Rumah Tanggaku Dihancurkan Sahabat Karibku
Malam ini adalah hari yang paling spesial untukku dan juga suamiku, mas Arman. Hari ini adalah Anniversary day pernikahan kami yang ketiga. Mas Arman mengajakku ke sebuah restoran mewah untuk melakukan candle light dinner. Namaku Indah, dan aku adalah wanita paling beruntung yang bisa bersanding dengan mas Arman. Tak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaanku saat mas Arman meminangku tiga tahun yang lalu. Suka duka kami lalui bersama. Awal menikah, mas Arman belum mempunyai apa-apa. Bahkan setiap harinya, untuk makan sehari sekali saja kami sudah merasa sangat bersyukur. Dan sekarang, Alhamdulillah, kami sudah berkecukupan. Tiga tahun menikah, kami belum juga mendapatkan buah hati. Mungkin inilah ujiannya setelah kami mendapatkan begitu banyak kenikmatan dari Allah. Aku beruntung memiliki suami yang begitu baik seperti mas Arman. Aku pernah menyuruh mas Arman untuk menikah dengan wanita lain agar segera memiliki buah hati, namun mas Arman menolak. "Rezeki, umur, dan maut adalah kehendak Allah. Allah belum memberi kita rezeki anak mungkin karena kita belum cukup mampu untuk menjaga titipan-Nya. Suatu saat, insyaAllah, kita akan memiliki anak. Yang harus kita lakukan adalah bersabar dan berdo'a. Serahkan semuanya kepada Allah." selalu itu yang dibilang mas Arman kepadaku. Hatiku teriris. Aku sangat bersyukur, kesempurnaan hidupku adalah karena mas Arman yang melengkapiku. Malam ini, kami sangat menikmati suasana romantis yang disiapkan mas Arman untukku. Aku duduk termenung, menatap wajah suamiku yang tersenyum kepadaku. Sungguh aku mencintainya, ya Allah. Selesai makan malam, kami pulang ke rumah.
Keeseokan harinya, ketika mas Arman berangkat kerja, aku berangkat ke rumah sakit untuk membeli vitamin. Ketika masih duduk menunggu antrian, aku melihat seorang anak perempuan yang usianya sekitar empat tahun. Anak itu duduk dengan wajah yang pucat pasi dan badan terkulai lemas. Aku kasihan melihat anak itu duduk sendirian. Aku bertanya-tanya ke manakah bundanya? Tak lama setelah itu datang seorang perempuan dengan postur tubuh yang ramping. Rambut pirangnya terurai panjang dan sedikit bergelombang di bagian bawahnya. Kulitnya putih dan sehat terawat. Sebentar kulihat keadaan anaknya, jika memang itu ibunya, kenapa penampilan kedua anak dan ibu ini sangat bertolak belakang? Ibunya terlihat seperti wanita karir yang tidak ketinggalan jaman, sedangkan melihat si anak, terlihat sangat lusuh dan kumuh. Anak itu merengek ke ibunya dan seperti mengeluh kesakitan. Sekilas ibunya menolehkan wajahnya, dan aku merasa familiar dengan wajah wanita itu. Aku tak ingin salah, kudekati wanita dengan anak perempuannya itu. Dan ketika dia menolehku, kuamati dari dekat memang aku mengenalnya.
"Rena! Subhanallah," aku memeluknya. Dia adalah Rena, teman sebangkuku ketika masih SMA dulu. Dia bukan sekedar teman atau sahabat untukku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri.
"Indah!" Rena balas memelukku.
"Ini, siapa?" tanyaku sambil tersenyum kepada anak perempuan itu.
"Ini anakku, Ndah." Rena tampak sedih. "Dia sedang sakit. Kamu ada keperluan apa disini, Ndah?"
"Cantik sekali, Ren," kataku sambil mengusap lembut pipi anak Rena. "Ah, aku ingin menebus vitamin saja, Ren. Siapa namanya, Ren?"
"Vina." Rena menoleh kepada anaknya. "Nak, perkenalkan ini Tante Indah, teman Mama."
Vina meringis, entah itu karena ingin tersenyum kepadaku atau karena menahan rasa sakit.
"Sakit apa anakmu, Ren?"
"Positif DB, Ndah," jawabnya kusut. "Dia harus dirawat inap, tapi aku tak punya uang untuk membayar biayanya. Jadi aku membelikan saja obat untuk dia dirawat di rumah saja, Ndah."
"Ya Allah," aku menekap mulutku. "Ren, biarkan Vina dirawat inap di rumah sakit ini. Seluruh biayanya, biar aku yang menanggungnya. Keselamatan Vina itu lebih penting, Ren."
Rena terlihat seperti tak percaya. "Sungguh?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk. "Ndah, terima kasih sebelumnya. Kamu memang sangat baik, sejak dulu kamu selalu membantuku saat kesusahan. Terima kasih," Rena terisak dalam pelukanku. Aku mengusap-usap punggungnya.
Akhirnya Vina mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Sambil menunggu Dokter yang memeriksanya, aku dan Rena berbincang-bincang di luar kamar. Rena menangis ketika menceritakan kehidupannya kepadaku. Dia dan suaminya telah bercerai dua tahun yang lalu, dan semenjak itu Rena harus bekerja mati-matian untuk menghidupi dia dan anaknya, yang masih membutuhkan pendidikan. Mereka hidup di sebuah kontrakan sederhana. Aku turut prihatin dengan keadaan Rena.
"Oh iya, kamu sudah menikah?" tanyanya sambil mengusap air mata yang sudah bercucuran membasahi pipinya.
"Alhamdulillah," aku mengangguk. "Aku pasti mengenalkan kalian dengan suamiku. Ini," aku menyodorkan kartu nama mas Arman kepada Rena. "jika suatu saat kalian ingin berkunjung ke rumah kami. Datang saja kapanpun kalian bisa, insyaAllah aku ada di rumah, Ren." Rena mengangguk.
Karena hari sudah mulai gelap, aku pamit pulang kepada Rena dan Vina. Sesampainya di rumah, aku melihat mobil mas Arman sudah terparkir di halaman. Aku bertanya-tanya, tak biasanya mas Arman pulang secepat ini.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam," jawab mas Arman yang sedang menonton acara televisi. Aku menghampirinya dan mencium permukaan tangannya. "Dari mana, Sayang?" tanyanya.
"Dari rumah sakit, mas. Vitaminku habis."Aku duduk di samping mas Arman. "Loh mas Arman tumben pulang cepat?"
"Iya, kangen saja sama kamu," jawabnya menggodaku. Aku tersipu.
"Mas," kataku. "waktu di rumah sakit tadi, aku bertemu Rena, teman SMA ku dulu. Dia sedang memeriksakan anaknya yang ternyata positif DB."
"Ya Allah," gumam mas Arman.
"Iya, mas. Rena tidak mempunyai cukup biaya untuk membayar biaya rumah sakit. Jadi, aku berniat membantunya. Menurut mas, gimana?"
Mas Arman mengangguk. "Iya Sayang, kasihan. Kamu bantu saja."
"Makasih, mas."
Seminggu setelah aku menyelesaikan administrasi biaya rawat inap Vina di rumah sakit, aku sama sekali tidak bertemu dengan Rena dan juga Vina. Sore ini aku harus melepas mas Arman untuk pergi ke luar kota untuk urusan bisnis dalam tiga hari mendatang. Sekarang, di rumah, hanya ada aku dan mbok Inem, orang yang membantu kami dalam melakukan pekerjaan rumah. Sore ini aku duduk di depan televisi, berusaha menikmati acara televisi yang sebetulnya aku hanya ingin menghabiskan waktu. Belum sehari mas Arman pergi, aku sudah sangat merindukannya.
"Nya, ada tamu buat Nyonya," kata mbok Inem yang menghampiriku.
"Tamu? Buat saya, mbok?" tanyaku memastikan. Tak biasanya ada tamu yang datang untuk mencariku. Karena biasanya tamu yang datang sebagian besar adalah kolega dan rekan-rekan mas Arman dalam urusan bisnis. Aku menegakkan badanku, merapikan jubah hitam panjang dan jilbab hijauku. Aku senang sekali ketika tahu tamu untukku adalah Rena dan Vina. Aku memeluk Vina yang sudah kembali ceria.
"Kenapa baru datang sih?" gumamku. "Ya Allah, Vina, kamu cantik sekali. Mirip sekali dengan Mamamu," godaku dan Vina tersipu malu. "Masuk, mari silakan masuk."
Aku membimbing Rena dan Vina untuk duduk di sofa ruang tamu depan. "Mbok," aku memanggil mbok Inem. "Tolong buatkan minuman dua, ya?"
"Iya, Nya," sahut mbok Inem dari dapur.
Rena menaruh sebuah bingkisan di atas meja. "Ini, Ndah, kami datang untuk membawa sedikit oleh-oleh untuk kamu dan suamimu."
"Masha Allah, tak usah repot-repot, Ren." Aku tersenyum. "Kalian datang kemari saja sudah sangat cukup untukku."
"Mana suami kamu, Ndah?"
"Eh iya, mas Arman pergi ke luar kota untuk urusan bisnis," jawabku. "Tapi mas Arman sudah tahu tentang kalian kok, dia juga menitipkan salam untuk kalian."
Kami berbincang-bincang mengulang masa lalu sewaktu SMA dulu, sementara Vina bermain dengan mbok Inem. Malam harinya, Rena dan Vina pamit pulang.
Tiga hari lamanya aku berpisah dengan mas Arman. Aku sangat merindukannya, walaupun setiap malam kami masih bisa mengobrol lewat telepon. Pagi ini aku dan mbok Inem berbelanja di pasar. Sepi rasanya harus sarapan dengan mbok Inem saja.
"Kalau saja saya punya anak, ya, mbok?"
"Nya tidak boleh begitu," sahut mbok Inem. "Nyonya harusnya bersyukur mempunyai suami yang sangat baik dan juga setia seperti mas Arman."
"Iya, mbok," aku mengangguk. "rasanya itu sudah sangat cukup buat saya."
