Minggu, 07 Desember 2014

Agen Islam yang baik

Banyak sekali rencana dalam hidupku yang belum terwujud. Aku ingin menjadi agen  Islam yang baik, yang mampu menatap bukan hanya dengan satu sudut pandang saja. Ketika kita dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang sulit, kita pasti mengeluh. Itu sudah menjadi kewajaran. Tapi aku ingin melihat persoalan sebagai tantangan tersendiri. Bukankah kita harus menghadapi beberapa soal ujian untuk naik kelas? Nah begitulah hidup. Jika ingin menjadi manusia yang lebih bermutu, harusnya mampu menyelesaikan persoalan serumit apapun itu. Kita punya otak untuk berpikir, kaki untuk berjalan, tangan untuk bergerak, hati untuk yakin dan ikhlas, mulut untuk berdoa, dan Tuhan yang akan menuntun kita. Awalnya aku hanya ingin melakukan travelling untuk bersenang-senang dan mencari pengalaman saja. Tapi sekarang, aku menyadari masih banyak sejarah Islam di dunia yang harus kutelusuri dengan pijakan kakiku sendiri. Aku ingin suatu saat nanti, bersama suamiku, aku bias menapaki jejak Islam di belahan bumi yang lain, wilayah Timur dan Barat. Pertama, aku ingin menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kebesaran Tuhanku yang menciptakan langit, bumi dan seisinya. Aku ingin melaksanakan rukun islam yang kelima, Al-Hajj. Aku ingin mencium Ka’bah, merasakan khidmahnya wukuf di sana. Aku ingin berziarah ke makam Rasulullah atau yang disebut dengan Raudlah, dan mengunjungi Makam Ibrahim. Tak hanya itu, aku ingin melaksanakan shalat jamaah di Masjidil Haram dan juga Masjid Nabawi. Aku sangat berharap suatu saat nanti Allah mengizinkan aku dan suamiku mengunjungi tempat-tempat bersejarah Islam yang lain.

Dari dulu, aku ingin ke Perancis, tepatnya ke Paris. Awalnya aku hanya ingin melihat keindahan Menara Eifel, sebelum aku tahu bahwa Paris juga menyimpan sejarah Islam. Kabarnya, Kaisar pertama Perancis, Napoleon Bonaparte, adalah seorang Muslim. Sebagai seorang Muslim tentunya ini membuatku ingin tahu lebih. Tidak mudah untuk menjadi agen Muslim yang baik, tapi itu bukan berarti ‘Mustahil’ kan? Ketika aku mengutarakan maksudku untuk ‘travelling around the world’, ada seseorang teman yang menanggapinya dengan serius. Dia bertanya kepadaku apakah tidak sulit jika kita ingin bepergian ke luar negeri, sedangkan status kita adalah Muslim. Apakah itu tidak menghambat ketika kita bersinggah di Negara-negara yang anti-muslim, seperti Amerika misalnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Memang belum kubuktikan secara langsung. Tapi aku yakin, status Muslim tidak akan menghambat kita dalam menggapai keinginan. Kurasa kita hanya ‘harus’ menjadi agen Muslim yang baik. Harusnya kita mampu membuktikan kepada mereka bahwa kita bukanlah Teroris. “I Am Moeslim but I Am Not Terroris, Don’t Hate Me!” itulah yang membuatku yakin bahwa kita mampu bertahan di kalangan anti-muslim jika kita mampu menjadi agen muslim yang baik.
Aku ingin orang-orang non-muslim, setidaknya, mencintai muslim bukan malah menjauhi dan membenci. Aku sendiri memiliki tetangga non-muslim, awalnya dia tidak bisa hidup dengan lingkungan muslim. Tetapi, karena kami memperlakukannya dengan sangat baik, akhirnya dia merasa nyaman dan tak pernah berpikir bahwa muslim adalah sebuah ancaman.
Aku memiliki seorang teman dan dia adalah seorang Atheis, katakanlah namanya si A. Dia tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Tapi aku tahu dia masih dalam perjalanan menemukan Tuhannya, karena dia adalah seorang yang kritis dan selalu ingin tahu. Dia sangat penasaran dengan Islam. Dia pernah berkata, “Agama Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, apapun itu, memiliki Tuhan yang jelas (terlihat). Tapi kenapa Islam tetap berkeyakinan bahwa Tuhan mereka ada padahal mereka tak mengetahui di mana keberadaanNya dan bagaimana wujudNya.” Salah seorang temanku yang muslim, katakanlah namanya si B menjawab dengan sangat bagus. “Apakah kau percaya dengan adanya udara?” si A menjawab “Ya, tentu. Buktinya kita bisa bernapas.” Si B tersenyum dan bertanya lagi. “Apakah kau tahu bagaimana wujud udara?” si A menggeleng. “Itulah jawabannya. Kau tak pernah bisa melihat wujud udara, tapi kau tetap percaya udara itu ada. Karena kau merasakannya. Begitulah muslim. Kami yakin dan merasakan keberadaan Allah di dalam hati kami.” Betapa besarnya rasa ingin tahuku akan sejarah peradaban Islam di dunia ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar