk ke dalam rumah tangga kita."
Tangisanku meledak. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak tahu apakah aku harus mempercayai perkataan mas Arman atau tidak. Kukira perempuan itu, entah siapapun dia, sudah menyerah. Tapi dugaanku salah. Dia mengirimu berbagai macam sms singkat yang mengancamku menjadi janda. Aku yang tak tahan dengan sikap perempuan itu, akhirnya menanyakan langsung kepada mas Arman siapa sebenarnya perempuan itu. Mas Arman tak pernah menjawabnya. Aku diam saja hingga akhirnya ada kiriman untukku dari pengirim yang tidak menyebutkan namanya. Aku tak tahu pasti apa isi dalam bungkusan amplop cokelat itu. Dan ketika kulihat, aku merasa lututku lemas tak mampu menopang tubuhku lagi. Di dalam amplop itu ada beberapa foto mas Arman dengan seorang perempuan yang sangat aku kenal. Di dalam foto itu, mas Arman sedang tertidur pulas di samping perempuan itu. Parahnya, perempuan itu adalah Rena! sahabat karibku sendiri. Aku seperti tersambar petir. Aku menangis tak ada hentinya. Mas Arman pulang, yang tak lama kemudian disusul Rena pulang.
Di dalam kamar, aku menunjukkan foto-foto itu kepada mas Arman. Serentak aku tak tahu kenapa, aku sangat membencinya. Rasanya aku tak ingin melihat wajahnya lagi. Aku merasakan amarah yang tak tertahankan lagi. Jujur saja, mas Arman telah mengkhianatiku, dia telah menghancurkan rumah tangga yang selama ini kami bangun.
"Aku tahu aku tidak mampu melahirkan seorang anak untukmu, mas!" kataku tajam. "Tapi bukan seperti ini caranya. Aku pernah menyuruhmu menikah lagi, kamu menolak. Dan sekarang, kamu malah selingkuh di belakang aku dengan sahabat karibku sendiri!"
"Ini tidak seperti apa yang kamu lihat, Indah," ratap mas Arman yang menangis. "Tolong percaya, Rena menjebak mas. Dia itu bukan perempuan baik-baik, Ndah."
Aku menutup telingaku. "Tolong mas," gumamku yang masih menangis. "jangan bicara apa-apa lagi." Aku berlari meninggalkan mas Arman dan di tengah tangga aku bertemu dengan Rena yang baru saja pulang. "Ren, tega kamu, ya?" rintihku.
"Oh, kamu sudah melihat foto-foto itu, ya?" kata Rena tanpa perasaan.
Aku tak mengerti kenapa Rena tega melakukan itu semua kepadaku. "Inikah balasanmu? Kenapa, Ren? Kenapa!" aku tak mampu menahan amarahku. "Apa salahku kepadamu?"
"Salahmu?" ulang Rena dengan nada mengejek. "Kamu ingin tahu kesalahanmu?" Rena tertawa keras. "Kesalahanmu adalah hidupmu yang begitu sempurna! Kenapa kamu yang harus memiliki suami yang tampan dan baik, rumah mewah, harta banyak! Kenapa bukan aku!" teriak Rena.
Aku menekap mulutku tak percaya atas apa yang baru saja keluar dari mulut Rena. "Astaghfirullahal'adzim," gumamku. "Kamu iri? Kenapa harus iri dengan perempuan cacat sepertiku?! Aku bukanlah wanita sempurna yang diharapkan laki-laki. Aku tak bisa melahirkan seorang putra!" hujamku. Tubuhku bergetar karena berusaha menahan marah. Tangisanku lebih mirip seperti lolongan. Aku melihat mas Arman berlari menghampiriku, dan dari sudut mataku kulihat mbok Inem berdiri di ujung tangga dengan mata yang berair.
"Sayang, kumohon," ujar mas Arman sambil memegangi lengan kiriku.
"Sudahlah mas, tak perlu lagi kamu menyembunyikan tentang hubungan kita selama ini," kata Rena dengan senyuman sinis.
"Apa-apaan sih kamu, Ren!" teriak mas Arman marah. "Sayang, jangan dengarkan mulut setan ini," mas Arman memohon kepadaku. Aku yang sudah terlanjur sakit hati, tak mampu lagi percaya kepada mas Arman.
Rena mengelus-elus perutnya dengan tersenyum lebar. "Ada berita bagus yang harus kamu ketahui, Indah," gumamnya. "Aku telah hamil. Dan anak dalam kandunganku ini adalah darah daging mas Arman."
Hatiku teriris. Rena hamil? Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini. Kurasa mas Arman sudah tak membutuhkanku lagi. Malam ini juga aku merapikan seluruh pakaianku ke dalam koper, tanpa memedulikan mas Arman yang berlutut di sampingku sambil menangis merengek memintaku untuk tetap tinggal di sini. Aku tak tahan jika harus tinggal bersama wanita yang telah mengandung bayi mas Arman, apalagi wanita itu adalah Rena yang belum halal untuk mas Arman.
"Sudahlah mas, aku akan angkat kaki dari rumah ini," kataku tajam. "jaga bayimu, mas. Assalamu'alaikum."
Mbok Inem yang tak tega melihat keadaanku kacau seperti ini, akhirnya ikut pergi denganku dan menawarkanku untuk tinggal bersamanya di rumahnya. Aku setuju. 
Setelah malam itu, aku sudah tidak pernah berhubungan dengan mas Arman, Rena, atau bahkan Vina. Mbok Inem sudah tidak bekerja di rumah mas Arman lagi. Aku dan mbok Inem memutuskan untuk berjualan kue keliling, untuk menunjang biaya hidup kami. Aku sudah menganggap mbok Inem seperti ibuku sendiri sejak dulu, karena dia memang sangat baik kepadaku dan juga mas Arman.
Suatu sore ketika aku berjualan di taman kota, aku merasa lelah dan kue daganganku belum ada yang laku satupun. Aku duduk di kursi seraya mengelap keringat yang mulai muncul membentuk titik-titik di keningku. 
"Tante Indah!" ada yang meneriakkan namaku, aku menoleh sekeliling dan kudapati Vina sedang berlari ke arahku. Aku senang sekali bisa bertemu dengan Vina hari ini, jujur saja aku merindukan tingkah lakunya yang lucu itu. Dia berlari memelukku, dan aku mengecup keningnya. "Vina kangen, Tante." Vina merengek di pelukanku.
"Iya Sayang, Tante juga kangen sama Vina," gumamku, tak kurasa air mataku mengalir. Belum sempat aku bertanya kepadanya dengan siapa dia di sini, suara Rena membuatku tersentak.
"Vina! Sudah Mama bilang berkali-kali, jangan pernah berhubungan dengan Tante Indah ini!" teriak Rena memarahi Vina. Kulihat perut Rena yang sudah mulai membesar, dengan tangan kanan dan kiri yang penuh dengan barang belanjaan. Rena membebaskan satu tangannya dan langsung menarik Vina dari pelukanku dengan kasar.
"Rena! Jangan kamu memarahi anakmu," tukasku tajam. "dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa."
"Dia adalah anakku! Tidak ada urusannya denganmu, perempuan yang tak bisa hamil." Rena tersenyum sinis sambil menjauh.
Ya Allah, aku sakit. Bathinku terasa seperti ditusuk-tusuk. Kuatkan aku, ya Allah. Kemudian kulihat Rena balik menghampiriku kembali.
"Ah, aku hampir lupa," gumamnya, tangan kanannya mengorek-orek isi tasnya. Lalu dia menyerahkan sebuah map berwarna cokelat."Tanda tangan saja di sini, mas Arman sudah menyuruhku untuk mengurus perceraian kalian. Lebih cepat lebih baik."
Aku menerima map itu dengan tangan bergetar akibat menahan amarah. "Baiklah, aku akan menandatangani ini."
Rena meninggalkan aku yang terluka. Aku menangis, lututku terasa lemas. Aku tak sanggup lagi untuk berkeliling guna menjual kue-kueku. Kuputuskan untuk pulang saja. Kulihat mbok Inem sudah ada di rumah. Aku menceritakan semua kejadian di taman tadi kepada mbok Inem, membuatnya sangat marah dan menghujat Rena. Aku menggeleng, kukatakan kepadanya bahwa aku baik-baik saja.
Selesai shalat isya, aku menandatangani surat perceraianku dengan mas Arman. Bismillah, jika memang ini yang terbaik, aku ikhlas. Tiga tahunku bersama mas Arman berhenti cukup sampai disini. Aku sama sekali tak mengharapkan sebuah perpisahan dengan mas Arman, apalagi karena sahabat karibku sendiri yang menjadi orang ketiga dalam hubungan kami. Sungguh aku tak pernah menyangka. Tapi apa yang tidak mungkin jika Allah berkehendak? Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidak pastian itu sendiri. Aku memejamkan mataku, mengingat bagaimana dulu mas Arman mengucapkan ikrar suci di hadapan keluarga kami, dan bahkan di hadapan Al Qur'an yang menjadi saksi. Aku mengingat dulu bagaimana mas Arman datang ke rumahku untuk meminangku. Ya Allah, semuanya kini terasa kosong. 
