Minggu, 22 Februari 2015

Takdirku adalah Bersamamu...

Aku tahu kita ditakdirkan bersama. Aku yakin itu. Allah tak mungkin mempertemukan kita tanpa sebuah alasan. Dan yang kutahu, alasan itu adalah untuk mempersatukan kita. Selama ini, jatuh berkali-kali pun kita tetap bangkit dan bersama kembali. Allah tahu bagaimana kita saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi. Kuharap semuanya akan berjalan seperti apa yang kita harapkan. Allah tahu yang terbaik. Dengan siapapun kita pada akhirnya, itulah yang terbaik. Maaf jika selama ini aku selalu membuatmu kecewa, membuatmu khawatir akan keadaanku. Dibalik itu, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Percayalah, aku selalu berusaha yang terbaik untukmu. Jangankan lima tahun, seratus bahkan seribu tahun pun aku akan bersabar menunggumu kembali kepadaku. Terimakasih untuk tiga tahun terindah dalam hidupku. You're All I need.

Pagi, siang dan malam yang kuhabiskan bersamamu adalah yang terindah. Aku bersyukur kepada Tuhan yang memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu. Kau adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku. Aku bukanlah diriku, sebelum bertemu denganmu. Setelah bertemu denganmu, aku merasa menjadi wanita sempurna dan aku bahagia.

Kau membuatku berpikir bagaimana dengan diriku jika kehidupan selanjutnya aku tak bisa bersamamu? Sebelumnya aku tak pernah memikirkan masa depan. Setelah mengenalmu, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana masa depanku, seakan aku telah mendapatkan harapan yang baru yang bahkan jauh lebih indah. Kau membuatku berpikir bagaimana jika suatu saat aku menjadi ibu dari anak-anakmu kelak? Ah aku tak sabar menantikan hal itu. 

Seringkali kita terjatuh, terpuruk, tersandung. Tapi kau selalu membuatku yakin, kita bisa melewati semuanya. You makes me believe that there is nothing in this world I can't be. Terimakasih sudah berada di sampingku. Terimakasih untuk suka, duka, tawa dan luka selama ini. I Love You.

Jumat, 13 Februari 2015

I Love OOTD (Outfit Of The Day) photos !!!










Ketika aku memilih untuk diam

Hari itu adalah hari di mana aku mulai merasakan ada keretakan dalam hubungan kita. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Hari-hari berikutnya, aku masih merasakan hal itu dan bahkan lebih parah. Malam itu, puncak dari amarahku. Aku tenggelam dalam luka hatiku sendiri. Aku hanyut dalam air mata yang selama ini hanya menggenang di pelupuk mataku. Kurasakan hatiku telah tercabik-cabik olehnya. Mulai saat itu, logika ku mengambil alih tubuhku. Aku mulai berpikir, untuk apa bertahan sejauh ini? Kenapa aku tak punya alasan untuk berhenti? Selama ini cinta telah membunuh logikaku. Cinta membuatku seakan aku adalah manusia tanpa logika, tanpa otak!!! Toh selama ini aku hanya bisa menunggu. Dan sekarang aku tahu, tak ada lagi yang membuatku harus menunggu. Aku bisa berhenti sekarang. Ya, berhenti mengharapkanmu.
Sudahlah. Aku merasa tak dihargai lagi, jadi untuk apa bertahan? Untuk tetap terluka? Ah, bodoh!!! Sering kali kau menyakitiku, pernahkah aku meninggalkanmu? Mungkin aku pernah menyerah, itu hanya karena aku ingin membuatmu sadar akan kesalahanmu. Tapi apa kau pernah merubah sedikit keburukanmu itu? Tidak! Berkali-kali kubilang, lihat dengan siapa dan kapan kau berbicara. Tak semua orang bisa menerima apa yang kau katakan. Kau tak pernah tahu apakah mereka tersakiti atau tidak, bukan?
Ah. Capek. Biarlah. Ini. Berlalu.