Setelah tiga hari mengurus bisnis di luar kota, akhirnya mas Arman pulang. Aku senang sekali dengan kedatangan kembali mas Arman ke rumah. Sungguh, aku merasa seperti pertama kalinya bertemu dengan mas Arman setelah sekian lama tak bertemu.
"I miss you," ucap mas Arman lembut, dia memelukku erat lalu mencium keningku.
"I miss you too," balasku sambil menciumi tangan mas Arman.
"Ditinggal tiga hari, kok istriku semakin cantik saja," gurau mas Arman yang membuatku malu.
"Malu ih, ada mbok Inem," aku mengangguk ke arah mbok Inem yang menundukkan kepalanya.
Keesokan paginya, mas Arman pamit berangkat ke kantor. Aku telah meminta izin ke mas Arman untuk sekedar jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Dan mas Arman mengizinkanku pergi, tapi harus dengan mbok Inem. Aku setuju. Akhirnya aku dan mbok Inem menuju pusat perbelanjaan dan berjalan-jalan sekedar untuk melihat-lihat. Ketika aku dan mbok Inem berhenti di suatu stan baju, sekilas aku melihat sosok Rena dengan seorang pria yang berpostur tinggi besar dengan kulit sawo matang. Siapa pria yang sedang bersama Rena itu? Tapi aku tak memedulikannya. Mungkin saja itu rekan kerja Rena atau yang lainnya. Aku mengamati mereka hingga sosok mereka menghilang dari jangkauan pandanganku.
Sesampainya di rumah, aku mandi dan berusaha melupakan pemandangan yang kulihat tadi. Mungkinkah itu kekasih Rena? Ah, aku tak boleh berprasangka.
Sabtu ini, Rena berjanji akan berkunjung kembali ke rumahku karena sangat ingin bertemu dan berkenalan dengan mas Arman. Hari sabtu, hari libur bagi semua pekerja termasuk mas Arman. Siang ini Rena datang ke rumahku bersama Vina. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa memperkenalkan mas Arman kepada Rena dan juga Vina.
Seminggu kemudian, mas Arman berkeluh kesah kepadaku karena dia baru saja kehilangan sekertarisnya yang mengundurkan diri dari perusahaan.
"Mas Arman butuh sekertaris baru?" tanyaku.
"Iya," jawab mas Arman. "Sila harus mengundurkan diri dari perusahaan karena dia baru saja menikah dan suaminya melarangnya untuk bekerja kembali."
Aku berpikir sejenak. Rena adalah wanita yang cerdas dan dia juga lulusan sarjana Ekonomi. "Mas, bagaimana kalau Rena yang jadi sekertaris baru mas Arman?" usulku.
Mas Arman mengangguk setuju. "Ah itu ide bagus. Tapi kira-kira dia bisa profesional, tidak?"
"Insya Allah mas, nanti biar aku yang bicara dengannya."
Aku datang ke rumah Rena dan alangkah kagetnya aku ketiga ada dua orang laki-laki berbadan besar datang dan berteriak-teriak di depan rumah Rena yang tertutup rapat.Apakah Rena ada di dalam? Jika Rena ada di dalam, kenapa dia tak membuka pintu untuk mereka? Atau mungkin Rena sedang pergi.
"Assalamu'alaikum," ucapku menghampiri kedua laki-laki tersebut. "Bapak-bapak ini kenapa berteriak-teriak di depan rumah Rena?"
"Siapa anda?" tanya salah seorang dari mereka dengan tajam.
"Saya ini sahabat karib Rena," jawabku tenang. "Anda berdua ini siapa?"
"Tak penting kami ini siapa, yang jelas sampaikan saja kepada Rena, besok kami akan datang kembali," akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah Rena dengan muka yang sangat kusut.
Aku mengetuk pintu rumah Rena. Tak lama kemudian Rena membukakan pintu dengan muka yang murung.
"Siapa orang-orang tadi, Ren?" tanyaku sambil masuk ke rumah Rena.
"Mereka itu rentenir di kompleks ini, Ndah," jawabnya kusut.
"Rentenir?" aku bingung. "Ada urusan apa kalian?"
"Aku punya hutang kepada mereka, Ndah, dan hari ini sudah jatuh tempo."
"Hutang?" ulangku, dan Rena mengangguk. "Berapa hutangmu?"
"Dua puluh juta, Ndah," jawabnya.
"Begini saja, Ren, biarkan aku yang menanggung hutangnya. Aku masih ada sedikit uang di atm, mungkin cukup membayar semua hutang-hutangmu. Lagipula mereka akan datang lagi besok. Jadi bayar saja pakai uangku, Ren."
Rena menganga tak percaya. "Benarkah, Ndah?" aku mengangguk.
Aku mengambil uang di atm untuk membayar hutang Rena kepada rentenir itu dan saldoku hanya tinggal lima juta. Sebelum pulang, aku menyampaikan niatku untuk menjadikan Rena sebagai sekertaris mas Arman yang baru. Dengan senang hati, Rena menerima tawaranku karena dia juga sudah lama menganggur. Sesampainya di rumah, aku meminta mas Arman untuk mentransfer uang ke rekeningku yang sudah hampir habis.
"Lima juta?!" tanya mas Arman yang kaget saldoku hanya tinggal lima juta.
"Bukankah dua minggu yang lalu mas udah kirim uang dua puluh juta ke rekening kamu?"
"Habis mas," jawabku.
"Habis?" ulang mas Arman. "Ya Allah, Sayang sejak kapan kamu boros begini? Untuk apa uang dua puluh juta itu?"
"Aku baru saja membeli tas, mas, harganya dua puluh juta," jawabku bohong. Aku tak bisa bilang kepada mas Arman jika uang itu kugunakan untuk membayar hutang Rena. Aku tak ingin mas Arman berpikir macam-macam kepada Rena.
"Astagfirullahal'adzim," mas Arman menggeleng tak percaya. "Untuk apa membeli tas yang harganya dua puluh juta." mas Arman menarik napas. "Baiklah, nanti mas kirim uangnya. Jangan boros lagi ya, Sayang," gumam mas Arman sambil mengusap ubun-ubunku.
Aku mengangguk. Maafkan aku mas, karena aku bohong. Aku ikhlas kamu marah, mas. Aku tak ingin kamu berpikir macam-macam dan membenci Rena.
Hari ini adalah hari pertama Rena bekerja di kantor mas Arman sebagai sekertaris baru mas Arman. Dan sejak saat itu, Rena sering datang ke rumah dengan membawa Vina. Aku yang sampai saat ini belum mempunyai anak, senang rasanya akhirnya bisa bermain dengan Vina. Seminggu kemudian, Rena datang ke rumah sambil menangis. Rupanya dia dan Vina diusir dari kontrakan mereka. Aku dan mas Arman yang tak tahan, akhirnya mengizinkan Rena dan juga Vina untuk tinggal di rumah bersama kami.
Tiga bulan lamanya Rena dan Vina sudah tinggal di rumah kami, dan aku senang akhirnya bisa mendapatkan teman di rumah. Tapi aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan mas Arman kepadaku. Entahlah, tapi aku diam saja. Aku tak ingin berprasangka kepada orang lain, atau bahkan suamiku sendiri. Aku percaya sepenuhnya kepadanya.
Malam ini mas Arman datang dengan muka yang sangat murung. Aku menyambutnya, yang dibalas dengan senyuman tipis kepadaku, sambil mengecup keningku singkat. Mas Arman mandi, dan aku merapikan pakaiannya. Astaghfirullah, aku menemukan sesuatu yang membuatku seperti tersambar petir. Dibalik kemeja yang dikenakan mas Arman, aku menemukan bekas lipstick merah perempuan. Aku tak ingat aku pernah memakai lipstick berwarna merah. Mas Arman yang baru saja keluar dari kamar mandi, bertanya kenapa aku menangis.
"Tak apa, mas," ujarku sambil mengusap air mata yang mengalir perlahan melewati pipiku. "Mas pasti laper, ya? Ayo kita makan. Rena dan Vina sudah menunggu di meja makan, Sayang."
"Eh," mas Arman seperti bimbang. "mas tidak laper, Sayang. Kalian makan saja, ya? Mas capek, mas ingin tidur saja."
Aku meninggalkan mas Arman di kamar, dan menyusul Rena yang sudah duduk di meja makan bersama Vina. Akhirnya malam ini kami makan bertiga. Rena bercerita banyak lebar tentang pengalamannya kerja sebelum sekarang. Aku samar-samar mendengar cerita Rena, sambil pikiranku melayang-layang memikirkan lipstick merah di kemeja mas Arman yang kulihat tadi. Saat aku masuk ke dalam kamar, kulihat mas Arman sudah terlelap dalam tidurnya. Aku melepas jilbabku dan aku mulai tertidur di samping mas Arman yang membelakangiku. Pukul tiga malam mas Arman membangunkanku, seperti biasanya, dia mengajakku untuk shalat malam. Selesai shalat, aku hendak menanyakan soal lipstick yang masih menjanggal di pikiranku.
"Mas," kataku sambil melepas mukenah.
"Iya Sayang?"
"Aku boleh tanya, tapi mas Arman jangan marah," pintaku.
"Tanya apa?"
Aku berdiri dan mengambil kemeja mas Arman yang tadi kugantungkan di belakang pintu. Aku menata hatiku supaya stabil dan tidak marah atau berkata kasar kepada mas Arman, bagaimanapun juga dia adalah suamiku yang harus kuhormati.
"Ini lipstik siapa, mas?" tanyaku sambil menunjukkan bekas lipstick merah di balik kemeja mas Arman. Kulihat muka mas Arman yang pucat pasi seperti anak kecil yang ketahuan sedang mencuri permen.
"Mas tidak tahu," kata mas Arman.
"Bagaimana mungkin mas tidak tahu?"
"Sayang, percaya deh sama mas. Mas tidak ada macam-macam di belakang kamu," gumam mas Arman sambil memegangi tanganku.
Walaupun masih mengganjal, aku berusaha untuk percaya sepenuhnya kepada mas Arman. Hari demi hari kami lewati dengan suasana yang masih canggung akibat lipstick itu. Entah apa yang membuat aku dan mas Arman semakin jauh. Dua minggu setelah itu, aku kembali menemukan sesuatu yang membuat kepercayaanku kepada mas Arman runtuh. Aku mendengar ponsel mas Arman yang berdering. Mas Arman yang saat itu masih berada di kamar mandi, menyuruhku mengangkat telepon. Kenapa mas Arman belum menyimpan nomor telepon orang yang sedang menelpon ini? Ketika kuangkat dan kugumamkan salam, tiba-tiba teleponnya mati. Aku bingung siapa sebenarnya orang yang menelpon mas Arman ini? Baru kuletakkan ponselnya di atas kasur, ada satu pesan baru masuk. Ketika kubuka, aku lemas dan rasanya hampir jatuh. Pesan singkat itu berisi, 'Thanks untuk hari ini, Sayang'. Entah siapa pengirimnya, tak ada nama, yang ada hanya nomor yang belum dikenal. Aku menangis tersedu di samping ranjang. Ya Allah, ada apa lagi ini? Kenapa dengan rumah tanggaku?
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya mas Arman lembut ketika dia baru saja selesai mandi.
"Mas, aku mohon, tolong jujur saja."
"Maksud kamu apa?"
"Siapa perempuan itu, mas?" tanyaku dengan suara yang mulai meninggi.
"Perempuan?"
Aku menunjukkan isi pesan singkat itu kepada mas Arman. Wajahnya berubah merah, entah karena marah atau karena malu ketahuan olehku. Dia mengambil ponselnya dari tanganku, lalu membantingnya di lantai hingga ponselnya terbelah menjadi tiga bagian dan berserakan di lantai. Aku semakin menangis. Mas Arman memelukku, mengusap air mataku yang terjatuh.
"Perempuan itu sengaja mengganggu kita," gumam mas Arman pelan. "tolong percaya kepada mas, mas sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu. Mas sayang sama kamu. Demi Allah mas tidak ikhlas perempuan itu masuk ke dalam rumah tangga kita."
Tangisanku meledak. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak tahu apakah aku harus mempercayai perkataan mas Arman atau tidak. Kukira perempuan itu, entah siapapun dia, sudah menyerah. Tapi dugaanku salah. Dia mengirimu berbagai macam sms singkat yang mengancamku menjadi janda. Aku yang tak tahan dengan sikap perempuan itu, akhirnya menanyakan langsung kepada mas Arman siapa sebenarnya perempuan itu. Mas Arman tak pernah menjawabnya. Aku diam saja hingga akhirnya ada kiriman untukku dari pengirim yang tidak menyebutkan namanya. Aku tak tahu pasti apa isi dalam bungkusan amplop cokelat itu. Dan ketika kulihat, aku merasa lututku lemas tak mampu menopang tubuhku lagi. Di dalam amplop itu ada beberapa foto mas Arman dengan seorang perempuan yang sangat aku kenal. Di dalam foto itu, mas Arman sedang tertidur pulas di samping perempuan itu. Parahnya, perempuan itu adalah Rena! sahabat karibku sendiri. Aku seperti tersambar petir. Aku menangis tak ada hentinya. Mas Arman pulang, yang tak lama kemudian disusul Rena pulang.
Di dalam kamar, aku menunjukkan foto-foto itu kepada mas Arman. Serentak aku tak tahu kenapa, aku sangat membencinya. Rasanya aku tak ingin melihat wajahnya lagi. Aku merasakan amarah yang tak tertahankan lagi. Jujur saja, mas Arman telah mengkhianatiku, dia telah menghancurkan rumah tangga yang selama ini kami bangun.
"Aku tahu aku tidak mampu melahirkan seorang anak untukmu, mas!" kataku tajam. "Tapi bukan seperti ini caranya. Aku pernah menyuruhmu menikah lagi, kamu menolak. Dan sekarang, kamu malah selingkuh di belakang aku dengan sahabat karibku sendiri!"
"Ini tidak seperti apa yang kamu lihat, Indah," ratap mas Arman yang menangis. "Tolong percaya, Rena menjebak mas. Dia itu bukan perempuan baik-baik, Ndah."
Aku menutup telingaku. "Tolong mas," gumamku yang masih menangis. "jangan bicara apa-apa lagi." Aku berlari meninggalkan mas Arman dan di tengah tangga aku bertemu dengan Rena yang baru saja pulang. "Ren, tega kamu, ya?" rintihku.
"Oh, kamu sudah melihat foto-foto itu, ya?" kata Rena tanpa perasaan.
Aku tak mengerti kenapa Rena tega melakukan itu semua kepadaku. "Inikah balasanmu? Kenapa, Ren? Kenapa!" aku tak mampu menahan amarahku. "Apa salahku kepadamu?"
"Salahmu?" ulang Rena dengan nada mengejek. "Kamu ingin tahu kesalahanmu?" Rena tertawa keras. "Kesalahanmu adalah hidupmu yang begitu sempurna! Kenapa kamu yang harus memiliki suami yang tampan dan baik, rumah mewah, harta banyak! Kenapa bukan aku!" teriak Rena.
Aku menekap mulutku tak percaya atas apa yang baru saja keluar dari mulut Rena. "Astaghfirullahal'adzim," gumamku. "Kamu iri? Kenapa harus iri dengan perempuan cacat sepertiku?! Aku bukanlah wanita sempurna yang diharapkan laki-laki. Aku tak bisa melahirkan seorang putra!" hujamku. Tubuhku bergetar karena berusaha menahan marah. Tangisanku lebih mirip seperti lolongan. Aku melihat mas Arman berlari menghampiriku, dan dari sudut mataku kulihat mbok Inem berdiri di ujung tangga dengan mata yang berair.
"Sayang, kumohon," ujar mas Arman sambil memegangi lengan kiriku.
"Sudahlah mas, tak perlu lagi kamu menyembunyikan tentang hubungan kita selama ini," kata Rena dengan senyuman sinis.
"Apa-apaan sih kamu, Ren!" teriak mas Arman marah. "Sayang, jangan dengarkan mulut setan ini," mas Arman memohon kepadaku. Aku yang sudah terlanjur sakit hati, tak mampu lagi percaya kepada mas Arman.
Rena mengelus-elus perutnya dengan tersenyum lebar. "Ada berita bagus yang harus kamu ketahui, Indah," gumamnya. "Aku telah hamil. Dan anak dalam kandunganku ini adalah darah daging mas Arman."
Hatiku teriris. Rena hamil? Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini. Kurasa mas Arman sudah tak membutuhkanku lagi. Malam ini juga aku merapikan seluruh pakaianku ke dalam koper, tanpa memedulikan mas Arman yang berlutut di sampingku sambil menangis merengek memintaku untuk tetap tinggal di sini. Aku tak tahan jika harus tinggal bersama wanita yang telah mengandung bayi mas Arman, apalagi wanita itu adalah Rena yang belum halal untuk mas Arman.
"Sudahlah mas, aku akan angkat kaki dari rumah ini," kataku tajam. "jaga bayimu, mas. Assalamu'alaikum."
Mbok Inem yang tak tega melihat keadaanku kacau seperti ini, akhirnya ikut pergi denganku dan menawarkanku untuk tinggal bersamanya di rumahnya. Aku setuju.
Setelah malam itu, aku sudah tidak pernah berhubungan dengan mas Arman, Rena, atau bahkan Vina. Mbok Inem sudah tidak bekerja di rumah mas Arman lagi. Aku dan mbok Inem memutuskan untuk berjualan kue keliling, untuk menunjang biaya hidup kami. Aku sudah menganggap mbok Inem seperti ibuku sendiri sejak dulu, karena dia memang sangat baik kepadaku dan juga mas Arman.
Suatu sore ketika aku berjualan di taman kota, aku merasa lelah dan kue daganganku belum ada yang laku satupun. Aku duduk di kursi seraya mengelap keringat yang mulai muncul membentuk titik-titik di keningku.
"Tante Indah!" ada yang meneriakkan namaku, aku menoleh sekeliling dan kudapati Vina sedang berlari ke arahku. Aku senang sekali bisa bertemu dengan Vina hari ini, jujur saja aku merindukan tingkah lakunya yang lucu itu. Dia berlari memelukku, dan aku mengecup keningnya. "Vina kangen, Tante." Vina merengek di pelukanku.
"Iya Sayang, Tante juga kangen sama Vina," gumamku, tak kurasa air mataku mengalir. Belum sempat aku bertanya kepadanya dengan siapa dia di sini, suara Rena membuatku tersentak.
"Vina! Sudah Mama bilang berkali-kali, jangan pernah berhubungan dengan Tante Indah ini!" teriak Rena memarahi Vina. Kulihat perut Rena yang sudah mulai membesar, dengan tangan kanan dan kiri yang penuh dengan barang belanjaan. Rena membebaskan satu tangannya dan langsung menarik Vina dari pelukanku dengan kasar.
"Rena! Jangan kamu memarahi anakmu," tukasku tajam. "dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa."
"Dia adalah anakku! Tidak ada urusannya denganmu, perempuan yang tak bisa hamil." Rena tersenyum sinis sambil menjauh.
Ya Allah, aku sakit. Bathinku terasa seperti ditusuk-tusuk. Kuatkan aku, ya Allah. Kemudian kulihat Rena balik menghampiriku kembali.
"Ah, aku hampir lupa," gumamnya, tangan kanannya mengorek-orek isi tasnya. Lalu dia menyerahkan sebuah map berwarna cokelat."Tanda tangan saja di sini, mas Arman sudah menyuruhku untuk mengurus perceraian kalian. Lebih cepat lebih baik."
Aku menerima map itu dengan tangan bergetar akibat menahan amarah. "Baiklah, aku akan menandatangani ini."
Rena meninggalkan aku yang terluka. Aku menangis, lututku terasa lemas. Aku tak sanggup lagi untuk berkeliling guna menjual kue-kueku. Kuputuskan untuk pulang saja. Kulihat mbok Inem sudah ada di rumah. Aku menceritakan semua kejadian di taman tadi kepada mbok Inem, membuatnya sangat marah dan menghujat Rena. Aku menggeleng, kukatakan kepadanya bahwa aku baik-baik saja.
Selesai shalat isya, aku menandatangani surat perceraianku dengan mas Arman. Bismillah, jika memang ini yang terbaik, aku ikhlas. Tiga tahunku bersama mas Arman berhenti cukup sampai disini. Aku sama sekali tak mengharapkan sebuah perpisahan dengan mas Arman, apalagi karena sahabat karibku sendiri yang menjadi orang ketiga dalam hubungan kami. Sungguh aku tak pernah menyangka. Tapi apa yang tidak mungkin jika Allah berkehendak? Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidak pastian itu sendiri. Aku memejamkan mataku, mengingat bagaimana dulu mas Arman mengucapkan ikrar suci di hadapan keluarga kami, dan bahkan di hadapan Al Qur'an yang menjadi saksi. Aku mengingat dulu bagaimana mas Arman datang ke rumahku untuk meminangku. Ya Allah, semuanya kini terasa kosong.
Keesokan paginya, Rena datang ke rumah mbok Inem, meminta surat perceraian itu kepadaku. Awalnya susah, tapi akhirnya aku bisa untuk tidak menangis. Kuserahkan surat perceraian yang telah kutanda tangani itu ke tangan Rena. Tanpa basa-basi Rena langsung membawa surat perceraian itu pergi.
Dua minggu tak ada kabar, kenapa perceraianku dengan mas Arman belum juga ada kabar. Aku duduk-duduk di teras rumah dengan mbok Inem, kami bercanda dan tertawa bersama. Aku melihat mobil mas Arman berhenti tepat di rumah mbok Inem, aku dan mbok Inem langsung terdiam. Mas Arman menghampiri kami dan dia menangis. Mas Arman menarik tanganku dan langsung menciumi telapaknya. Aku bingung dengan sikap mas Arman.
"Mas tidak ingin kita cerai," rengeknya. "tolong, jangan pernah berpikir mas akan menceraikan kamu."
Aku kaget. Bukankah mas Arman sudah menyuruh Rena mengurus seluruh perceraianku dengan mas Arman? Kenapa sekarang, tiba-tiba saja, mas Arman mengatakan bahwa dia tak ingin berpisah denganku. Aku diam tak menjawab. Mbok Inem yang tak tega menyaksikan mas Arman, berlalu dan masuk ke dalam rumah.
"Kamu sudah mengkhianati pernikahan kita, mas," aku mengingatkannya. "Kamu sudah menghamili sahabat karibku sendiri."
"Sumpah, demi Allah, semua ini jebakan dari Rena," mas Arman masih menangis. "aku tak tahu kalau dia hamil. Demi Allah, percaya sama mas. Mas tidak pernah ada niat untuk menghancurkan rumah tangga kita. Mas sangat sayang kepadamu."
"Bagaimanapun juga, Rena mengandung anak kamu, mas!" tukasku tajam. "Sebagai laku-laki, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan! Menikahlah dengan Rena, ceraikan aku mas."
Mas Arman terlihat sangat putus asa. Jujur saja, aku masih sangat mencintai mas Arman. Tapi aku tak bisa terus bersamanya. Aku ikhlas jika Rena menggantikan posisiku. Mas Arman meninggalkan rumah mbok Inem dengan perasaan yang sulit kutebak. Sepertinya mas Arman sangat frustasi dengan keputusanku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bingung, satu sisi diriku tak ingin berpisah dengan mas Arman. Tapi sisi lainnya mengatakan aku harus melakukan ini.
Sejak saat itu mas Arman tak pernah mendatangi aku lagi di rumah mbok Inem. Dua bulan berlalu, aku dan mbok Inem hanya hidup dengan hasil dari berdagangan kue. Aku menanti-nanti kabar perceraianku dengan mas Arman. Tapi entah kenapa, sampai saat ini tak kunjung ada kabar.
Malam ini, selesai aku dan mbok Inem shalat isya' berjamaah, ada yang mengetuk pintu rumah mbok Inem. Siapa yang bertamu malam-malam begini. Kubuka pintu, dan alangkah kagetnya aku ketika melihat tamu-tamu yang datang ke rumah mbok Inem. Mas Arman yang berdiri dengan muka murung dan tampak kelelahan, kurasa akhir-akhir ini mas Arman kurang tidur. Di samping kanannya ada Vina yang tersenyum lebar kepadaku. Dan yang sangat membuatku terkejut adalah Rena dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Rena duduk di atas kursi roda, dia memakai wig pendek sebahu, dan terlihat hitam di bawah lingkaran matanya. Tangan Rena yang mengelus-elus perutnya membuatku sadar bahwa perut Rena sudah rata. Apa mungkin dia sudah melahirkan? Tapi tidak mungkin, usia kandungannya kan masih tujuh bulan. Ada keinginan untuk bertanya, tapi kutahan. Kupersilahkan mereka masuk.
"Mari silakan masuk," kataku mempersilakan mereka untuk masuk.
"Indah, aku minta maaf," Rena tiba-tiba menangis tersedu. Aku tak mengerti. "Aku tak layak untuk kamu perlakukan sebaik ini," gumamnya sambil terisak. Tangannya menarik tanganku, menciumnya. Tanganku lembab dan basah akibat air matanya. Aku yang tak tahan, akhirnya menangis juga. "Maafkan aku, aku sudah membalas semua kebaikanmu kepadaku selama ini dengan kejahatan. Maafkan aku."
Aku menatap mas Arman yang terlihat menangis.
"Aku kehilangan bayiku," isak Rena. Aku menekap mulut, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Rena. "Aku kehilangan bayiku," ulangnya. "tapi itu bukan bayi mas Arman." Aku menangis semakin dalam. "Maafkan aku. Aku sengaja membuat rumah tangga kalian hancur, agar aku bisa menikmati harta mas Arman. Maafkan aku, Ndah."
Aku serasa tersambar petir. "Mintalah ampunan kepada Allah, Rena," ujarku setelah dapat menahan isak. "Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum ini."
"Kamu baik sekali, Indah," Rena masih terisak. "Aku tak tahu siapa yang paling beruntung diantara kamu atau mas Arman. Kamu cantik, sholehah, dan sabar. Sementara mas Arman sangat baik, dan setia kepadamu, Indah."
Aku tak tahu harus menanggapi perkataan Rena dengan apa.
"Selama ini aku menjebak mas Arman, agar kamu percaya bahwa mas Arman telah selingkuh di belakang kamu. Tapi mas Arman sangat mencintaimu, Indah. Dia tak pernah menyentuhku, atau bahkan melirikku saja tidak."
Mas Arman berlutut di depanku, memintaku untuk kembali. Aku tak tahan dengan semua ini. Aku tetap mendengarkan Rena, tak memedulikan mas Arman yang masih terisak. Dari apa yang dibicarakan Rena, aku mengetahui semuanya. Selama ini Rena-lah yang menjebak mas Arman. Mulai dari lipstick merah di kemeja mas Arman, dan bahkan sampai foto-foto yang menunjukkan mas Arman sedang tidur bersama Rena. Rena mengaku, dia telah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman mas Arman. Aku bersyukur akhirnya Allah telah menunjukkan kebenaran kepadaku. Aku meminta maaf kepada mas Arman karena tak mempercayainya selama ini. Dan dari Rena, aku juga tahu bahwa mas Arman tak pernah berniat untuk menceraikan aku. Dia tak pernah menandatangani surat perceraian yang ternyata itu semua diatur oleh Rena. Kehamilan Rena bukan karena mas Arman, tetapi karena kekasih Rena yang sampai saat ini belum mampu menikahinya. Rena memanfaatkan kehamilannya untuk menguras harta mas Arman dengan mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya adalah darah daging mas Arman. Astaghfirullahal'adzim. Allah memang Maha Adil. Dia telah menunjukkan kebenaran kepadaku di saat aku merasa tersesat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika semua ini tak dibongkar oleh Rena. Mungkin selamanya aku akan berprasangka buruk terhadap mas Arman, atau bahkan membencinya.
"Allah membalas semua perbuatanku, Indah," gumam Rena dalam tangisnya. "sekarang, aku bukanlah wanita sehat yang bisa menghabiskan uang dengan berbelanja. Aku terserang kanker serviks stadium akhir." Rena menarik wig pendek yang dikenakannya untuk menutupi kepalanya, dan ketika wignya jatuh terlepas, aku melihat kulit kepala Rena tanpa sehelai rambut pun. Aku kaget dan menutup mulutku. Aku semakin menangis, tak tahan melihat keadaan Rena sekarang. "Mungkin hidupku takkan lama lagi," isak Rena. "Jika sesuatu terjadi padaku, aku menitipkan Vina kepada kalian. Tolong rawat dan jaga dia." Pandangan mata Rena mulai memburam.
Aku mengangguk. "Rena, kumohon, kamu adalah wanita yang kuat. Kamu pasti bisa bertahan melewati ini semua," aku menggenggam jemari Rena dengan lembut.
Rena menggeleng. "Tidak, Indah. Aku tidak sekuat yang kamu kira. Aku menyerah dengan kehendak Allah. Inilah yang terbaik."
Akhirnya aku dan mbok Inem kembali ke rumah mas Arman. Aku senang Rena berusaha memperbaiki diri dan mampu bertahan dari penyakitnya. Hingga suatu saat Rena pingsan di kamar mandi, waktu itu mas Arman sedang di kantor, sementara Vina pergi sekolah. Tinggal aku dan mbok Inem di rumah. Kami melarikan diri Rena ke rumah sakit. Sayangnya nyawa Rena tak mampu ditolong lagi. Rena menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Aku menangis dan memberitahu mas Arman. Sejak saat itu kami mengadopsi Vina menjadi anak sah aku dan mas Arman.