Keesokan paginya, Rena datang ke rumah mbok Inem, meminta surat perceraian itu kepadaku. Awalnya susah, tapi akhirnya aku bisa untuk tidak menangis. Kuserahkan surat perceraian yang telah kutanda tangani itu ke tangan Rena. Tanpa basa-basi Rena langsung membawa surat perceraian itu pergi. 
Dua minggu tak ada kabar, kenapa perceraianku dengan mas Arman belum juga ada kabar. Aku duduk-duduk di teras rumah dengan mbok Inem, kami bercanda dan tertawa bersama. Aku melihat mobil mas Arman berhenti tepat di rumah mbok Inem, aku dan mbok Inem langsung terdiam. Mas Arman menghampiri kami dan dia menangis. Mas Arman menarik tanganku dan langsung menciumi telapaknya. Aku bingung dengan sikap mas Arman.
"Mas tidak ingin kita cerai," rengeknya. "tolong, jangan pernah berpikir mas akan menceraikan kamu."
Aku kaget. Bukankah mas Arman sudah menyuruh Rena mengurus seluruh perceraianku dengan mas Arman? Kenapa sekarang, tiba-tiba saja, mas Arman mengatakan bahwa dia tak ingin berpisah denganku. Aku diam tak menjawab. Mbok Inem yang tak tega menyaksikan mas Arman, berlalu dan masuk ke dalam rumah.
"Kamu sudah mengkhianati pernikahan kita, mas," aku mengingatkannya. "Kamu sudah menghamili sahabat karibku sendiri."
"Sumpah, demi Allah, semua ini jebakan dari Rena," mas Arman masih menangis. "aku tak tahu kalau dia hamil. Demi Allah, percaya sama mas. Mas tidak pernah ada niat untuk menghancurkan rumah tangga kita. Mas sangat sayang kepadamu."
"Bagaimanapun juga, Rena mengandung anak kamu, mas!" tukasku tajam. "Sebagai laku-laki, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan! Menikahlah dengan Rena, ceraikan aku mas."
Mas Arman terlihat sangat putus asa. Jujur saja, aku masih sangat mencintai mas Arman. Tapi aku tak bisa terus bersamanya. Aku ikhlas jika Rena menggantikan posisiku. Mas Arman meninggalkan rumah mbok Inem dengan perasaan yang sulit kutebak. Sepertinya mas Arman sangat frustasi dengan keputusanku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bingung, satu sisi diriku tak ingin berpisah dengan mas Arman. Tapi sisi lainnya mengatakan aku harus melakukan ini.
Sejak saat itu mas Arman tak pernah mendatangi aku lagi di rumah mbok Inem. Dua bulan berlalu, aku dan mbok Inem hanya hidup dengan hasil dari berdagangan kue. Aku menanti-nanti kabar perceraianku dengan mas Arman. Tapi entah kenapa, sampai saat ini tak kunjung ada kabar.
Malam ini, selesai aku dan mbok Inem shalat isya' berjamaah, ada yang mengetuk pintu rumah mbok Inem. Siapa yang bertamu malam-malam begini. Kubuka pintu, dan alangkah kagetnya aku ketika melihat tamu-tamu yang datang ke rumah mbok Inem. Mas Arman yang berdiri dengan muka murung dan tampak kelelahan, kurasa akhir-akhir ini mas Arman kurang tidur. Di samping kanannya ada Vina yang tersenyum lebar kepadaku. Dan yang sangat membuatku terkejut adalah Rena dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Rena duduk di atas kursi roda, dia memakai wig pendek sebahu, dan terlihat hitam di bawah lingkaran matanya. Tangan Rena yang mengelus-elus perutnya membuatku sadar bahwa perut Rena sudah rata. Apa mungkin dia sudah melahirkan? Tapi tidak mungkin, usia kandungannya kan masih tujuh bulan. Ada keinginan untuk bertanya, tapi kutahan. Kupersilahkan mereka masuk. 
"Mari silakan masuk," kataku mempersilakan mereka untuk masuk.
"Indah, aku minta maaf," Rena tiba-tiba menangis tersedu. Aku tak mengerti. "Aku tak layak untuk kamu perlakukan sebaik ini," gumamnya sambil terisak. Tangannya menarik tanganku, menciumnya. Tanganku lembab dan basah akibat air matanya. Aku yang tak tahan, akhirnya menangis juga. "Maafkan aku, aku sudah membalas semua kebaikanmu kepadaku selama ini dengan kejahatan. Maafkan aku."
Aku menatap mas Arman yang terlihat menangis.
"Aku kehilangan bayiku," isak Rena. Aku menekap mulut, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Rena. "Aku kehilangan bayiku," ulangnya. "tapi itu bukan bayi mas Arman." Aku menangis semakin dalam. "Maafkan aku. Aku sengaja membuat rumah tangga kalian hancur, agar aku bisa menikmati harta mas Arman. Maafkan aku, Ndah."
Aku serasa tersambar petir. "Mintalah ampunan kepada Allah, Rena," ujarku setelah dapat menahan isak. "Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum ini."
"Kamu baik sekali, Indah," Rena masih terisak. "Aku tak tahu siapa yang paling beruntung diantara kamu atau mas Arman. Kamu cantik, sholehah, dan sabar. Sementara mas Arman sangat baik, dan setia kepadamu, Indah."
Aku tak tahu harus menanggapi perkataan Rena dengan apa. 
"Selama ini aku menjebak mas Arman, agar kamu percaya bahwa mas Arman telah selingkuh di belakang kamu. Tapi mas Arman sangat mencintaimu, Indah. Dia tak pernah menyentuhku, atau bahkan melirikku saja tidak."
Mas Arman berlutut di depanku, memintaku untuk kembali. Aku tak tahan dengan semua ini. Aku tetap mendengarkan Rena, tak memedulikan mas Arman yang masih terisak. Dari apa yang dibicarakan Rena, aku mengetahui semuanya. Selama ini Rena-lah yang menjebak mas Arman. Mulai dari lipstick merah di kemeja mas Arman, dan bahkan sampai foto-foto yang menunjukkan mas Arman sedang tidur bersama Rena. Rena mengaku, dia telah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman mas Arman. Aku bersyukur akhirnya Allah telah menunjukkan kebenaran kepadaku. Aku meminta maaf kepada mas Arman karena tak mempercayainya selama ini. Dan dari Rena, aku juga tahu bahwa mas Arman tak pernah berniat untuk menceraikan aku. Dia tak pernah menandatangani surat perceraian yang ternyata itu semua diatur oleh Rena. Kehamilan Rena bukan karena mas Arman, tetapi karena kekasih Rena yang sampai saat ini belum mampu menikahinya. Rena memanfaatkan kehamilannya untuk menguras harta mas Arman dengan mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya adalah darah daging mas Arman. Astaghfirullahal'adzim. Allah memang Maha Adil. Dia telah menunjukkan kebenaran kepadaku di saat aku merasa tersesat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika semua ini tak dibongkar oleh Rena. Mungkin selamanya aku akan berprasangka buruk terhadap mas Arman, atau bahkan membencinya.
"Allah membalas semua perbuatanku, Indah," gumam Rena dalam tangisnya. "sekarang, aku bukanlah wanita sehat yang bisa menghabiskan uang dengan berbelanja. Aku terserang kanker serviks stadium akhir." Rena menarik wig pendek yang dikenakannya untuk menutupi kepalanya, dan ketika wignya jatuh terlepas, aku melihat kulit kepala Rena tanpa sehelai rambut pun. Aku kaget dan menutup mulutku. Aku semakin menangis, tak tahan melihat keadaan Rena sekarang. "Mungkin hidupku takkan lama lagi," isak Rena. "Jika sesuatu terjadi padaku, aku menitipkan Vina kepada kalian. Tolong rawat dan jaga dia." Pandangan mata Rena mulai memburam.
Aku mengangguk. "Rena, kumohon, kamu adalah wanita yang kuat. Kamu pasti bisa bertahan melewati ini semua," aku menggenggam jemari Rena dengan lembut.
Rena menggeleng. "Tidak, Indah. Aku tidak sekuat yang kamu kira. Aku menyerah dengan kehendak Allah. Inilah yang terbaik."
Akhirnya aku dan mbok Inem kembali ke rumah mas Arman. Aku senang Rena berusaha memperbaiki diri dan mampu bertahan dari penyakitnya. Hingga suatu saat Rena pingsan di kamar mandi, waktu itu mas Arman sedang di kantor, sementara Vina pergi sekolah. Tinggal aku dan mbok Inem di rumah. Kami melarikan diri Rena ke rumah sakit. Sayangnya nyawa Rena tak mampu ditolong lagi. Rena menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Aku menangis dan memberitahu mas Arman. Sejak saat itu kami mengadopsi Vina menjadi anak sah aku dan mas Arman.