Selamat malam, bagaimana hari-harimu tanpa diriku? Aku sudah baik-baik saja tanpa dirimu. Bahkan sangat baik tanpa dirimu. Memang awalnya susah untuk melupakanmu, tapi alhamdulillah aku mendapat support dari keluarga dan orang-orang terdekatku. Mereka selalu memberiku nasihat-nasihat yang membuatku bangkit kembali. Mereka membuatku sadar bahwa kau bukanlah segalanya. Mereka membuatku membuka mata selebar-lebarnya. Aku tak boleh seperti itu terus menerus. Aku tak boleh terus merindukan seseorang yang tak bisa kumiliki. Aku sudah menghapus segala sesuatu yang mungkin mengingatkanmu kepadanya. Sekarang, yang tersisa hanyalah jaket putih yang dulu pernah kau pinjamkan untukku. Aku janji, suatu saat kalau Allah mempertemukan kita kembali, akan kukembalikan jaket itu. Aku tak ingin jaket itu ada di dalam lemariku semakin lama lagi, akhirnya maaf jika kutaruh jaket itu di tempat lain yang tidak memungkinkan untukku melihatnya setiap hari. Untuk melupakan masa-masa indah bersamamu, aku harus siap kehilangan semuanya. Menghapus semua foto-fotomu dari laptopku, menghapus VN yang dulu pernah kau kirimkan untukku, menghapus semua nomor telepon yang dulu pernah kau gunakan untuk menghubungiku, menghapus pertemanan denganmu di facebook, itu semua membuatku lega dan aku yakin akan sangat mudah untuk melupakanmu.
"Hapus semua yang memungkinkanmu ingat kepadanya, perlahan tapi pasti, kau akan mudah melepaskannya. Relakan dia yang bukan untukmu. Aku tahu sulit rasanya melupakan kenangan ketika bersama, aku pun pernah merasakan itu. Tapi pelan-pelan saja, kau pasti bisa". Aku lega mendengar nasihat-nasihat dari keluarga dan sahabat-sahabatku.
Memang kau pikir siapa dirimu?! Kau pikir aku takut kehilanganmu? Tidak. Awalnya memang begitu karena kupikir kau lain daripada yang lain. Kupikir kaulah satu-satunya lelaki yang beda. Tapi setelah kutahu, kau sama saja seperti yang lain. Tidak lebih apapun. Izinkan aku mem-bencimu saat ini. Karena mungkin membencimu lah satu-satunya hal yang bisa kumiliki selain membalas dendam kepadamu. Sejak saat itu, aku merasa muak kepadamu. Jangankan mengingat wajahmu, jangankan menyebut namamu, mendengar namamu disebut saja rasanya sudah menjadi hal yang tabu untukku. Aku tak ingin lagi menyebut namamu! Aku tak ingin lagi mengingat bagaimana kau menyakitiku begitu dalam. Pergi jauh-jauh, aku tak butuh lelaki sepertimu yang mudah memberikan mimpi-mimpi manis kepada wanita mana pun. Aku tak butuh lelaki yang selalu mengobral kata-kata manis tanpa menghargai seseorang yang begitu tulus mencintainya. Aku tak butuh lelaki yang tidak mengakui keberadaanku. Aku tak butuh lelaki yang memanfaatkan 'jarak jauh' untuk bisa melakukan pendekatan dengan wanita lain. Aku tak butuh lelaki yang NATO 'Not Action Talk Only'
Bye maksimal! I hate you!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar