Kenapa masih ada saja orang yang menjadi fake-nya orang lain. Kenapa masih ada saja orang yang lebih ingin menjadi orang lain ketimbang dirinya sendiri? Dan kenapa masih ada yang meragukan apakah dia akan diterima oleh sekitarnya jika dia menjadi dirinya sendiri? Come on, Tuhan menciptakan kita masing-masing dengan bentuk, rupa dan bahkan watak yang berbeda. So, kenapa kita berusaha menolaknya? Percayalah, kita memiliki keistimewaan masing-masing. However, lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri daripada dicintai karena menjadi orang lain. We should act like what we want to act, what we want to do. Bodo amat deh apa yang orang katakan tentang kita. Haters gonna hate and lovers gonna love, man ! Mungkin ini kedengarannya emang sok bijak dan sok dewasa gitu, tapi it's okay asal nggak sok nge-judge sih. hehe
Aku punya temen yang deket banget sama aku. Dia bukanlah orang yang bisa selalu welcome sama orang yang belum dia kenal karena dia adalah tipe orang yang lebih baik nggak dikenal sama sekali daripada harus menjadi sorotan mata. Physically, dia cantik tapi badannya gendut chabi gimana gitu deh. Dia nggak pede dengan bentuk badannya sendiri. Awal masuk SMA, dia naksir sama cowok yang menjadi The Most Popular Boy di sekolahnya dia, aku nggak terlalu tahu sih karena memang kami tidak sekolah di tempat yang sama. Tapi sayangnya si cowok itu malah pacaran sama cewek cantik di sekolahnya dia, otomatis temenku ini patah hati sepatah-patahnya deh. Singkat cerita, akhirnya temenku ini memutuskan untuk mengubah penampilannya. Dia mulai rajin ngegym, jogging, renang, pokoknya segala macam olahraga dia jadikan rutinitas hariannya. Dia juga diet dan selalu menjaga makanannya. Aku akui, perjuangannya dia untuk berubah dari the ugly to the beauty itu top banget sampe-sampe dia pernah harus dirawat inap karena terserang penyakit lambung. Berat badannya berangsur-angsur mulai menurun. Awal semester satu di tahun ketiga, temenku berubah 360 derajat. Dia menjadi lebih cantik dari sebelumnya, sangat cantik bahkan. Tepat saat pengumuman kelulusan SMA, mimpinya terkabulkan. Si cowok itu akhirnya menjadi miliknya. Aku bahagia melihat temanku bahagia, terlepas dari penderitaannya selama ini. Tapi selang tiga bulan kemudian mereka putus karena si cowok itu sudah menemukan pengganti temanku yang jauh lebih cantik. Sejak saat itu, temanku tersadar kalau cowok itu hanya mencari keindahan visual saja. Dia menjadikan itu sebagai pelajaran dalam hidupnya. Betapa tidak, perjuangan selama tiga tahun terakhirnya berakhir selama tiga bulan saja. What the hell!
Harus kita ingat, nggak semua laki-laki mencintai kita apa adanya. Tapi bagaimana laki-laki akan mencintai kita apa adanya kalau kita saja tidak apa adanya, kan? Bagaimanapun juga semuanya balik ke kita. Bagaimana pasangan kita akan menerima kita, itu tergantung kita. Don't be afraid to be yourself. Kalau emang orang yang kita cintai tidak balik mencintai kita, let the other people do. Be yourself, because you are more than what they see.
Thanks For Reading

Tidak ada komentar:
Posting Komentar