Rabu, 27 Mei 2015

The Chances We Didn't Take


“Aku akan menyingkirkan siapapun yang akan menghalangi kita untuk bersama. Aku bahkan tak peduli itu hal paling egois yang pernah kulakukan?”

Adakah sebuah pilihan untukku? Untuk hidupku, setidaknya. Tapi untuk apa aku membutuhkan pilihan? Tak perlu, hidupku telah sempurna. Aku mempunyai keluarga yang mencintaiku, sahabat yang menyayangiku, dan lelaki yang tak pernah mengalihkan hati dan pikirannya dariku. Butiran-butiran air hujan membuat jejak di kaca jendela, membekas. Lembayung berwarna keemasan menyembunyikan sinar matahari dari jangkau pandangku. Langit berkabut, tak ada bedanya dengan hatiku saat ini. Aku mencintaimu, dan begitupun kamu mencintaiku. Tapi kita saling membeku. Terlepas dari jarak yang membentang di antara kita, kamulah yang selalu terpikir olehku. 
Kamu adalah lelaki paling sempurna bagiku. Sifat dan sikapmu membuatku meragukan apakah kamu betul-betul manusia atau bukan. Setengah malaikat, kukira. Aku bahkan heran, bagaimana orang sepertiku bisa menyentuh hati malaikat tak bersayap sepertimu, oh mungkin aku sudah melakukan suatu kebaikan. Sangat sulit mendeskripsikan sosokmu, aku belum bisa menemukan kata yang tepat untuk mengatakannya, yang kutahu adalah kamu sangat tahu bagaimana caranya membuatku tetap bahagia. Aku berkata seperti ini bukan karena kamu tak pernah menyakitiku. Kamu pernah mematahkan hati dan harapanku beberapa kali, tapi kamu tak pernah menyerah untuk meyakinkan aku bahwa kamu mampu menjadi yang lebih baik lagi. 
Kamu bukanlah manusia yang mudah dipahami. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai memahami sifatmu. Kamu adalah orang paling keras kepala yang pernah kutemui. 

"Saat kekasihku bicara dengan orang lain itu membuatku gelisah. Seakan terhisap dalam pikiran negatifku sendiri - Asami"

Itulah yang kurasakan, sama seperti tokoh Asami dalam anime 'Sukitte Ii Nayo'. Aku selalu berpikiran negatif, karena memang sulit berpikir jernih ketika kamu tidak sedang bersamaku. Dan sekarang, disinilah kita, saling diam dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Sampai kapan kah kita akan terus begini? Berdiri mematung tanpa perubahan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar