Hari itu adalah hari di mana aku mulai merasakan ada keretakan dalam hubungan kita. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Hari-hari berikutnya, aku masih merasakan hal itu dan bahkan lebih parah. Malam itu, puncak dari amarahku. Aku tenggelam dalam luka hatiku sendiri. Aku hanyut dalam air mata yang selama ini hanya menggenang di pelupuk mataku. Kurasakan hatiku telah tercabik-cabik olehnya. Mulai saat itu, logika ku mengambil alih tubuhku. Aku mulai berpikir, untuk apa bertahan sejauh ini? Kenapa aku tak punya alasan untuk berhenti? Selama ini cinta telah membunuh logikaku. Cinta membuatku seakan aku adalah manusia tanpa logika, tanpa otak!!! Toh selama ini aku hanya bisa menunggu. Dan sekarang aku tahu, tak ada lagi yang membuatku harus menunggu. Aku bisa berhenti sekarang. Ya, berhenti mengharapkanmu.
Sudahlah. Aku merasa tak dihargai lagi, jadi untuk apa bertahan? Untuk tetap terluka? Ah, bodoh!!! Sering kali kau menyakitiku, pernahkah aku meninggalkanmu? Mungkin aku pernah menyerah, itu hanya karena aku ingin membuatmu sadar akan kesalahanmu. Tapi apa kau pernah merubah sedikit keburukanmu itu? Tidak! Berkali-kali kubilang, lihat dengan siapa dan kapan kau berbicara. Tak semua orang bisa menerima apa yang kau katakan. Kau tak pernah tahu apakah mereka tersakiti atau tidak, bukan?
Ah. Capek. Biarlah. Ini. Berlalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar