Hijrah. Satu kata yang menyimpan makna tersendiri bagi siapapun yang memutuskan untuk melakukannya. Bukan keputusan kecil, namun perubahan setelahnya membawa hikmah yang sangat besar. Hijrah is mean 'berpindah'. Maksudnya, berpindah menjadi yang lebih baik lagi. Tak ada hidayah yang datang dengan sendirinya. Jangan hanya menunggu hidayah, bangun dan jemputlah ia. Keputusanku untuk berhijrah tidak hanya membuat mereka terkejut. Bahkan aku sendiri pun setengah tak percaya dengan keputusan yang kuambil.
Agamaku telah sempurna, kenapa aku tidak? Kenapa aku berusaha mengabaikannya? Waktu demi waktu terbuang sia-sia selama 19 tahun aku hidup. Aku tak ingin seperti itu lagi. I have to be better. I have no time to wait for anything. I'm a moeslim, why can't I act like any other moeslims? Yes, I know. I'm so pathetic. Terlebih usiaku yang sudah banyak, kenapa aku belum bisa menata hatiku?
Allah tak pernah meninggalkanku, lantas kenapa aku tak mendekati-Nya? Allah tak pernah melupakanku, lalu kenapa aku mengabaikan panggilan-Nya? Allah selalu mengabulkan do'a ku, memenuhi kebutuhanku, tanpa peduli berapa banyak dosa yang kulakukan. Entah aku harus terharu atau malu. Bahkan sejuta tahun aku menangis dan memohon ampun mungkin belum bisa menebus dosaku selama ini. Aku benar-benar tak tahu malu. Masih saja aku melakukan dosa tanpa takut Allah marah kepadaku. Aku benar-benar tak tahu malu. Masih saja meminta tanpa bersyukur. Aku benar-benar tak tahu malu. Masih saja mengeluh tanpa benar-benar berusaha. Aku benar-benar tak tahu malu. Mengumbar aurat di mana-mana, tanpa ingat Allah selalu melihatku. Aku benar-benar tak tahu malu.
Pernah di suatu titik aku benar-benar ingin mengakhiri hidupku, itu adalah masa-masa terberatku. Aku benar-benar menyerah dan aku merasakan jalan buntu di depanku. Siapa aku sih sampai-sampai berpikir seperti itu? Aku terlalu berani menganggap hidupku tak ada artinya. Aku terlalu sering menkufurkan nikmat Allah. Banyak di luar sana menginginkan hidup dengan berjuang mati-matian, dan aku ingin mengakhiri hidup hanya karena masalah sekecil debu? Pengecut! Ya, aku adalah pengecut. Tak berani membuka mata untuk melihat ke depan. Allah memberiku hidup tanpa bayar, dan aku mengelu? Aku benar-benar tak tahu malu.
Aku pernah berpikir, "tak masalah tak terlalu menutup aurat yang penting tidak melakukan dosa besar seperti zina, ya kan?" Bodoh! Kenapa aku berpikir seperti itu? Di mana otakku? Aku mencintai ayahku lebih dari apapun, tapi kenapa aku masih saja mendekatkan ayahku ke api neraka? It was my biggest mistake.
"Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup auratnya, maka selangkah pula ayahnya mendekati api neraka."
Aku benar-benar tak tahu malu. Mudah saja berkata, "I love you, Dad." Tapi masih saja mengumbar aurat di sana-sini. Memalukan.
Wanita berhijab belum tentu baik, tapi wanita baik sudah pasti berhijab. Insya Allah.
Ketahuilah, saudari-saudariku, seorang ayah tak ingin mobil mewah/rumah mewah dan mungkin harta bergelimang dari kita. Cukup jangan dekatkan beliau dengan api neraka, cukup ringankan hisabnya kelak di akhirat. Love your dad and Let's cover ourselves. Tutuplah auratmu dengan hijab, sebelum kain kafan yang menutupnya. Jangan mengulur-ulur waktu, siapa yang tahu kapan kita akan mati. Maaf, bukan sok ceramah, sekedar mengingatkan sesama muslim, sebelum terlambat.
Semoga bermanfaat 😊

Tidak ada komentar:
Posting Komentar