Rabu, 06 Agustus 2014

Kuikhlaskan Suamiku Menikah Dengan Wanita Pilihan Mama Mertuaku

#Diangkatdarikisahnyata #Latepost #NamaSamaran

Untuk kesekian kalinya aku menangis seorang diri. Namaku Hana. Usiaku 25tahun. Aku menikah dengan seorang lelaki, namanya mas Bram. Kami menikah lima tahun yang lalu saat usiaku menginjak 20tahun, dan suamiku 23tahun. Mas Bram adalah sosok lelaki yang sempurna untukku. Dia sangat baik, dan sangat menyayangiku. Dia juga tipikal orang yang romantis. Sejak menikah, kami tinggal bersama Mama dan adik perempuan mas Bram di rumah tempat mas Bram dilahirkan. Aku tak pernah tahu kenapa Mama mertua dan adik iparku tak pernah memperlakukanku dengan baik. Setiap mas Bram berangkat kerja, aku selalu diperlakukan layaknya seorang pembantu. Tapi ketika mas Bram pulang kerja dan berada kembali di rumah, mereka berlaku manis kepadaku, dihadapan mas Bram. Aku diam saja. Aku tak pernah mengatakan apapun yg sebenarnya kepada mas Bram tentang mereka. 

Sudah lima tahun usia pernikahan kami, Allah belum juga memberi titipan anak kepada kami. Hingga akhirnya aku dan mas Bram sepakat untuk mengadopsi anak, yang kata orang untuk memancing agar cepat mempunyai momongan. Kami mengutarakan maksud kami kepada Mama. Dengan keras, Mama menolak dan mengata-ngataiku. Mama bilang aku sengaja tak ingin hamil karena takut melahirkan. Jujur saja hatiku terasa pedih. Mama yang sejak dulu tak menyukaiku, semakin membenciku. Aku hanya bisa berdoa dan bersabar. Aku tahu Mama tak ingin membenciku, Mama hanya ingin cucu dari darah mas Bram.

Suatu pagi, mas Bram menyampaikan sesuatu yang membuat aku gelisah. Mas Bram ditugaskan kerja diluar kota untuk sementara waktu, sekitar 2minggu. Aku pun menyetujui, walau berat rasanya untuk berpisah dengan mas Bram walau hanya 2minggu. Malam harinya aku dan mas Bram melakukan dinner di taman belakang rumah, sebagai perpisahan untuk kepergian mas Bram besok ke luar kota. Entah kenapa, perasaanku tak enak. Berat sekali melepas kepergian mas Bram. Tetapi mas Bram selalu punya cara untuk menenangkan hatiku. Keesokan paginya, aku, Mama dan adik iparku mengantar mas Bram sam pai Bandara. Setelah pesawat mas Bram take off, kami kembali pulang. Hari itulah penderitaanku bertambah dahsyat.

Sekarang aku mempunyai aktivitas baru yg dulu biasa dilakukan pembantu kami. Tragisnya, Mama tidak membiarkan aku tidur di kamar mas Bram. Tapi Mama menyuruhku untuk tidur di kamar pembantu di dapur belakang rumah. Hingga suatu hari, Mama membawa pulang seorang wanita cantik ke rumah kami. Awalnya kukira dia adalah teman sebaya adik iparku, ternyata aku salah. Setelah berkenalan, aku tahu nama gadis itu adalah Maria. Dari Mama, aku tahu kalau Maria adalah teman kecil mas Bram di Palu, kota kelahiran Mama. Seperti yang kulihat, Maria adalah wanita yang sangat cantik dengan rambut merah kecokelatan yang terurai panjang. Mama meninggalkan aku dan Maria yang sedang mengobrol di ruang tamu. Kemudian, yang paling membuat aku terkejut adalah Mama menyuruhnya tidur di kamar mas Bram. Aku menolak. Kamar itu adalah kamar kami -Aku dan Mas Bram- kenapa Maria harus tidur di sana? Bukankah rumah ini memiliki banyak kamar tamu yang salah satunya bisa ditempati Maria? Mama menamparku. Sebetulnya bukan tamparan itu yang membuatku menangis, tapi rasa kecewaku terhadap Mama yang sangat tidak menganggap aku sebagai menantunya.Aku berlari menuju kamar di dapur belakang. Hatiku pedih. Ingin sekali aku menceritakan semua kegundahanku kepada mas Bram. Untuk saat ini, aku benar-benar merindukan sosok mas Bram.

Sudah seminggu mas Bram pergi ke luar kota, dan sudah lima hari Maria tinggal di rumah kami. Entah kenapa aku merasa Maria tidak menyukaiku, dari tatapannya kepadaku. Mama dan adik iparku sangat menyukai Maria. Mereka lebih menganggap Maria ada, daripada aku. Sabarkanlah aku yaAllah ...

Dua minggu berlalu. Mas Bram tak kunjung pulang. Hari ini seharusnya mas Bram pulang ke rumah. Tapi entah sampai saat ini, belum datang juga. Perasaanku tak enak. Ada yang menjanggal dalam hatiku, entahlah. Mama, adik iparku, dan Maria sedang berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan. Sementara aku, sendirian di rumah. Kudengar telepon berdering nyaring. Ketika kuangkat, dan mulai mendengar penelpon berbicara, hatiku teriris pedih. Pihak Rumah Sakit menelpon, memberitahukan mas Bram telah mengalami kecelakaan hebat ketika dia mengendarai taksi. Kabarnya, mas Bram sudah sampai di Jakarta jam sepuluh siang tadi. Taksi yang ditumpanginya bertabrakan dengan truk bermuatan besar di jalan menuju pulang. Air mataku jatuh bercucuran. Aku segera menghentikan taksi yg lewat di depan rumah dan langsung ke Rumah Sakit tempat mas Bram dilarikan setelah kecelakaan. Selama perjalanan, tak hentinya kuucapkan shalawat dan tak lupa bersyukur karena mas Bram masih selamat. Aku mengusap pipiku yang basah dengan ujung jilbabku.

Akhirnya aku sampai di Rumah Sakit, dan langsung berlari ke ICU. Dari kaca pintu, kulihat mas Bram terbaring lemah dan dikelilingi beberapa Dokter medis yang menanganinya. Ya Allah, selamatkanlah mas Bram.

Selama hampir dua jam, akhirnya satu persatu Dokter keluar dari ICU. Salah satu dari mereka memberitahukan kepadaku bahwa kondisi mas Bram saat ini masih koma, dan belum sadarkan diri. Bahkan mas Bram mengalami gegar otak ringan akibat darah yang mengumpal di otaknya. Ya Allah. Setelah mendapatkan izin dari Dokter, aku masuk ke ruang dimana mas Bram terbaring lemah. Aku tak tega melihat mas Bram seperti ini. Alat-alat medis mengelilingi tubuh mas Bram, bahkan untuk bernapas saja mas Bram harus menggunakan bantuan alat medis.
Waktu ashar sudah masuk, aku berjalan pelan menuju mushollah Rumah Sakit. Seusai shalat, tak hentinya kudoakan agar mas Bram cepat membaik.

Aku kembali ke ruang ICU, di sana aku bertemu dengan Mama, adik iparku, dan juga Maria. Mama menatapku dengan sinis, lalu menyeret tanganku keluar ruangan. Mama memarahiku habis-habisan karena aku tak mengabarinya tentang mas Bram. Aku terlalu panik, sampai-sampai aku lupa memberitahu Mama..

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku datang ke Rumah Sakit. Mama, adik iparku dan Maria sedang berjalan-jalan dan menolak ketika kuajak datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk mas Bram. Akhirnya aku sendiri. Di ruang ICU, aku membacakan ayat-ayat alQur'an di telinga mas Bram. Aku tahu jasad mas Bram sedang koma, tetapi hatinya tetap normal dan sehat. Aku yakin mas Bram mendengarku.

Siang ini aku berencana untuk memeriksakan perutku yang akhir-akhir ini terasa sangat nyeri. Aku juga sering merasakan sesuatu seperti menusuk-nusuk di bagian rahimku. Awalnya aku mengkonsumsi obat-obatan ringan dari apotek, tp rasa sakitnya bertambah semakin menjadi-jadi. Akhirnya kuputuskan untuk segera memeriksakan ke Dokter.

Aku baru saja bersedih atas keadaan mas Bram yang harus terbaring lemah di ruang ICU. Dan sekarang, Allah mengujiku dengan penyakit kanker rahim yang sudah mengkronis di dalam tubuhku. Allahu Yakhfad...

