Selasa, 08 September 2015

FAQ - Hijab

"Kak, dari awal udah pengen pake hijab tapi kok kayanya aku ngga cocok ya? Keliatan jelek gitu kalo pake hijab."

- Kamu pake hijab, niatnya karena Lillahi Ta'ala apa karena pujian semata? Lakukan sesuatu karena Allah, in shaa Allah barakah. Kalau niatnya cuma mau jadi objek yang diliat dan dipuji, kenapa harus pake hijab? Kan pake hijab tujuannya memang agar kita dilindungi dari mata-mata yang ngga seharusnya melihat kita. Jelek? Sayang, yang penting kita keliatan cantik di depan Allah dan suami, keliatan jelek di yang lainnya sih ngga masalah. Yuk pake hijab :)

"Pake jilbab tapi kok kelakuannya ngga bener? Jilbabin dulu hatinya, baru kepalanya!"

- Ini memang yang menjadi salah satu 'problem' yang sering dibicarakan kaum remaja. Ketahuilah, hijab dan akhlak adalah perkara yang berbeda. Aku mengenakan hijab, bukan karena akhlakku sudah sangat sempurna. Pun aku melakukan shalat lima waktu bukan karena aku tak pernah melakukan dosa. Berhijab adalah sesuatu yang wajib untuk muslimah. Sesuatu yang 'wajib' dalam arti adalah sangat harus dilakukan. Kenapa? Karena hijab secara tidak langsung kita terhindar dari tatapan-tatapan yang tak halal. Jilbabin dulu hatinya? Ini juga sedikit kurang tepat. Dengan menghijabi aurat, sedikit demi sedikit kita akan mengubah akhlak kita. Tidak seharusnya kamu berkata begitu, kamu tidak tahu bagaimana kami berusaha keras untuk menjadi lebih baik. Kamu tidak tahu bagaimana kami berhati-hati dalam melakukan suatu hal karena takut orang akan menyalahkan hijab yang kami pakai. Sekali lagi, ingat ya, berhijab bukan berarti hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang akhlaknya sempurna :)

"Hari gini, pake hijab? Ngga modis ah!"

- Modis atau keren pun tidak harus mengumbar aurat, bukan? Kamu cantik, alangkah lebih baik jika kecantikanmu hanya untuk suamimu nanti. Kalau kita mengaku cinta Allah, kita ngga akan ragu untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bukan?

"Kamu punya rambut bagus, kenapa harus ditutup-tutupin?"

- Kita tak pernah tahu kapan kontrak kita di dunia ini habis, bukan? Kenapa kita masih menunda-nunda untuk melaksanakan perintah Allah? Sayang rambut? Terus kalau kita mati, rambut kita dibakar di neraka, apa ngga lebih sayang lagi tuh? Rambut adalah mahkota, tapi juga bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri nantinya. Karena rambut, kita bisa dilempar ke neraka yang paling dasar. Na'udzubillahi min dzalik. Masih mau pamer rambut? Tutupin yuk :)

( "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Al-Ahzab : 33 )

Postingan ini bukan dibuat untuk menyindir siapapun, sekedar self-reminder yang semoga bermanfaat untuk semuanya, In Shaa Allah :) 
Muslimah, Let's wear a scarf because of Allah ! Beauty Inside, Pretty Outside In Shaa Allah :)

For more question, ask me by Ask.fm/minaeffendi 
Danke
- @minaeffendy -

Sabtu, 05 September 2015

Dear My Future Husband

Dear My Future Husband ...
Kalau kamu mencari yang sempurna, jangan datang kepadaku karena aku tidak dilahirkan untuk menjadi sempurna.
Kalau kamu mencari yang cantik, jangan memilihku karena masih banyak yang jauh lebih cantik dan menarik dibanding aku.
Kalau kamu mencari yang pandai dalam urusan dapur, jangan meminangku karena mungkin kamu akan kecewa nantinya ketika mendapati masakanku tak seenak yang kamu bayangkan.
Tapi kalau kamu mencari yang bersedia untuk belajar menjadi lebih baik, datangi waliku. Aku bersedia menikah denganmu. 
Aku bukanlah wanita tangguh, baik, dan bahkan sholehah.  Tidak, aku bukanlah wanita seperti itu. Aku hanyalah wanita yang berusaha belajar dari waktu ke waktu untuk memperbaiki diri dan menjadikan diri ini, at least, terlihat pantas jika bersanding denganmu kelak.

Dear My Future Husband ...
Aku tidak mencari yang sempurna, karena aku menginginkan Imam yang masih membutuhkan do'a, cinta dan kasih sayang dariku.
Aku hanya membutuhkan seseorang yang membutuhkan aku, yang mencintai aku karena-Nya, yang menjadikanku prioritas utama setelah Allah dan kedua orangtuanya, yang bersedia membimbingku dengan kesabaran, yang bersedia menunggu proses belajarku untuk menjadi lebih baik.
Aku tidak memberikan jaminan bahwa kamu akan bahagia jika menikah denganku, tapi aku berjanji akan memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu.
Aku tidak berjanji akan selalu mematuhimu, tapi aku akan selalu berusaha untuk mengiyakan apa yang baik, dan menolak dengan halus jika memang itu buruk.

Dear My Future Husband ...
Bukan Istana mewah berdinding emas yang kuharapkan
Bukan mobil mahal keluaran terbaru yang kuimpikan
Bukan juga berlian yang memikau yang kudambakan
Ketahuilah,
Aku hanya ingin mendampingimu, berjalan bersamamu, menjadikanmu Imamku, memberikanmu yang terbaik dan selalu mendoakanmu.
Aku hanya ingin membangun keluarga kecil yang In Shaa Allah sakinah, mawaddah, warrohmah.
Aku hanya ingin menjadi jodohmu, dunia dan juga akhirat.

Dear My Future Husband ...
Aku menantikanmu.
Aku tak tahu kapan Allah mengirimkan kamu kepadaku.
Aku akan siap. Kapan pun itu.
Untuk sekarang, aku hanya bisa terus menerus berdoa dan memperbaiki diri.
Akan kuberikan yang terbaik untukmu kelak.

Dear My Future Husband ...
I will cook, I will dressed, I will clean for you
I will be the best wife I can be, I will be the best mom I can be
If only you promise me one thing ; get me to Jannah with you

“Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

- @minaeffendy -