Sabtu, 30 Mei 2015

Memelukmu Dari Jauh


Mendo'akanmu, adalah caraku memelukmu dari jauh. Suatu saat nanti, aku akan memelukmu, menguatkanmu di kala kau rapuh, dan mendengar semua keluh dan kesahmu. Suatu saat nanti. Saat Tuhan mengizinkan kita bersama. Tahukah kau, kita berada di tempat yang berbeda, bahkan jauh. Tetapi kita masih dapat melihat bulan yang sama, itulah yang membuatku berpikir bahwa sebenarnya kita sangat dekat. Tuhan itu Maha Adil. Dia menciptakan jarak di antara kita, membuat kita saling merasakan rindu dan menantikan pertemuan. Tapi kenapa jarak itu terasa sangat berat ya? Terang saja, aku tidak menyesali itu. Disini, aku mendo'akanmu. Itulah caraku memelukmu dari jauh. Aku mendo'akanmu, berharap kau menemu-kanku di dalam do'amu.
Percuma Sayang, ketika kita saling bertahan tetapi tidak saling mendo'akan. Semuanya keajaiban terletak pada do'a, deep of heart. Well, kaulah yang terbaik. Itulah alasanku untuk berpikir tiga kali jika harus meninggalkanmu. You're the best someone ever in my heart. What if I have to let you go, would you be the man I used to know? Tetaplah menjadi seseorang yang kukenal, jangan pernah mengubah apapun yang ada dalam dirimu. Karena sungguh aku menyukai apapun yang terletak dalam dirimu. Entah itu kebodohanmu sekalipun.
Well, I realized that I've never felt like this before, before I find someone like you. Yeah, only you! Damn, kau sangat menyebalkan, dan parahnya aku sangat menyukaimu! Aku sangat menyukaimu, dan parahnya kita sangat jauh! Haha tapi aku tetap bertahan, karena aku tak tahu bagaimana caranya menjalani hidup tanpa kehadiranmu di sisiku,
I’m the lucky woman to have you! Kau tahu, rasa sayangku kepadamu tak terhitung, uncountable. Aku mencintaimu hari ini, lusa, besok, besoknya lagi, besoknya lagi, dan begitu seterusnya. Karena aku tak tahu apa kata yang dapat mendeskripsikan lebih dari sekedar 'selamanya'. Cukup aku dan Tuhan yang tahu betapa besar kasihku kepadamu, karena kepadaNya lah aku berdo'a. Kepada Nya lah aku menceritakan semua tentang keindahanmu, dan tentang keburukanmu.
Aku hanya bisa tertawa mendengarkan suaramu, dan berdebat denganmu adalah caraku untuk menahanmu lebih lama denganku. Tapi sungguh, kau sangat menyebalkan! Kadang, aku selalu berpikir kenapa aku harus memilih untuk bertahan denganmu. Tapi aku tahu jawabannya, tak ada yang lebih baik darimu. Dan sial, aku memang harus mempertahankanmu. Karena aku tak bisa kehilanganmu. Kau tahu, aku mengerti bagaimana hidup tanpa udara, itu terjadi padaku ketika aku kehilanganmu. I need you beside of me, stay here, deep of my heart. Kumohon. Tetaplah disini, tetaplah mencintaiku, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Aku membutuhkanmu, seperti aku membutuhkan udara. Aku menginginkanmu, menjadi pendamping hidupku. Aku tahu, semuanya akan terkabul karena aku percaya akan keajaiban do'a.
Percayalah, satu cintaku dan itu untukmu.

Kamis, 28 Mei 2015

Different Dimension


Ketika kita berada di dimensi yang berbeda ...

Tulisan ini kupersembahkan untuk seseorang yang selalu menjadikan aku seseorang yang special, ini kisah tentangnya. Kekasihku? Bukan. Dia sahabatku. Dan aku terinspirasi olehnya. Aku tak bisa lagi melihat tawa riangnya, tak bisa lagi mendengar celotehan manisnya. Tuhan mengambilnya lebih dulu, sebelum aku bisa melihatnya tersenyum bahagia bersama wanita yang selalu hidup di dalam hatinya. Tuhan, jika kau berikan kesempatan kedua kalinya untukku bertemu dengannya, aku ingin memukulnya! Menyebalkan. Dia pergi meninggalkanku menghadapi dunia ini sendirian. Jahat sekali!

Apakabar kamu disana? Bahagiakah kamu di sana? Bagaimana rasanya, berada di dimensi yang berbeda denganku? Apa? Ya, aku tahu kamu merindukanku. Ya, aku tahu kamu mungkin
sudah melupakanku, dan mungkin telah mempunyai sahabat baru di sana. Jahat! Berapa tahun sudah kita tak bertemu? Ah lama sekali ya? Kau pikir kamu siapa, aku takkan merindukanmu, bodoh! Jangan harap. Hahaha. Menjengkelkan, jelas saja aku merindukanmu! Maaf, kemarin aku tak bisa mengunjungi rumahmu. Ya, aku tahu apa tujuanmu datang ke dalam mimpiku. Maaf, aku tak berniat melupakanmu. Hanya saja, aku tak tahu apakah keluargamu masih menerimaku? Mungkin mereka sudah melupakan keberadaanku. Hei, kenapa kau marah padaku? Apa yang salah? Aku minta maaf, sekali lagi. Senyum dong, aku rindu. Haha senang membuatmu kesal. Maaf.

Apa? Siapa yang berubah, aku hanya berkembang, kau tahu? Tidak, aku masih menjadi aku yang dulu. Aku yang kau kenal. Aku yang selalu menjadi sahabat terbaikmu. Sudahlah, jangan khawatir. Usiaku tidak akan mengubahku kok. Tenang saja.

Aku mengenalmu. Aku masih ingat kapan pertama kalinya kita bertemu, berkenalan, dan akhirnya menjalin persahabatan. Aku benci mengingat itu semua, karena aku hanya bisa
menangisimu. Aku benci menghadapi kenyataan yang telah merenggutmu dariku. Kamu tahu, sungguh, kamu mirip onta! Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu meninggalkanku? Banyak yang ingin kuceritakan kepadamu. Banyak sekali! Aku sudah besar sekarang, aku sudah tidak bisa kamu bodohi lagi, dasar! Kamu tahu, aku telah menemukan seseorang kucari selama ini. Kamu sendiri yang bilang padaku, dengan lagakmu yang sangat sok dewasa, "Suatu saat nanti, kamu akan menemukan seseorang yang benar-benar tepat bagimu. Seseorang yang akan menjagamu." Bodoh. Sekarang aku telah menemukannya, aku ingin mengenalkannya padamu. Tapi kita sudah berada di dua dimensi yang berbeda. Aku tak bisa lagi melihatmu. Tapi tak apalah, mungkin kamu sudah tenang di alam sana. Jaga diri baik-baik ya? Aku takkan merepotkanmu lagi. Kamu tetap menjadi sahabat terbaikku. Thanks ya, kamu selalu menjadi pendengar yang baik. Walaupun aku tahu, mungkin dulu kamu berpura-pura mendengarkanku. Haha.

Ya, aku ingin kamu mengenal orang yang kusayang. Nama? Mungkin tidak akan kusebutkan, ini terlalu privasi, kamu tahu? Tenang saja, dia laki-laki yang baik kok. Sangat baik, dan terbaik malah. Mungkin, kamu akan senang jika mengenalnya. Dia bodoh sepertimu. Dan dia sama menyebalkannya denganmu. Mungkin lebih 'parah'. Mungkin kalian bisa menjadi teman yang baik, kurasa. Tapi dia orangnya suka cemburu, mungkin dia akan cemburu padamu juga. Haha. Dia membuatku selalu merasa konyol. Kamu tahu, aku seperti menemukan duniaku sendiri. Dunia yang kuciptakan bersamanya. Ah sayang sekali kamu terlambat untuk mengenalnya. 

Ya, mungkin inilah yang dinamakan cinta. Aku bisa tertawa hanya dengan mendengar suaranya, dan berdebat dengannya adalah satu cara menahannya agar lebih lama denganku. Bodoh? Ya, aku memang bodoh. Kan sudah kubilang, aku tak pernah berubah. Aku tetap bodoh, tapi tetap tidak sebodoh dirimu. Kenapa? Kamu menyukainya? Tentu saja. Aku tahu. Kamu pasti menyukainya. Andai saja kamu masih ada di sini, mungkin aku akan menjadi manusia paling beruntung di dunia ini.  Aku memiliki satu sahabat terbaik, dan aku memiliki kekasih terbaik. Aku pasti bisa membuat dunia iri kepadaku. Sudah kubilang aku takkan menyebutkan namanya. Dia adalah lelaki paling percaya diri yang pernah kutemui, selain kamu! Ya, aku tak ingin ketika dia membaca tulisanku ini, dia akan ge-er. Sudahlah, kubilang aku takkan menyebutkan namanya. Tapi aku akan menunjukkannya kepadamu. Ya. Aku sangat menyayanginya. Aku tak tahu seperti apa hidupku jika harus kehilangannya. Tidak, aku serius. Jangan macam-macam, aku takkan memaafkanmu jika sampai itu terjadi. Ya, aku janji akan memberitahu namanya, tapi tidak sekarang, bodoh. Yang benar saja kamu?! Datanglah lagi ke dalam mimpiku malam ini, dan aku akan memberitahukan namanya. Hehe. Ya, aku harus menutup ceritaku. Semua inti dari tulisan ini adalah, aku merindukanmu. Aku merindukan orang paling bodoh sedunia yang pernah mengenalku! Jaga dirimu baik-baik. Love you.

Salam manis,
Sahabat Terbaikmu.


Thank You For Reading

Be Who You Are

Kenapa masih ada saja orang yang menjadi fake-nya orang lain. Kenapa masih ada saja orang yang lebih ingin menjadi orang lain ketimbang dirinya sendiri? Dan kenapa masih ada yang meragukan apakah dia akan diterima oleh sekitarnya jika dia menjadi dirinya sendiri? Come on, Tuhan menciptakan kita masing-masing dengan bentuk, rupa dan bahkan watak yang berbeda. So, kenapa kita berusaha menolaknya? Percayalah, kita memiliki keistimewaan masing-masing. However, lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri daripada dicintai karena menjadi orang lain. We should act like what we want to act, what we want to do. Bodo amat deh apa yang orang katakan tentang kita. Haters gonna hate and lovers gonna love, man ! Mungkin ini kedengarannya emang sok bijak dan sok dewasa gitu, tapi it's okay asal nggak sok nge-judge sih. hehe
Aku punya temen yang deket banget sama aku. Dia bukanlah orang yang bisa selalu welcome sama orang yang belum dia kenal karena dia adalah tipe orang yang lebih baik nggak dikenal sama sekali daripada harus menjadi sorotan mata. Physically, dia cantik tapi badannya gendut chabi gimana gitu deh. Dia nggak pede dengan bentuk badannya sendiri. Awal masuk SMA, dia naksir sama cowok yang menjadi The Most Popular Boy di sekolahnya dia, aku nggak terlalu tahu sih karena memang kami tidak sekolah di tempat yang sama. Tapi sayangnya si cowok itu malah pacaran sama cewek cantik di sekolahnya dia, otomatis temenku ini patah hati sepatah-patahnya deh. Singkat cerita, akhirnya temenku ini memutuskan untuk mengubah penampilannya. Dia mulai rajin ngegym, jogging, renang, pokoknya segala macam olahraga dia jadikan rutinitas hariannya. Dia juga diet dan selalu menjaga makanannya. Aku akui, perjuangannya dia untuk berubah dari the ugly to the beauty itu top banget sampe-sampe dia pernah harus dirawat inap karena terserang penyakit lambung. Berat badannya berangsur-angsur mulai menurun. Awal semester satu di tahun ketiga, temenku berubah 360 derajat. Dia menjadi lebih cantik dari sebelumnya, sangat cantik bahkan. Tepat saat pengumuman kelulusan SMA, mimpinya terkabulkan. Si cowok itu akhirnya menjadi miliknya. Aku bahagia melihat temanku bahagia, terlepas dari penderitaannya selama ini. Tapi selang tiga bulan kemudian mereka putus karena si cowok itu sudah menemukan pengganti temanku yang jauh lebih cantik. Sejak saat itu, temanku tersadar kalau cowok itu hanya mencari keindahan visual saja. Dia menjadikan itu sebagai pelajaran dalam hidupnya. Betapa tidak, perjuangan selama tiga tahun terakhirnya berakhir selama tiga bulan saja. What the hell!
Harus kita ingat, nggak semua laki-laki mencintai kita apa adanya. Tapi bagaimana laki-laki akan mencintai kita apa adanya kalau kita saja tidak apa adanya, kan? Bagaimanapun juga semuanya balik ke kita. Bagaimana pasangan kita akan menerima kita, itu tergantung kita. Don't be afraid to be yourself. Kalau emang orang yang kita cintai tidak balik mencintai kita, let the other people do. Be yourself, because you are more than what they see.


Thanks For Reading

Rabu, 27 Mei 2015

Rumah Tanggaku Dihancurkan Sahabatku Sendiri


Rumah Tanggaku Dihancurkan Sahabat Karibku

Malam ini adalah hari yang paling spesial untukku dan juga suamiku, mas Arman. Hari ini adalah Anniversary day pernikahan kami yang ketiga. Mas Arman mengajakku ke sebuah restoran mewah untuk melakukan candle light dinner. Namaku Indah, dan aku adalah wanita paling beruntung yang bisa bersanding dengan mas Arman. Tak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaanku saat mas Arman meminangku tiga tahun yang lalu. Suka duka kami lalui bersama. Awal menikah, mas Arman belum mempunyai apa-apa. Bahkan setiap harinya, untuk makan sehari sekali saja kami sudah merasa sangat bersyukur. Dan sekarang, Alhamdulillah, kami sudah berkecukupan. Tiga tahun menikah, kami belum juga mendapatkan buah hati. Mungkin inilah ujiannya setelah kami mendapatkan begitu banyak kenikmatan dari Allah. Aku beruntung memiliki suami yang begitu baik seperti mas Arman. Aku pernah menyuruh mas Arman untuk menikah dengan wanita lain agar segera memiliki buah hati, namun mas Arman menolak. "Rezeki, umur, dan maut adalah kehendak Allah. Allah belum memberi kita rezeki anak mungkin karena kita belum cukup mampu untuk menjaga titipan-Nya. Suatu saat, insyaAllah, kita akan memiliki anak. Yang harus kita lakukan adalah bersabar dan berdo'a. Serahkan semuanya kepada Allah." selalu itu yang dibilang mas Arman kepadaku. Hatiku teriris. Aku sangat bersyukur, kesempurnaan hidupku adalah karena mas Arman yang melengkapiku. Malam ini, kami sangat menikmati suasana romantis yang disiapkan mas Arman untukku. Aku duduk termenung, menatap wajah suamiku yang tersenyum kepadaku. Sungguh aku mencintainya, ya Allah. Selesai makan malam, kami pulang ke rumah. 
Keeseokan harinya, ketika mas Arman berangkat kerja, aku berangkat ke rumah sakit untuk membeli vitamin. Ketika masih duduk menunggu antrian, aku melihat seorang anak perempuan yang usianya sekitar empat tahun. Anak itu duduk dengan wajah yang pucat pasi dan badan terkulai lemas. Aku kasihan melihat anak itu duduk sendirian. Aku bertanya-tanya ke manakah bundanya? Tak lama setelah itu datang seorang perempuan dengan postur tubuh yang ramping. Rambut pirangnya terurai panjang dan sedikit bergelombang di bagian bawahnya. Kulitnya putih dan sehat terawat. Sebentar kulihat keadaan anaknya, jika memang itu ibunya, kenapa penampilan kedua anak dan ibu ini sangat bertolak belakang? Ibunya terlihat seperti wanita karir yang tidak ketinggalan jaman, sedangkan melihat si anak, terlihat sangat lusuh dan kumuh. Anak itu merengek ke ibunya dan seperti mengeluh kesakitan. Sekilas ibunya menolehkan wajahnya, dan aku merasa familiar dengan wajah wanita itu. Aku tak ingin salah, kudekati wanita dengan anak perempuannya itu. Dan ketika dia menolehku, kuamati dari dekat memang aku mengenalnya.
"Rena! Subhanallah," aku memeluknya. Dia adalah Rena, teman sebangkuku ketika masih SMA dulu. Dia bukan sekedar teman atau sahabat untukku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri.
"Indah!" Rena balas memelukku.
"Ini, siapa?" tanyaku sambil tersenyum kepada anak perempuan itu.
"Ini anakku, Ndah." Rena tampak sedih. "Dia sedang sakit. Kamu ada keperluan apa disini, Ndah?"
"Cantik sekali, Ren," kataku sambil mengusap lembut pipi anak Rena. "Ah, aku ingin menebus vitamin saja, Ren. Siapa namanya, Ren?"
"Vina." Rena menoleh kepada anaknya. "Nak, perkenalkan ini Tante Indah, teman Mama."
Vina meringis, entah itu karena ingin tersenyum kepadaku atau karena menahan rasa sakit. 
"Sakit apa anakmu, Ren?"
"Positif DB, Ndah," jawabnya kusut. "Dia harus dirawat inap, tapi aku tak punya uang untuk membayar biayanya. Jadi aku membelikan saja obat untuk dia dirawat di rumah saja, Ndah."
"Ya Allah," aku menekap mulutku. "Ren, biarkan Vina dirawat inap di rumah sakit ini. Seluruh biayanya, biar aku yang menanggungnya. Keselamatan Vina itu lebih penting, Ren."
Rena terlihat seperti tak percaya. "Sungguh?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk. "Ndah, terima kasih sebelumnya. Kamu memang sangat baik, sejak dulu kamu selalu membantuku saat kesusahan. Terima kasih," Rena terisak dalam pelukanku. Aku mengusap-usap punggungnya.
Akhirnya Vina mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Sambil menunggu Dokter yang memeriksanya, aku dan Rena berbincang-bincang di luar kamar. Rena menangis ketika menceritakan kehidupannya kepadaku. Dia dan suaminya telah bercerai dua tahun yang lalu, dan semenjak itu Rena harus bekerja mati-matian untuk menghidupi dia dan anaknya, yang masih membutuhkan pendidikan. Mereka hidup di sebuah kontrakan sederhana. Aku turut prihatin dengan keadaan Rena.
"Oh iya, kamu sudah menikah?" tanyanya sambil mengusap air mata yang sudah bercucuran membasahi pipinya.
"Alhamdulillah," aku mengangguk. "Aku pasti mengenalkan kalian dengan suamiku. Ini," aku menyodorkan kartu nama mas Arman kepada Rena. "jika suatu saat kalian ingin berkunjung ke rumah kami. Datang saja kapanpun kalian bisa, insyaAllah aku ada di rumah, Ren." Rena mengangguk.
Karena hari sudah mulai gelap, aku pamit pulang kepada Rena dan Vina. Sesampainya di rumah, aku melihat mobil mas Arman sudah terparkir di halaman. Aku bertanya-tanya, tak biasanya mas Arman pulang secepat ini.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam," jawab mas Arman yang sedang menonton acara televisi. Aku menghampirinya dan mencium permukaan tangannya. "Dari mana, Sayang?" tanyanya.
"Dari rumah sakit, mas. Vitaminku habis."Aku duduk di samping mas Arman. "Loh mas Arman tumben pulang cepat?"
"Iya, kangen saja sama kamu," jawabnya menggodaku. Aku tersipu.
"Mas," kataku. "waktu di rumah sakit tadi, aku bertemu Rena, teman SMA ku dulu. Dia sedang memeriksakan anaknya yang ternyata positif DB."
"Ya Allah," gumam mas Arman.
"Iya, mas. Rena tidak mempunyai cukup biaya untuk membayar biaya rumah sakit. Jadi, aku berniat membantunya. Menurut mas, gimana?"
Mas Arman mengangguk. "Iya Sayang, kasihan. Kamu bantu saja."
"Makasih, mas."
Seminggu setelah aku menyelesaikan administrasi biaya rawat inap Vina di rumah sakit, aku sama sekali tidak bertemu dengan Rena dan juga Vina. Sore ini aku harus melepas mas Arman untuk pergi ke luar kota untuk urusan bisnis dalam tiga hari mendatang. Sekarang, di rumah, hanya ada aku dan mbok Inem, orang yang membantu kami dalam melakukan pekerjaan rumah. Sore ini aku duduk di depan televisi, berusaha menikmati acara televisi yang sebetulnya aku hanya ingin menghabiskan waktu. Belum sehari mas Arman pergi, aku sudah sangat merindukannya.
"Nya, ada tamu buat Nyonya," kata mbok Inem yang menghampiriku.
"Tamu? Buat saya, mbok?" tanyaku memastikan. Tak biasanya ada tamu yang datang untuk mencariku. Karena biasanya tamu yang datang sebagian besar adalah kolega dan rekan-rekan mas Arman dalam urusan bisnis. Aku menegakkan badanku, merapikan jubah hitam panjang dan jilbab hijauku. Aku senang sekali ketika tahu tamu untukku adalah Rena dan Vina. Aku memeluk Vina yang sudah kembali ceria.
"Kenapa baru datang sih?" gumamku. "Ya Allah, Vina, kamu cantik sekali. Mirip sekali dengan Mamamu," godaku dan Vina tersipu malu. "Masuk, mari silakan masuk."
Aku membimbing Rena dan Vina untuk duduk di sofa ruang tamu depan. "Mbok," aku memanggil mbok Inem. "Tolong buatkan minuman dua, ya?"
"Iya, Nya," sahut mbok Inem dari dapur.
Rena menaruh sebuah bingkisan di atas meja. "Ini, Ndah, kami datang untuk membawa sedikit oleh-oleh untuk kamu dan suamimu."
"Masha Allah, tak usah repot-repot, Ren." Aku tersenyum. "Kalian datang kemari saja sudah sangat cukup untukku."
"Mana suami kamu, Ndah?"
"Eh iya, mas Arman pergi ke luar kota untuk urusan bisnis," jawabku. "Tapi mas Arman sudah tahu tentang kalian kok, dia juga menitipkan salam untuk kalian."
Kami berbincang-bincang mengulang masa lalu sewaktu SMA dulu, sementara Vina bermain dengan mbok Inem. Malam harinya, Rena dan Vina pamit pulang.
Tiga hari lamanya aku berpisah dengan mas Arman. Aku sangat merindukannya, walaupun setiap malam kami masih bisa mengobrol lewat telepon. Pagi ini aku dan mbok Inem berbelanja di pasar. Sepi rasanya harus sarapan dengan mbok Inem saja.
"Kalau saja saya punya anak, ya, mbok?"
"Nya tidak boleh begitu," sahut mbok Inem. "Nyonya harusnya bersyukur mempunyai suami yang sangat baik dan juga setia seperti mas Arman."
"Iya, mbok," aku mengangguk. "rasanya itu sudah sangat cukup buat saya."
Setelah tiga hari mengurus bisnis di luar kota, akhirnya mas Arman pulang. Aku senang sekali dengan kedatangan kembali mas Arman ke rumah. Sungguh, aku merasa seperti pertama kalinya bertemu dengan mas Arman setelah sekian lama tak bertemu. 
"I miss you," ucap mas Arman lembut, dia memelukku erat lalu mencium keningku.
"I miss you too," balasku sambil menciumi tangan mas Arman.
"Ditinggal tiga hari, kok istriku semakin cantik saja," gurau mas Arman yang membuatku malu.
"Malu ih, ada mbok Inem," aku mengangguk ke arah mbok Inem yang menundukkan kepalanya.
Keesokan paginya, mas Arman pamit berangkat ke kantor. Aku telah meminta izin ke mas Arman untuk sekedar jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Dan mas Arman mengizinkanku pergi, tapi harus dengan mbok Inem. Aku setuju. Akhirnya aku dan mbok Inem menuju pusat perbelanjaan dan berjalan-jalan sekedar untuk melihat-lihat. Ketika aku dan mbok Inem berhenti di suatu stan baju, sekilas aku melihat sosok Rena dengan seorang pria yang berpostur tinggi besar dengan kulit sawo matang. Siapa pria yang sedang bersama Rena itu? Tapi aku tak memedulikannya. Mungkin saja itu rekan kerja Rena atau yang lainnya. Aku mengamati mereka hingga sosok mereka menghilang dari jangkauan pandanganku.
Sesampainya di rumah, aku mandi dan berusaha melupakan pemandangan yang kulihat tadi. Mungkinkah itu kekasih Rena? Ah, aku tak boleh berprasangka.
Sabtu ini, Rena berjanji akan berkunjung kembali ke rumahku karena sangat ingin bertemu dan berkenalan dengan mas Arman. Hari sabtu, hari libur bagi semua pekerja termasuk mas Arman. Siang ini Rena datang ke rumahku bersama Vina. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa memperkenalkan mas Arman kepada Rena dan juga Vina.
Seminggu kemudian, mas Arman berkeluh kesah kepadaku karena dia baru saja kehilangan sekertarisnya yang mengundurkan diri dari perusahaan.
"Mas Arman butuh sekertaris baru?" tanyaku.
"Iya," jawab mas Arman. "Sila harus mengundurkan diri dari perusahaan karena dia baru saja menikah dan suaminya melarangnya untuk bekerja kembali."
Aku berpikir sejenak. Rena adalah wanita yang cerdas dan dia juga lulusan sarjana Ekonomi. "Mas, bagaimana kalau Rena yang jadi sekertaris baru mas Arman?" usulku.
Mas Arman mengangguk setuju. "Ah itu ide bagus. Tapi kira-kira dia bisa profesional, tidak?"
"Insya Allah mas, nanti biar aku yang bicara dengannya."
Aku datang ke rumah Rena dan alangkah kagetnya aku ketiga ada dua orang laki-laki berbadan besar datang dan berteriak-teriak di depan rumah Rena yang tertutup rapat.Apakah Rena ada di dalam? Jika Rena ada di dalam, kenapa dia tak membuka pintu untuk mereka? Atau mungkin Rena sedang pergi.
"Assalamu'alaikum," ucapku menghampiri kedua laki-laki tersebut. "Bapak-bapak ini kenapa berteriak-teriak di depan rumah Rena?"
"Siapa anda?" tanya salah seorang dari mereka dengan tajam.
"Saya ini sahabat karib Rena," jawabku tenang. "Anda berdua ini siapa?"
"Tak penting kami ini siapa, yang jelas sampaikan saja kepada Rena, besok kami akan datang kembali," akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah Rena dengan muka yang sangat kusut.
Aku mengetuk pintu rumah Rena. Tak lama kemudian Rena membukakan pintu dengan muka yang murung.
"Siapa orang-orang tadi, Ren?" tanyaku sambil masuk ke rumah Rena.
"Mereka itu rentenir di kompleks ini, Ndah," jawabnya kusut.
"Rentenir?" aku bingung. "Ada urusan apa kalian?"
"Aku punya hutang kepada mereka, Ndah, dan hari ini sudah jatuh tempo."
"Hutang?" ulangku, dan Rena mengangguk. "Berapa hutangmu?"
"Dua puluh juta, Ndah," jawabnya.
"Begini saja, Ren, biarkan aku yang menanggung hutangnya. Aku masih ada sedikit uang di atm, mungkin cukup membayar semua hutang-hutangmu. Lagipula mereka akan datang lagi besok. Jadi bayar saja pakai uangku, Ren."
Rena menganga tak percaya. "Benarkah, Ndah?" aku mengangguk.
Aku mengambil uang di atm untuk membayar hutang Rena kepada rentenir itu dan saldoku hanya tinggal lima juta. Sebelum pulang, aku menyampaikan niatku untuk menjadikan Rena sebagai sekertaris mas Arman yang baru. Dengan senang hati, Rena menerima tawaranku karena dia juga sudah lama menganggur. Sesampainya di rumah, aku meminta mas Arman untuk mentransfer uang ke rekeningku yang sudah hampir habis.
"Lima juta?!" tanya mas Arman yang kaget saldoku hanya tinggal lima juta.
"Bukankah dua minggu yang lalu mas udah kirim uang dua puluh juta ke rekening kamu?"
"Habis mas," jawabku.
"Habis?" ulang mas Arman. "Ya Allah, Sayang sejak kapan kamu boros begini? Untuk apa uang dua puluh juta itu?"
"Aku baru saja membeli tas, mas, harganya dua puluh juta," jawabku bohong. Aku tak bisa bilang kepada mas Arman jika uang itu kugunakan untuk membayar hutang Rena. Aku tak ingin mas Arman berpikir macam-macam kepada Rena.
"Astagfirullahal'adzim," mas Arman menggeleng tak percaya. "Untuk apa membeli tas yang harganya dua puluh juta." mas Arman menarik napas. "Baiklah, nanti mas kirim uangnya. Jangan boros lagi ya, Sayang," gumam mas Arman sambil mengusap ubun-ubunku.
Aku mengangguk. Maafkan aku mas, karena aku bohong. Aku ikhlas kamu marah, mas. Aku tak ingin kamu berpikir macam-macam dan membenci Rena.
Hari ini adalah hari pertama Rena bekerja di kantor mas Arman sebagai sekertaris baru mas Arman. Dan sejak saat itu, Rena sering datang ke rumah dengan membawa Vina. Aku yang sampai saat ini belum mempunyai anak, senang rasanya akhirnya bisa bermain dengan Vina. Seminggu kemudian, Rena datang ke rumah sambil menangis. Rupanya dia dan Vina diusir dari kontrakan mereka. Aku dan mas Arman yang tak tahan, akhirnya mengizinkan Rena dan juga Vina untuk tinggal di rumah bersama kami. 
Tiga bulan lamanya Rena dan Vina sudah tinggal di rumah kami, dan aku senang akhirnya bisa mendapatkan teman di rumah. Tapi aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan mas Arman kepadaku. Entahlah, tapi aku diam saja. Aku tak ingin berprasangka kepada orang lain, atau bahkan suamiku sendiri. Aku percaya sepenuhnya kepadanya.
Malam ini mas Arman datang dengan muka yang sangat murung. Aku menyambutnya, yang dibalas dengan senyuman tipis kepadaku, sambil mengecup keningku singkat. Mas Arman mandi, dan aku merapikan pakaiannya. Astaghfirullah, aku menemukan sesuatu yang membuatku seperti tersambar petir. Dibalik kemeja yang dikenakan mas Arman, aku menemukan bekas lipstick merah perempuan. Aku tak ingat aku pernah memakai lipstick berwarna merah. Mas Arman yang baru saja keluar dari kamar mandi, bertanya kenapa aku menangis. 
"Tak apa, mas," ujarku sambil mengusap air mata yang mengalir perlahan melewati pipiku. "Mas pasti laper, ya? Ayo kita makan. Rena dan Vina sudah menunggu di meja makan, Sayang."
"Eh," mas Arman seperti bimbang. "mas tidak laper, Sayang. Kalian makan saja, ya? Mas capek, mas ingin tidur saja."
Aku meninggalkan mas Arman di kamar, dan menyusul Rena yang sudah duduk di meja makan bersama Vina. Akhirnya malam ini kami makan bertiga. Rena bercerita banyak lebar tentang pengalamannya kerja sebelum sekarang. Aku samar-samar mendengar cerita Rena, sambil pikiranku melayang-layang memikirkan lipstick merah di kemeja mas Arman yang kulihat tadi. Saat aku masuk ke dalam kamar, kulihat mas Arman sudah terlelap dalam tidurnya. Aku melepas jilbabku dan aku mulai tertidur di samping mas Arman yang membelakangiku. Pukul tiga malam mas Arman membangunkanku, seperti biasanya, dia mengajakku untuk shalat malam. Selesai shalat, aku hendak menanyakan soal lipstick yang masih menjanggal di pikiranku.
"Mas," kataku sambil melepas mukenah.
"Iya Sayang?" 
"Aku boleh tanya, tapi mas Arman jangan marah," pintaku.
"Tanya apa?"
Aku berdiri dan mengambil kemeja mas Arman yang tadi kugantungkan di belakang pintu. Aku menata hatiku supaya stabil dan tidak marah atau berkata kasar kepada mas Arman, bagaimanapun juga dia adalah suamiku yang harus kuhormati.
"Ini lipstik siapa, mas?" tanyaku sambil menunjukkan bekas lipstick merah di balik kemeja mas Arman. Kulihat muka mas Arman yang pucat pasi seperti anak kecil yang ketahuan sedang mencuri permen.
"Mas tidak tahu," kata mas Arman.
"Bagaimana mungkin mas tidak tahu?"
"Sayang, percaya deh sama mas. Mas tidak ada macam-macam di belakang kamu," gumam mas Arman sambil memegangi tanganku. 
Walaupun masih mengganjal, aku berusaha untuk percaya sepenuhnya kepada mas Arman. Hari demi hari kami lewati dengan suasana yang masih canggung akibat lipstick itu. Entah apa yang membuat aku dan mas Arman semakin jauh. Dua minggu setelah itu, aku kembali menemukan sesuatu yang membuat kepercayaanku kepada mas Arman runtuh. Aku mendengar ponsel mas Arman yang berdering. Mas Arman yang saat itu masih berada di kamar mandi, menyuruhku mengangkat telepon. Kenapa mas Arman belum menyimpan nomor telepon orang yang sedang menelpon ini? Ketika kuangkat dan kugumamkan salam, tiba-tiba teleponnya mati. Aku bingung siapa sebenarnya orang yang menelpon mas Arman ini? Baru kuletakkan ponselnya di atas kasur, ada satu pesan baru masuk. Ketika kubuka, aku lemas dan rasanya hampir jatuh. Pesan singkat itu berisi, 'Thanks untuk hari ini, Sayang'. Entah siapa pengirimnya, tak ada nama, yang ada hanya nomor yang belum dikenal. Aku menangis tersedu di samping ranjang. Ya Allah, ada apa lagi ini? Kenapa dengan rumah tanggaku?
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya mas Arman lembut ketika dia baru saja selesai mandi.
"Mas, aku mohon, tolong jujur saja."
"Maksud kamu apa?"
"Siapa perempuan itu, mas?" tanyaku dengan suara yang mulai meninggi.
"Perempuan?"
Aku menunjukkan isi pesan singkat itu kepada mas Arman. Wajahnya berubah merah, entah karena marah atau karena malu ketahuan olehku. Dia mengambil ponselnya dari tanganku, lalu membantingnya di lantai hingga ponselnya terbelah menjadi tiga bagian dan berserakan di lantai. Aku semakin menangis. Mas Arman memelukku, mengusap air mataku yang terjatuh.
"Perempuan itu sengaja mengganggu kita," gumam mas Arman pelan. "tolong percaya kepada mas, mas sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu. Mas sayang sama kamu. Demi Allah mas tidak ikhlas perempuan itu masuk ke dalam rumah tangga kita."
Tangisanku meledak. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak tahu apakah aku harus mempercayai perkataan mas Arman atau tidak. Kukira perempuan itu, entah siapapun dia, sudah menyerah. Tapi dugaanku salah. Dia mengirimu berbagai macam sms singkat yang mengancamku menjadi janda. Aku yang tak tahan dengan sikap perempuan itu, akhirnya menanyakan langsung kepada mas Arman siapa sebenarnya perempuan itu. Mas Arman tak pernah menjawabnya. Aku diam saja hingga akhirnya ada kiriman untukku dari pengirim yang tidak menyebutkan namanya. Aku tak tahu pasti apa isi dalam bungkusan amplop cokelat itu. Dan ketika kulihat, aku merasa lututku lemas tak mampu menopang tubuhku lagi. Di dalam amplop itu ada beberapa foto mas Arman dengan seorang perempuan yang sangat aku kenal. Di dalam foto itu, mas Arman sedang tertidur pulas di samping perempuan itu. Parahnya, perempuan itu adalah Rena! sahabat karibku sendiri. Aku seperti tersambar petir. Aku menangis tak ada hentinya. Mas Arman pulang, yang tak lama kemudian disusul Rena pulang.
Di dalam kamar, aku menunjukkan foto-foto itu kepada mas Arman. Serentak aku tak tahu kenapa, aku sangat membencinya. Rasanya aku tak ingin melihat wajahnya lagi. Aku merasakan amarah yang tak tertahankan lagi. Jujur saja, mas Arman telah mengkhianatiku, dia telah menghancurkan rumah tangga yang selama ini kami bangun.
"Aku tahu aku tidak mampu melahirkan seorang anak untukmu, mas!" kataku tajam. "Tapi bukan seperti ini caranya. Aku pernah menyuruhmu menikah lagi, kamu menolak. Dan sekarang, kamu malah selingkuh di belakang aku dengan sahabat karibku sendiri!"
"Ini tidak seperti apa yang kamu lihat, Indah," ratap mas Arman yang menangis. "Tolong percaya, Rena menjebak mas. Dia itu bukan perempuan baik-baik, Ndah."
Aku menutup telingaku. "Tolong mas," gumamku yang masih menangis. "jangan bicara apa-apa lagi." Aku berlari meninggalkan mas Arman dan di tengah tangga aku bertemu dengan Rena yang baru saja pulang. "Ren, tega kamu, ya?" rintihku.
"Oh, kamu sudah melihat foto-foto itu, ya?" kata Rena tanpa perasaan.
Aku tak mengerti kenapa Rena tega melakukan itu semua kepadaku. "Inikah balasanmu? Kenapa, Ren? Kenapa!" aku tak mampu menahan amarahku. "Apa salahku kepadamu?"
"Salahmu?" ulang Rena dengan nada mengejek. "Kamu ingin tahu kesalahanmu?" Rena tertawa keras. "Kesalahanmu adalah hidupmu yang begitu sempurna! Kenapa kamu yang harus memiliki suami yang tampan dan baik, rumah mewah, harta banyak! Kenapa bukan aku!" teriak Rena.
Aku menekap mulutku tak percaya atas apa yang baru saja keluar dari mulut Rena. "Astaghfirullahal'adzim," gumamku. "Kamu iri? Kenapa harus iri dengan perempuan cacat sepertiku?! Aku bukanlah wanita sempurna yang diharapkan laki-laki. Aku tak bisa melahirkan seorang putra!" hujamku. Tubuhku bergetar karena berusaha menahan marah. Tangisanku lebih mirip seperti lolongan. Aku melihat mas Arman berlari menghampiriku, dan dari sudut mataku kulihat mbok Inem berdiri di ujung tangga dengan mata yang berair.
"Sayang, kumohon," ujar mas Arman sambil memegangi lengan kiriku.
"Sudahlah mas, tak perlu lagi kamu menyembunyikan tentang hubungan kita selama ini," kata Rena dengan senyuman sinis.
"Apa-apaan sih kamu, Ren!" teriak mas Arman marah. "Sayang, jangan dengarkan mulut setan ini," mas Arman memohon kepadaku. Aku yang sudah terlanjur sakit hati, tak mampu lagi percaya kepada mas Arman.
Rena mengelus-elus perutnya dengan tersenyum lebar. "Ada berita bagus yang harus kamu ketahui, Indah," gumamnya. "Aku telah hamil. Dan anak dalam kandunganku ini adalah darah daging mas Arman."
Hatiku teriris. Rena hamil? Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini. Kurasa mas Arman sudah tak membutuhkanku lagi. Malam ini juga aku merapikan seluruh pakaianku ke dalam koper, tanpa memedulikan mas Arman yang berlutut di sampingku sambil menangis merengek memintaku untuk tetap tinggal di sini. Aku tak tahan jika harus tinggal bersama wanita yang telah mengandung bayi mas Arman, apalagi wanita itu adalah Rena yang belum halal untuk mas Arman.
"Sudahlah mas, aku akan angkat kaki dari rumah ini," kataku tajam. "jaga bayimu, mas. Assalamu'alaikum."
Mbok Inem yang tak tega melihat keadaanku kacau seperti ini, akhirnya ikut pergi denganku dan menawarkanku untuk tinggal bersamanya di rumahnya. Aku setuju. 
Setelah malam itu, aku sudah tidak pernah berhubungan dengan mas Arman, Rena, atau bahkan Vina. Mbok Inem sudah tidak bekerja di rumah mas Arman lagi. Aku dan mbok Inem memutuskan untuk berjualan kue keliling, untuk menunjang biaya hidup kami. Aku sudah menganggap mbok Inem seperti ibuku sendiri sejak dulu, karena dia memang sangat baik kepadaku dan juga mas Arman.
Suatu sore ketika aku berjualan di taman kota, aku merasa lelah dan kue daganganku belum ada yang laku satupun. Aku duduk di kursi seraya mengelap keringat yang mulai muncul membentuk titik-titik di keningku. 
"Tante Indah!" ada yang meneriakkan namaku, aku menoleh sekeliling dan kudapati Vina sedang berlari ke arahku. Aku senang sekali bisa bertemu dengan Vina hari ini, jujur saja aku merindukan tingkah lakunya yang lucu itu. Dia berlari memelukku, dan aku mengecup keningnya. "Vina kangen, Tante." Vina merengek di pelukanku.
"Iya Sayang, Tante juga kangen sama Vina," gumamku, tak kurasa air mataku mengalir. Belum sempat aku bertanya kepadanya dengan siapa dia di sini, suara Rena membuatku tersentak.
"Vina! Sudah Mama bilang berkali-kali, jangan pernah berhubungan dengan Tante Indah ini!" teriak Rena memarahi Vina. Kulihat perut Rena yang sudah mulai membesar, dengan tangan kanan dan kiri yang penuh dengan barang belanjaan. Rena membebaskan satu tangannya dan langsung menarik Vina dari pelukanku dengan kasar.
"Rena! Jangan kamu memarahi anakmu," tukasku tajam. "dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa."
"Dia adalah anakku! Tidak ada urusannya denganmu, perempuan yang tak bisa hamil." Rena tersenyum sinis sambil menjauh.
Ya Allah, aku sakit. Bathinku terasa seperti ditusuk-tusuk. Kuatkan aku, ya Allah. Kemudian kulihat Rena balik menghampiriku kembali.
"Ah, aku hampir lupa," gumamnya, tangan kanannya mengorek-orek isi tasnya. Lalu dia menyerahkan sebuah map berwarna cokelat."Tanda tangan saja di sini, mas Arman sudah menyuruhku untuk mengurus perceraian kalian. Lebih cepat lebih baik."
Aku menerima map itu dengan tangan bergetar akibat menahan amarah. "Baiklah, aku akan menandatangani ini."
Rena meninggalkan aku yang terluka. Aku menangis, lututku terasa lemas. Aku tak sanggup lagi untuk berkeliling guna menjual kue-kueku. Kuputuskan untuk pulang saja. Kulihat mbok Inem sudah ada di rumah. Aku menceritakan semua kejadian di taman tadi kepada mbok Inem, membuatnya sangat marah dan menghujat Rena. Aku menggeleng, kukatakan kepadanya bahwa aku baik-baik saja.
Selesai shalat isya, aku menandatangani surat perceraianku dengan mas Arman. Bismillah, jika memang ini yang terbaik, aku ikhlas. Tiga tahunku bersama mas Arman berhenti cukup sampai disini. Aku sama sekali tak mengharapkan sebuah perpisahan dengan mas Arman, apalagi karena sahabat karibku sendiri yang menjadi orang ketiga dalam hubungan kami. Sungguh aku tak pernah menyangka. Tapi apa yang tidak mungkin jika Allah berkehendak? Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidak pastian itu sendiri. Aku memejamkan mataku, mengingat bagaimana dulu mas Arman mengucapkan ikrar suci di hadapan keluarga kami, dan bahkan di hadapan Al Qur'an yang menjadi saksi. Aku mengingat dulu bagaimana mas Arman datang ke rumahku untuk meminangku. Ya Allah, semuanya kini terasa kosong. 
Keesokan paginya, Rena datang ke rumah mbok Inem, meminta surat perceraian itu kepadaku. Awalnya susah, tapi akhirnya aku bisa untuk tidak menangis. Kuserahkan surat perceraian yang telah kutanda tangani itu ke tangan Rena. Tanpa basa-basi Rena langsung membawa surat perceraian itu pergi. 
Dua minggu tak ada kabar, kenapa perceraianku dengan mas Arman belum juga ada kabar. Aku duduk-duduk di teras rumah dengan mbok Inem, kami bercanda dan tertawa bersama. Aku melihat mobil mas Arman berhenti tepat di rumah mbok Inem, aku dan mbok Inem langsung terdiam. Mas Arman menghampiri kami dan dia menangis. Mas Arman menarik tanganku dan langsung menciumi telapaknya. Aku bingung dengan sikap mas Arman.
"Mas tidak ingin kita cerai," rengeknya. "tolong, jangan pernah berpikir mas akan menceraikan kamu."
Aku kaget. Bukankah mas Arman sudah menyuruh Rena mengurus seluruh perceraianku dengan mas Arman? Kenapa sekarang, tiba-tiba saja, mas Arman mengatakan bahwa dia tak ingin berpisah denganku. Aku diam tak menjawab. Mbok Inem yang tak tega menyaksikan mas Arman, berlalu dan masuk ke dalam rumah.
"Kamu sudah mengkhianati pernikahan kita, mas," aku mengingatkannya. "Kamu sudah menghamili sahabat karibku sendiri."
"Sumpah, demi Allah, semua ini jebakan dari Rena," mas Arman masih menangis. "aku tak tahu kalau dia hamil. Demi Allah, percaya sama mas. Mas tidak pernah ada niat untuk menghancurkan rumah tangga kita. Mas sangat sayang kepadamu."
"Bagaimanapun juga, Rena mengandung anak kamu, mas!" tukasku tajam. "Sebagai laku-laki, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan! Menikahlah dengan Rena, ceraikan aku mas."
Mas Arman terlihat sangat putus asa. Jujur saja, aku masih sangat mencintai mas Arman. Tapi aku tak bisa terus bersamanya. Aku ikhlas jika Rena menggantikan posisiku. Mas Arman meninggalkan rumah mbok Inem dengan perasaan yang sulit kutebak. Sepertinya mas Arman sangat frustasi dengan keputusanku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bingung, satu sisi diriku tak ingin berpisah dengan mas Arman. Tapi sisi lainnya mengatakan aku harus melakukan ini.
Sejak saat itu mas Arman tak pernah mendatangi aku lagi di rumah mbok Inem. Dua bulan berlalu, aku dan mbok Inem hanya hidup dengan hasil dari berdagangan kue. Aku menanti-nanti kabar perceraianku dengan mas Arman. Tapi entah kenapa, sampai saat ini tak kunjung ada kabar.
Malam ini, selesai aku dan mbok Inem shalat isya' berjamaah, ada yang mengetuk pintu rumah mbok Inem. Siapa yang bertamu malam-malam begini. Kubuka pintu, dan alangkah kagetnya aku ketika melihat tamu-tamu yang datang ke rumah mbok Inem. Mas Arman yang berdiri dengan muka murung dan tampak kelelahan, kurasa akhir-akhir ini mas Arman kurang tidur. Di samping kanannya ada Vina yang tersenyum lebar kepadaku. Dan yang sangat membuatku terkejut adalah Rena dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Rena duduk di atas kursi roda, dia memakai wig pendek sebahu, dan terlihat hitam di bawah lingkaran matanya. Tangan Rena yang mengelus-elus perutnya membuatku sadar bahwa perut Rena sudah rata. Apa mungkin dia sudah melahirkan? Tapi tidak mungkin, usia kandungannya kan masih tujuh bulan. Ada keinginan untuk bertanya, tapi kutahan. Kupersilahkan mereka masuk. 
"Mari silakan masuk," kataku mempersilakan mereka untuk masuk.
"Indah, aku minta maaf," Rena tiba-tiba menangis tersedu. Aku tak mengerti. "Aku tak layak untuk kamu perlakukan sebaik ini," gumamnya sambil terisak. Tangannya menarik tanganku, menciumnya. Tanganku lembab dan basah akibat air matanya. Aku yang tak tahan, akhirnya menangis juga. "Maafkan aku, aku sudah membalas semua kebaikanmu kepadaku selama ini dengan kejahatan. Maafkan aku."
Aku menatap mas Arman yang terlihat menangis.
"Aku kehilangan bayiku," isak Rena. Aku menekap mulut, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Rena. "Aku kehilangan bayiku," ulangnya. "tapi itu bukan bayi mas Arman." Aku menangis semakin dalam. "Maafkan aku. Aku sengaja membuat rumah tangga kalian hancur, agar aku bisa menikmati harta mas Arman. Maafkan aku, Ndah."
Aku serasa tersambar petir. "Mintalah ampunan kepada Allah, Rena," ujarku setelah dapat menahan isak. "Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum ini."
"Kamu baik sekali, Indah," Rena masih terisak. "Aku tak tahu siapa yang paling beruntung diantara kamu atau mas Arman. Kamu cantik, sholehah, dan sabar. Sementara mas Arman sangat baik, dan setia kepadamu, Indah."
Aku tak tahu harus menanggapi perkataan Rena dengan apa. 
"Selama ini aku menjebak mas Arman, agar kamu percaya bahwa mas Arman telah selingkuh di belakang kamu. Tapi mas Arman sangat mencintaimu, Indah. Dia tak pernah menyentuhku, atau bahkan melirikku saja tidak."
Mas Arman berlutut di depanku, memintaku untuk kembali. Aku tak tahan dengan semua ini. Aku tetap mendengarkan Rena, tak memedulikan mas Arman yang masih terisak. Dari apa yang dibicarakan Rena, aku mengetahui semuanya. Selama ini Rena-lah yang menjebak mas Arman. Mulai dari lipstick merah di kemeja mas Arman, dan bahkan sampai foto-foto yang menunjukkan mas Arman sedang tidur bersama Rena. Rena mengaku, dia telah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman mas Arman. Aku bersyukur akhirnya Allah telah menunjukkan kebenaran kepadaku. Aku meminta maaf kepada mas Arman karena tak mempercayainya selama ini. Dan dari Rena, aku juga tahu bahwa mas Arman tak pernah berniat untuk menceraikan aku. Dia tak pernah menandatangani surat perceraian yang ternyata itu semua diatur oleh Rena. Kehamilan Rena bukan karena mas Arman, tetapi karena kekasih Rena yang sampai saat ini belum mampu menikahinya. Rena memanfaatkan kehamilannya untuk menguras harta mas Arman dengan mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya adalah darah daging mas Arman. Astaghfirullahal'adzim. Allah memang Maha Adil. Dia telah menunjukkan kebenaran kepadaku di saat aku merasa tersesat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika semua ini tak dibongkar oleh Rena. Mungkin selamanya aku akan berprasangka buruk terhadap mas Arman, atau bahkan membencinya.
"Allah membalas semua perbuatanku, Indah," gumam Rena dalam tangisnya. "sekarang, aku bukanlah wanita sehat yang bisa menghabiskan uang dengan berbelanja. Aku terserang kanker serviks stadium akhir." Rena menarik wig pendek yang dikenakannya untuk menutupi kepalanya, dan ketika wignya jatuh terlepas, aku melihat kulit kepala Rena tanpa sehelai rambut pun. Aku kaget dan menutup mulutku. Aku semakin menangis, tak tahan melihat keadaan Rena sekarang. "Mungkin hidupku takkan lama lagi," isak Rena. "Jika sesuatu terjadi padaku, aku menitipkan Vina kepada kalian. Tolong rawat dan jaga dia." Pandangan mata Rena mulai memburam.
Aku mengangguk. "Rena, kumohon, kamu adalah wanita yang kuat. Kamu pasti bisa bertahan melewati ini semua," aku menggenggam jemari Rena dengan lembut.
Rena menggeleng. "Tidak, Indah. Aku tidak sekuat yang kamu kira. Aku menyerah dengan kehendak Allah. Inilah yang terbaik."
Akhirnya aku dan mbok Inem kembali ke rumah mas Arman. Aku senang Rena berusaha memperbaiki diri dan mampu bertahan dari penyakitnya. Hingga suatu saat Rena pingsan di kamar mandi, waktu itu mas Arman sedang di kantor, sementara Vina pergi sekolah. Tinggal aku dan mbok Inem di rumah. Kami melarikan diri Rena ke rumah sakit. Sayangnya nyawa Rena tak mampu ditolong lagi. Rena menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Aku menangis dan memberitahu mas Arman. Sejak saat itu kami mengadopsi Vina menjadi anak sah aku dan mas Arman.

The Chances We Didn't Take


“Aku akan menyingkirkan siapapun yang akan menghalangi kita untuk bersama. Aku bahkan tak peduli itu hal paling egois yang pernah kulakukan?”

Adakah sebuah pilihan untukku? Untuk hidupku, setidaknya. Tapi untuk apa aku membutuhkan pilihan? Tak perlu, hidupku telah sempurna. Aku mempunyai keluarga yang mencintaiku, sahabat yang menyayangiku, dan lelaki yang tak pernah mengalihkan hati dan pikirannya dariku. Butiran-butiran air hujan membuat jejak di kaca jendela, membekas. Lembayung berwarna keemasan menyembunyikan sinar matahari dari jangkau pandangku. Langit berkabut, tak ada bedanya dengan hatiku saat ini. Aku mencintaimu, dan begitupun kamu mencintaiku. Tapi kita saling membeku. Terlepas dari jarak yang membentang di antara kita, kamulah yang selalu terpikir olehku. 
Kamu adalah lelaki paling sempurna bagiku. Sifat dan sikapmu membuatku meragukan apakah kamu betul-betul manusia atau bukan. Setengah malaikat, kukira. Aku bahkan heran, bagaimana orang sepertiku bisa menyentuh hati malaikat tak bersayap sepertimu, oh mungkin aku sudah melakukan suatu kebaikan. Sangat sulit mendeskripsikan sosokmu, aku belum bisa menemukan kata yang tepat untuk mengatakannya, yang kutahu adalah kamu sangat tahu bagaimana caranya membuatku tetap bahagia. Aku berkata seperti ini bukan karena kamu tak pernah menyakitiku. Kamu pernah mematahkan hati dan harapanku beberapa kali, tapi kamu tak pernah menyerah untuk meyakinkan aku bahwa kamu mampu menjadi yang lebih baik lagi. 
Kamu bukanlah manusia yang mudah dipahami. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai memahami sifatmu. Kamu adalah orang paling keras kepala yang pernah kutemui. 

"Saat kekasihku bicara dengan orang lain itu membuatku gelisah. Seakan terhisap dalam pikiran negatifku sendiri - Asami"

Itulah yang kurasakan, sama seperti tokoh Asami dalam anime 'Sukitte Ii Nayo'. Aku selalu berpikiran negatif, karena memang sulit berpikir jernih ketika kamu tidak sedang bersamaku. Dan sekarang, disinilah kita, saling diam dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Sampai kapan kah kita akan terus begini? Berdiri mematung tanpa perubahan. 

Selasa, 26 Mei 2015

Dear Love ...


Ini terlalu mendadak. Logikaku tak bisa menerima semua ini, tapi hatiku berkata lain. Tak ada yang tahu kapan, dimana, dan untuk siapa cinta datang. Kata orang tidak ada cinta yang salah, manusia-lah yang salah. Apakah aku berada di pihak yang salah sekarang? Apakah aku sejahat itu? Aku tak pernah bisa mengkhianati perasaan orang yang kusayang, tapi sekarang semuanya terasa berbeda. Tak ada kebetulan di dunia ini, karena semuanya Tuhan telah mengaturnya. Tapi, kenapa Tuhan mengubah takdirku, mengubah hatiku? Aku menyelipkan nama yang lain di hatiku. Aku mulai meragukan apa yang kupercaya sejak awal, tapi sekarang mulai berubah perlahan. Aku merasa ada yang lain di hatiku, entah apa itu namanya. Aku pernah seperti ini, tapi ini terasa beda. Aku cukup hanya dengan melihatnya tertawa, melihatnya nyaman di sampingku. Apakah aku salah hanya sekedar mengagumi orang lain sementara aku mempunyai belahan jiwaku sendiri?
Aku tersesat. Aku tak dapat menemukan setitik cahaya pun dalam kegelapan. Tak ada yang memberiku sebuah jawaban. Aku tak bisa menahan perasaanku sendiri. Aku sudah cukup bahagia memiliki belahan jiwaku sendiri, apakah itu belum cukup? Aku berdosa karena telah membohongi orang yang kusayang. Aku ingin mengatakan apa yang sedang kurasakan sekarang, bahwa aku mengagumi lelaki lain? Tidak. Aku tak ingin menyakitinya. Tapi akan lebih menyakitkan jika dia tahu yang sebenarnya bukan dari pengakuanku. Oh, God, apa yang harus kulakukan? Cinta yang kurasakan mungkin menyakiti banyak orang. Apakah aku harus melupakan perasaanku itu? 
Entahlah, aku tak tahu.
Aku mulai meragukan orang yang selama ini menemaniku, suka maupun duka. Aku mulai meragukan perasaanku yang sudah kupertahankan lebih dari tiga tahun ini. Apa yang telah kuperbuat? Tak ada yang memberitahuku. Ini salahku, tapi kenapa aku harus menyakitinya lebih jauh? Oh!
Untukmu yang ada di hatiku, maaf maaf maaf. Ini bukan keinginanku untuk menyakitimu. Semuanya terjadi begitu saja dan aku tak bisa menahannya. Hatiku bercabang, tak lagi sepenuhnya milikmu. Aku tak menyalahkan sikapmu yang mungkin membuatku seperti ini, tapi jujur saja ini sepenuhnya salahku yang terlalu bodoh untuk membiarkan perasaan asing di hatiku. Aku kacau dan aku tak ingin membiarkanmu melihat kekacauan yang sudah kulakukan. Butuh waktu untuk kita, untuk membenarkan apa yang salah. Kita pernah seperti ini, bukan? Diam terbelenggu dalam waktu. Inilah saatnya kita saling menginstropeksi diri masing-masing. Satu bulan tanpa kabarmu sungguh menyiksaku, tapi aku akan bertahan. Selama aku tidak berbicara denganmu, aku akan mencoba untuk membuang perasaanku yang lain ini. Aku mencintaimu, lebih dari sekedar 'selamanya'. Aku ingin kau tahu, aku ingin berakhir bersamamu. Bukankah itu mimpi kita? Berakhir dengan bahagia, saling membahagiakan satu sama lain. Maaf karena aku telah menyakiti kita. Maaf ... 

Minggu, 17 Mei 2015

How To be A Confident Person

Sometimes, we are being shy to do something because sometimes we feel so doubt about what we are doing. It is so wrong, absolutely. The more we are confident, the more we will believe in ourselves and we will know how much our ability we have. When we are doubt in somewhat we are doing, it is only means that we waste our time. The question is “How to be a confident person?” I have 8 ways to raise your confident up. 
1. Tap into the confidence you were born with (  When you start feeling unsure of yourself remember:  we were all born with confidence, and we can all get it back if we learn to silence the thoughts that threaten it )  
2. Know your strengths and weaknesses ( Learning who you are doesn’t happen overnight. For one thing, it can be hard to know which parts of you are you, and which parts are who you think you should be. And then learning about what you can to do and what you can't to do) 
3. Expect Success ( Conventional wisdom suggests it’s smart to expect the worst because you won’t be disappointed if you fail and you’ll be pleasantly surprised if you succeed. But research suggests this isn’t universally true. Pessimism can undermine your performance creating a self-fulfilling prophecy. However, you have to expect success in your daydream or something else for your future ) 
4. Trust Your Capabilities ( If someone criticizes you, take it is an opportunity to improve. If someone does better than you, see it as an opportunity to learn from them. If you fall short at something, realize you can get closer next time. Don’t worry if you’re not confident in what you can do now—be confident in your potential. )  
5. Embrace The Unknown ( Confidence comes from a space of humility. The more you can be sosial humanity, the more you will be famous and then you will be confident, however )  
6. Take Risks ( If you always do things as you’ve always done them of course you won’t feel confident. You have to do something new for you and then you will know your capabilities. Don't be afraid to take risks. Sometimes the risks will make us being brave to do something more )  
7. Learn to Receive Praise (  Confidence is earned through positive recognition and reinforcement, like Don La Franchi's says. Start from now, you should learn to receive praise to raising your confident up )  
8. Practice Confidence ( Like anything else in life, your confidence will improve with practice. A great opportunity to do this is when you meet new people. Just like if you were the new kid in school, they have no idea who you are—meaning you have an opportunity to show them. Above all, remember you are capable and worthy—just as much as anyone else, regardless of what you’ve achieved, regardless of what mistakes you’ve made. )  
I think that's all the ways to be confident person. There is no wrong to try those things to raising your confident up.

Untuk Sebuah Nama

Ini adalah tahun ketiga sejak kita bersama. Suka maupun duka kita lalui bersama. Pernah beberapa kali kita mencoba untuk berpisah, namun takdir membawa kita kembali. Takdir membuatku sadar, sekuat apapun aku mencoba berpaling darimu, hanya berujung pada kesakitanku sendiri. Dan sekarang, kita masih kita. Berjanji untuk tidak meninggalkanmu, itu diluar kesanggupanku. Tapi berjanji untuk tidak akan melupakanmu, aku mampu.
Darling, I will be loving you 'till the end of time. Have I told you lately that I love you? I love you to the moon and back.
Beberapa orang menertawakanku. Mereka bilang, LDR adalah seperti mencintai bayangan semu. Bodo amat ! Mereka yang berkata seperti itu, mungkin tak pernah tahu bagaimana hati sudah nyaman. Hanya dua dari sepuluh pasangan yang berhasil melalui masa LDR nya, itu yang mereka katakan. So, bagaimana jika kukatakan aku adalah salah satu dari dua pasangan itu? Apa salahnya mencoba sih? Kalau berhasil, ya Alhamdulillah. Kalau gagal, ya sudah. Lebih baik gagal karena sudah mencoba daripada menyesal karena tidak pernah mencoba sebelumnya. At least, we will know.
Sayang, tutuplah mata dan telingamu. Jangan melihat atau mendengar apapun, karena itu akan menyakitimu. Cukup rasakan bagaimana aku mencintaimu. Yakin dan percayalah, Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk kegagalan. Kita hanya harus sedikit bersabar dan menahan rindu. 
Aku di sini untukmu. Aku akan menjaga hatiku sebaik kamu menjaga hatimu. I love you and the thought of anyone else having you is killing me slowly.
Kau adalah hal pertama yang terpikir olehku. Bagaimana mungkin kau akan mengkhianati perasaan seperti itu? - Fuwa Aika
I L o v e Y o u M y S u p e r m a n

L o v e ,
Y o u r S w e e t h e a r t .

Sabtu, 16 Mei 2015

F A Q ( Long Distance Relationship - LDR )

Kak, gimana sih caranya ngejaga hubungan LDR ? Susah ngga sih?
- Gini ya, gimanapun juga yang namanya LDR an itu ngga gampang. Bisa dibilang susah banget. Selain kita harus bersabar dan bersabar, kita juga harus menelan habis-habis perasaan curiga atau negative thinking lainnya. Kalau tentang cara ngejaga hubungan LDR, ya harus saling percaya satu sama lain. Setiap pasangan yang memutuskan untuk LDR an, harus siap dengan segala resiko yang mungkin akan terjadi di kemudian hari. Kebanyakan dari Distancer ( mereka yang menjalani LDR ), akan menyalahkan satu sama lain pas mereka berantem. Itu wajar. Tapi jangan jadikan kewajaran itu sebagai alasan untuk kandasnya LDR kalian. Ada beberapa tips untuk LDR :
1. Saling percaya satu sama lain ( maksudnya, jangan jadi pasangan nyebelin yang mengHARUSkan pasangan kalian lapor 5W+1H tentang apapun yang mereka kerjakan karena itu akan mengganggu )
2. Saling mengesampingkan ego ( maksudnya, kalau berantem, harusnya kalian saling menginstropeksi diri dan saling minta maaf ngga peduli siapa yang salah dan siapa yang minta maaf duluan )
3. Ngga ada gengsi untuk bilang kangen duluan ( maksudnya, apa salahnya sih sms duluan? )
4. Mengerti situasi dan kondisi ( maksudnya, jangan terlalu menuntut waktu dari pasangan. Hargain kesibukan mereka selama mereka masih menjadikan kalian prioritas utama )
5. Jaga komunikasi ( seenggaknya, komunikasi masih lancar meskipun jarang ketemu. Dan usahakan setiap berkomunikasi entah via telepon atau chatting, jangan membuat pasangan kalian badmood atau bete yang bisa membuat kalian berantem. Pasangan kalian pastinya mengharap kalian bisa menjadi moodbooster buat mereka )
Apa lagi yah? Itu aja kali. Tapi semuanya tergantung masing2 individu sih. Ini cuma saran berdasar pengalaman pribadiku. Hehe

Apa yang harus kita lakukan jika partner LDR kita mulai kehilagan kepercayaan kepada kita?
- Ngga mungkin dia kehilangan kepercayaannya buat kamu begitu aja, mungkin karena dia pernah dikhianati atau dirusak kepercayaannya. Kalau berbicara tentang 'rusaknya kepercayaan' emang susah. Karena kepercayaan itu ibarat kaca yang setelah dia pecah, gimanapun ngga akan balik sempurna lagi. Coba yakinkan dia, jangan bosen minta maaf tentang kesalahan kamu. Berjanjilah jangan mengulang kesalahan yang sama ataupun kesalahan lainnya. Tapi jangan janji doang, anak SD juga bisa kalau janji doang mah.
Kenapa banyak LDR yang gagal?
- Itu karena mereka ( Distancer ) ngga mau berusaha lebih untuk mempertahankan hubungan mereka. Ada kalanya kita sampai di titik jenuh dalam suatu hubungan. Tapi ketahuilah, itu hanyalah ego. Tips buat kalian yang mungkin merasa bosan dengan hubungan LDR kalian, ingatlah : gimana nyamannya kamu saat bersama pasanganmu, gimana kalian bisa melepas rindu yang amat sangat saat kalian bertemu, gimana kalian pernah membagi waktu, dan gimana bahagianya saat-saat quality time. Mereka yang tidak pernah LDR, tidak pernah mengalami itu semua. Bahkan mereka akan mengalami bosen karena keseringan bertemu, sedangkan kita? Itulah kelebihan LDR :)

Jumat, 15 Mei 2015

Menyambung Rindu Via Telepon

Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Kita berbicara, melepas rindu, mengumbar cinta, hanya via telepon. Aku tak tahu kapan kita akan bertemu kembali, aku sangat menantikan itu. Bulan berdiri tegak di atas sana, memberi senyuman seolah mencibirku karena sikap konyolku yang merindukanmu. Aku tak peduli. Biarkan saja bulan di atas sana mencemooh cara kita menyambung rindu. Tetap saja dia bulan, dingin dan acuh. Kulihat langit semakin menggelap, bintang pun memudar. Rasa rinduku semakin lama semakin menjadi luka. Aku menghela napaski dalam-dalam. Apa bedanya aku dengan bulan? Kami sama-sama tak bisa menyingkirkan sepi. Menyedihkan.
Beberapa menit yang lalu, aku merasa sedih karena harus mengakhiri obrolan kita malam ini. Aku ingin marah, tapi aku menahannya. Masih ada hari esok, pikirku. Aku sangat merindukanmu. Mengertilah. "Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi!" Sejujurnya, aku ingin berkata begitu. Lagi, lagi dan lagi aku harus menelannya. Aku tahu ini ego dan pasti akan buruk jika aku berpihak padanya. Aku tak ingin hal buruk apapun terjadi diantara kita. Ini saatnya kuharus bersikap sedikit dewasa, at least.
Ada kalanya aku jenuh harus menjalin hubungan Long Distance Relationship seperti ini. Ada kalanya egoku mengalahkan perasaanku. Dan ada kalanya aku tak mampu membendung cemburu dan kecurigaanku terhadapmu. Tapi kata orang cinta harus berkorban! Kita bukanlah satu-satunya Distancer, jadi untuk apa kita harus menyerah? Untuk memberitahu mereka bahwa kita lemah? Tidak! Sebaliknya, kita harus berjuang bersama, dalam suka maupun duka, bertahan dan membuktikan kepada dunia bahwa TAK SELAMANYA LDR ITU GAGAL😊
GdNight~❤

Rabu, 13 Mei 2015

Aku Tidak Menyerah

Kita tak pernah tahu siapa yang akan menemani kita sampai akhir. Tapi aku selalu berharap kamulah ujung dari penantianku selama ini. Entah itu hanyalah sebuah harapan atau kenyataan. Aku menerimamu apa adanya, seperti bagaimana kamu menerimaku. Kamu bukanlah lelaki sempurna, dan aku tidak mengharapkan itu. Tapi karena ketidaksempurnaan itulah yang membuatmu membutuhkanku, menginginkanku untuk melengkapimu. Kamu bukanlah manusia hebat yang tidak membutuhkan doa dan dukungan dariku. Tidak, kamu masih membutuhkan itu semua dariku. Aku, kamu dan kita. Seperti pasangan yang lainnya, kita tak mengharapkan perpisahan. Aku tak ingin kehilanganmu, kehilangan laki-laki yang mencintaiku sepenuh hatinya membuatku lemah. Aku pernah mengalami hal itu dan aku sadar betapa berharganya memilikimu. Tak sedikit dari mereka yang memilihmu, tapi entah kenapa kau tetap mempertahankan aku. Kamu menguatkan aku, memberi harapan di setiap nafasku.
Tak ada yang lain selain kamu. Beberapa laki-laki memang dekat denganku, tapi tak ada satupun dari mereka yang mampu merebut hatiku. Hatiku milikmu, sepenuhnya. Jangan meragu, itu akan menyakiti hatiku. Kita memang jauh, rapi itu tak berarti aku bisa mengkhianati kepercayaan yang telah kamu berikan untukku. Aku menjaga perasaanku untukmu. Itu janjiku.
Pernah beberapa kali kamu merajuk karena kedekatanku dengan laki-laki lain, itu membuatku frustasi. Bagaimana caraku meyakinkanmu? Mereka hanyalah sebatas teman, tidak lebih. Kamulah spesialku. Kamulah cintaku.
Aku hanya berharap berakhir denganmu. Itu saja, tidak lebih. Kumohon, percayalah. Di setiap aku meninggalkanmu, itu hanya akan membuatku menyakiti diriku sendiri. Aku tak pernah benar-benar berniat untuk menyerah. Aku hanya lelah. Di samping itu, aku hanya ingin bersamamu.