Aku tak tahu harus mengadu ke siapa lagi selain Allah. Aku sengaja tak membicarakan keadaanku kepada Mama, atau bahkan mas Bram. Aku tak tega jika melihat mas Bram sedih hatinya. Aku harus kuat. Aku pasti bisa melawan penyakit ganas ini. Aku tidak sendirian. Allah selalu bersamaku. Allah selalu bersamaku. Kucoba menenangkan hatiku. 

Selama lima hari aku selalu datang sendirian ke Rumah Sakit, merawat mas Bram, membisikkan ayat-ayat alQur'an di telinganya. Dan aku harus membagi waktu untuk mengobati diriku snediri, dan merawat mas Bram. Hingga keesokan harinya, aku telat datang ke Rumah Sakit karena harus membersihkan rumah yg sangat berantakan sejak sering kutinggal ke Rumah Sakit. Ketika aku sampai di ruang ICU, kulihat di sana ada Mama, adik iparku, dan juga Maria. Dan Alhamdulillah, mas Bram sudah siuman. Aku lega sekali. Aku menghampiri mas Bram dan kuraih tangannya untuk kucium. Tapi mas Bram diam saja tak seperti biasanya yang langsung mencium keningku. Tapi aku diam saja, aku sudah kelewat senang dengan mas Bram yg sudah siuman.

Semenjak mas Bram siuman, tingkah laku Mama, adik iparku, dan Maria berubah seratus delapan puluh derajat. Mereka sering datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk mas Bram. Dan Bahkan Maria mulai mengerjakan hal-hal yang biasa kulakukan, seperti menyuapi makan mas Bram. Aku hanya bisa tersenyum. Dan entah kenapa mas Bram berubah. Dia lebih sering marah-marah kepadaku. Menurut Dokter, ingatannya sudah mulai normal. Mas Bram bisa dirawat di rumah dengan mengkonsumsi obat medis dari resep Dokter. Alhamdulillah.

Kedatangan mas Bram kembali di rumah membuatku merasa hangat. Tapi entahlah, mas Bram menjadi asing bagiku. YaAllah, kenapa lagi ini? Mas Bram yg sekarang, bukanlah mas Bram yg dulu menyayangiku. Mas Bram mulai membentakku, dan mulai berlaku kasar terhadapku. Hingga suatu malam, aku membangunkan mas Bram untuk shalat Tahajjud, mas Bram marah-marah karena aku telah mengganggu tidurnya. Akhirnya, kusabarkan hatiku, dan aku shalat bermunajat kepada Allah sendirian. Dulu, mas Bram sering membangunkanku untuk shalat sepertiga malam atau sekedar bermunajat. Aku menangis lirih dalam doaku. 

"YaAllah, Engkaulah Maha Menghendaki apa yang terjadi baik yang nyata ataupun yang ghaib. Kuserahkan hidup dan matiku hanya untukMu. Terimakasih Engkau telah menciptakan manusia yang baik untukku, dan izinkanlah aku menjadi yang baik untuknya. YaAllah, apapun yang akan terjadi, tabahkanlah hatiku dalam menghadapi ujian dari Mu"

Rahimku terasa nyeri sekali. Kulepas mukenahku, dan kucari obat dalam laciku. Aku menelan butiran obat itu, namun anehnya rahimku semakin nyeri dan sakitnya tak tertahankan. Aku hampir menjerit. Namun aku menahannya, aku takut mas Bram mendengar rintihanku dan akhirnya terbangun. Selama tiga jam lebih, antara hidup dan mati, aku menahan rasa sakit di dalam rahimku. Tak terasa, air mata membanjiri pipiku. YaAllah, kuatkan aku. Kukerlingkan pandanganku ke samping kanan, kuamati raut muka mas Bram yang terlihat nyenyak dalam tidurnya. Subhanallah, aku hampir tak mengenal sosok suami yang sudah meminangku lima tahun yang lalu. Adzan subuh mulai terngiang di telingaku. Alhamdulillah, rasa nyeri dalam rahimku, akhirnya menghilang. Aku melakukan shalat subuh sendiri, tanpa mas Bram yang mengimami.

Keesokan paginya, aku sedang menyiram tanaman di taman belakang rumah. Kulihat mas Bram berjalan ke arahku, dengan rauit muka yang sulit ditebak. Tiba-tiba, dia menarik tanganku pelan, menuntunku hingga kami duduk bersandingan menghadap kolam ikan. Kami saling diam selama beberapa menit. Kemudian mas Bram mulai berbicara. "Nenek meminta kita datang ke Palu besok," aku menundukkan pandanganku, mengamati jari-jariku di atas rerumputan. "Iya mas, nanti Hana siapkan pakaian yang akan mas Bram bawa." Kulihat dari sudut mataku, mas Bram mulai berbicara. "Nenek ingin kita bersama-sama ke Palu. Aku, kamu, Mama, Adik, dan juga Maria." Serentak hatiku terasa terpukul. Entahlah, mendengar mas Bram menyebut nama Maria, seperti seolah-olah mas Bram tengah menamparku. Kenapa harus dengan Maria? Perasaanku mulai berkecamuk. Tapi aku tak mengutarakannya kepada mas Bram. Aku hanya mengangguk. Lalu mas Bram pergi meninggalkanku di taman.

Keesokan paginya, kami semua melakukan perjalanan menuju Palu, kota asal Mama. Selama berjam-jam melewati hal yang membosankan di dalam pesawat, akhirnya kami sampai di rumah nenek. Sejak kedatangan pertama kami di Palu, aku sudah mendapat pandangan sinis dari nenek. Tapi, aku yang terbiasa dipandang sinis oleh Mama, biasa saja. Malam itu aku dan mas Bram menempati kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Mama. Aku merapikan pakaian-pakaian yang kami bawa ke dalam lemari kecil di kamar itu. Aku melepas jilbabku, dan menyisir rambutku. MasyaAllah, rambutku mengalami masalah kerontokan yang amat dahsyat. Mas Bram yang melihat rambutku rontok begitu banyaknya, cuma bilang "Jangan salah shampoo". Allahu Akbar. Aku ingin menangis sekarang juga. Aku ingin sekali bercerita tentang kanker ganas yang sedang kulawan ini kepada mas Bram, tetapi sepertinya mas Bram tak peduli dengan perubahanku sekarang yang sudah tampak seperti mayat berjalan. Badanku mulai mengurus, wajahku pucat, dan kepalaku sudah hampir botak.

Keesokan harinya, nenek meminta kami semua untuk berkumpul di ruang keluarga. Kumantapkan hatiku untuk mendengarkan apapun yang nanti mungkin menyakitkan bagiku. Aku duduk bersampingan dengan mas Bram. tangan mas Bram menggenggam erat tanganku. Kulihat mas Bram menundukkan kepalanya. Nenek mulai berbicara.
"Apa kamu tahu alasanku mengunangmu kemari, Hana?"
Aku kaget mendengar nenek yang berbicara hanya untukku. Aku menggeleng perlahan dan kupandang sekeliling keluarga mas Bram dan juga Maria yang menolehkan kepala untuk menatapku. Aku merasa seperti terintimidasi.
"Sudah lima tahun kamu menikah dengan cucu pertamaku, Bram, dan sampai sekarang kalian belum juga mendapatkan anak?"
Aku tahu ini pasti akan terjadi. Aku tak bisa menghentikan air mataku. Mereka, keluarga mas Bram, menuntut seorang cucu dariku yang sangat tidak mungkin bisa kuberikan. Genggaman tangan mas Bram semakin kuat. Aku tahu mas Bram menyuruhku untuk tetap tegar. 
"Kami sudah capek menantikan cucu dari rahimmu!" ucapan paling erotis dari mulut nenek membuatku seperti tersambar petir. "Kami sudah sepakat untuk menikahkan Bram dengan Maria."
Lututku terasa lemas. Aku tak bisa berbuat dan bahkan berkata apa-apa. Sedetik kemudian aku menatap sosok Maria yang sedang duduk anggun di sebelah Mama. Dia yang akan menggantikan aku. Dia yang akan menjadi ibu dari anak-anak mas Bram kelak, bukan aku. YaAllah, kuatkan aku. Berikan aku kesabaran dalam menghadapi ujian dariMu..
"Pernikahan Bram dan Maria akan berlangsung besok di sini."
Aku semakin tak tahan mendengar ucapan nenek. Kulangkahkan kakiku, setelah meminta ijin, meninggalkan ruang keluarga dan berjalan ke kamar. Kututup pintu rapat-rapat, dan aku mulai menangis. Rasa sakit di rahimku mulai terkalahkan dengan rasa sakit di hatiku. Tapi aku tak boleh egois. Mas Bram butuh seseorang untuk menggantikanku jika kelak aku tak ada. Pernyataan Dokter yang mengatakan bahwa umurku sudah tak lama lagi, semakin membuat aku untuk lebih menerima pernikahan mas Bram dengan Maria. Hana harus kuat. Bismillah...
Aku mendengar pintu  mendecit pelan, terbuka. Kulihat mas Bram sayup-sayup yang menghampiriku. Dia mendekapku, dan mencium ubun-ubunku. Setelah lama diam, akhirnya aku berbicara. "Hana rela jika mas Bram harus menikah dengan Maria. Demi Allah, Hana memang sedikit terluka, tapi Hana ikhlas mas Bram menikahi Maria. Aku senang akhirnya mas Bram memberikan aku teman di rumah, akhirnya aku tak kesepian jika mas Bram pergi kerja." Aku menggenggam tangan mas Bram. "Menikahlah dengan Maria, bahagiakan dia seperti mas Bram membahagiakan aku. Jagalah dia seperti mas Bram menjagaku." Mas Bram terdiam seribu bahasa. "Ciumlah ubun-ubunnya dan ucapkanlah doa, sebagaimana biasa mas lakukan untukku. Ajaklah dia shalat tahajjud seperti mas Bram mengajakku di sepertiga malam. Lakukanlah dia sebaik mungkin, jagalah perasaannya."

Keesokan paginya aku mentabahkan hatiku untuk menjadi saksi di pernikahan suamiku dengan Maria. Aku menundukkan kepala dan tak heti-hentinya membaca shalawat saat mendengar mas Bram mengucap ijab qobul. YaAllah...

Selesai akad nikah, kami sekeluarga langsung kembali ke Jakarta tanpa menunggu keesokan harinya. Malam ini, kami sudah sampai di Jakarta. Aku menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga. Selesai makan malam, aku masuk ke dalam kamar. Malam ini aku tidur sendirian, mas Bram tidur di kamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya dengan Maria. Rahimku terasa nyeri kembali. Allahu yakhfad... Aku mencari-cari obat yang biasa kuminum untuk meredakan rasa nyeri, tapi yang kudapati hanyalah kotak kosong tempat obat. Aku lupa menebus obatnya di Rumah Sakit. Aku ingin melakukan shalat malam. Akhirnya kupaksakan kakiku ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Ketika melewati ruang tamu, aku melihat sosok mas Bram yang tertidur nyenyak di atas sofa. Aku mendekati mas Bram, kucium keningnya. Lalu ketika aku mulai berjalan untuk ke kamar mandi, tangan mas Bram menahanku. Mas Bram terbangun. Aku meminta maaf karena telah membangunkannya dari tidur. Tapi mas Bram hanya menatapku sepersekian menit. "Ayo kita shalat malam," mas Bram mengajakku bersama-sama melaksanakan shalat malam. Selesai shalat, waktu menunjukkan pukul tiga lebih sepuluh menit. Aku tak kuasa menahan rasa sakit yang menyerang rahimku. Aku sedikit merintih kesakitan, mas Bram mulai panik. Aku memegangi rahimku yang teramat sangat nyeri. Kemudian, kakiku mulai penuh dengan darah. Mas Bram yang melihat pendarahan di kakiku, langsung mengangkatku dan akan membawaku ke Rumah Sakit. Aku menolak di bawa ke Rumah Sakit. Mas Bram mulai menangis.  "Kamu kenapa?" Tanyanya panik."Rahimku terserang kanker, stadium akhir." Hanya itu yang mampu kuucapkan. Nafasku sudah mulai menyumbat. Aku tak kuat lagi menahan sakit yang teramat perih. Mas Bram tercengang dan menyesal karena telah menyia-nyiakan aku selama ini. Mas Bram mendekapku erat, mencium keningku, dan membisikkan ayat-ayat suci di telingaku, dan menuntunkan kalimat syahadat.

Hingga akhirnya Hana tertidur untuk selamanya dalam dekapan suaminya untuk terakhir kalinya. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un

#Fakta : Alasan Bram memperlakukan Hana dengan kasar setelah Bram sembuh dari komanya adalah Mamanya yang selalu menceritakan keburukan tentang Hana. Mamanya bilang, selama Bram koma di Rumah Sakit, Hana selalu pergi menghambur-hamburkan uang untuk belanja hal-hal yang tidak penting, dan bahkan Mamanya bilang jika Hana sudah selingkuh dibelakang Bram. Bodohnya, Bram mempercayai semua omong kosong itu, dan menyia-nyiakan istri sholehah seperti Hana.
Wallahu A'lam Bish Showaab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar